Selasa, 06 Maret 2012

Jalan Kita Sedikit Berlubang

"Mohon Tidak Membuang Sampah Di Area Taman"

lalu ibu yang sedang merokok itu berdecak tidak puas. dia harus berjalan sedikit lebih jauh rupanya.

rumah sakit ini memang begitu. semuanya diatur dan semuanya teratur.

berapa jauh lagi sampai tempat sampah jingga itu? sepuluh meter? lima belas?

abu rokoknya sudah panjang namun belum jatuh. tangannya diposisikan horizontal.

ibu itu berdecak sekali lagi. matanya jengkel luar biasa.

akhirnya dia memutuskan untuk mendekati tempat sampah jingga itu. hanya dua belas meter dari tempat dia berdiri tadi rupanya.

plung, dibuanglah puntung rokoknya. hanya rokok putih biasa. tanpa cengkih dan rempah lain. khas - katanya - Amerika.

sang ibu segera mengeluarkan batang lainnya dari bungkus merah putih, tergesa.

sepertinya dia tidak akan beranjak. waktunya lebih berharga daripada berjalan membuang puntung rokok.

pemantiknya klasik dari perak. terukir juga tanggal pernikahannya. 24 Desember 1974.

bunyi "kling" terdengar lirih saat dia membuka tutup pemantiknya. sumbu tak kunjung menyala.

ibu itu berdecak lagi. rokoknya sudah menggantung di bibirnya. gabus penyaringnya pun sudah setengah basah. api? belum ada.

ada beberapa kali pengulangan. ibu jari kanannya sudah sedikit menghitam karena abu dan arang. belum juga tersulut rokoknya.

sampai akhirnya muncullah sang api. wajah ibu itu terlihat puas.

belum selesai hisapan pertama, pintu bangsal terbuka. perhatiannya teralihkan oleh sosok pria yang melangkah ke luar.

sang ibu sejenak tertegun. lalu rokok yang masih panjang itu dimatikan di tempat sampah jingga. 

langkahnya menjauh seiring dengan bara api yang perlahan padam.

"bagaimana?" tanyanya. suaranya sedikit tertahan.

"kanker. sudah menjalar rupanya" jawab pria yang baru keluar dari bangsal.

sang ibu menghela napas. menunduk. lalu dia menengadah, kembali menatap sang pria tepat pada matanya. tersenyum simpul.

"ayo pulang. aku sudah meminta Sulastri memasakkan ayam goreng mentega kesukaanmu. Johan juga sebentar lagi pulang" ujar sang ibu.

digandenglah tangan sang pria. lalu mereka berjalan menuju parkiran. langkah mereka pelan dan penuh keraguan.

langkah mereka terhenti sebentar di samping tempat sampah jingga. sang ibu merogoh kantong celananya. bungkus rokoknya masih ada.

bungkus rokok yang masih berat itu dikeluarkan dari kantongnya lalu dimasukkan ke tempat sampah jingga itu.

dan mereka meneruskan langkah mereka. tempat parkir mobil lebih terasa jauhnya daripada siang tadi. 

      
sebelumnya sudah diposkan di akun twitter saya, @luthfinggihmas, dengan hashtag #jalan

2 maret 2012 lalu
                    

Sabtu, 03 Maret 2012

Kopi Pak Kumis Masih Hangat

"kopi, kopi, teh hangat, jahe wangi", begitulah bapak berkumis itu berseru.

sambil terus berjalan gontai, menghindari tubuh-tubuh yang malang-melintang diserang lelah.

sesekali harap muncul di sinar matanya. "kopi pak?" sambil menyodorkan bungkus kopi lokal yang menggantung di termosnya.

ah, rupanya hanya bertemu pandang. tidak berujung uang. bapak berkumis itu menghela napas. lalu kembali menyusur gerbong.

gerbong berikutnya bertepatan dengan stasiun Purwokerto. mendadak saja cemas merangkak ke air muka sang bapak berkumis.

perhentian berarti pergantian. akan ada lagi legiun baru kopi panas dan jahe wangi yang naik ke rangkaian gerbong. 

langkah sang bapak berkumis semakin cepat. "kopi panas, teh hangat jahe wangi..." seruannya mengeras seadanya.

gerbong berikutnya. bapak berkumis berpapasan dengan pemuda berbaju band lokal. sama rata dengan termos dan kopi.

bapak berkumis mengangguk pelan dan tersenyum. namun sepertinya si pemuda berbaju band lokal tersebut tidak menyambutnya.

saling lewat tanpa sapa, terjadi begitu saja. pemuda ke gerbong tiga, bapak berkumis ke gerbong satu.  

mereka sudah semakin jauh. suara sang pemuda masih terdengar, walaupun sayup, di tengah riuh-rendah suasana. 

pita suara dikalahkan usia? mungkin. yang jelas bapak berkumis merasa yang menang adalah suasana.

klakson kereta sudah berbunyi nyaring. saatnya bapak berkumis turun dari singgasana. napas kembali terhela.

"kopinya pak. yang hangat-hangat" seruan terakhir dikeluarkan dengan sisa semangat. ah, tetap tidak terbalaskan.

mungkin memang hari ini bapak berkumis harus mengalah. dia lalu turun pelan-pelan dari gerbong.
   

"piye?" sambut temannya dengan tanya. sesama penjaja kopi juga rupanya. tapi yang ini tidak berkumis.

bapak berkumis hanya tersenyum. di belakangnya sang ular besi sudah mulai merangkak lagi menuju yogyakarta.

"sesuk luwih akeh sing tuku" jawab bapak berkumis kepada temannya yang tidak berkumis.

lalu mereka tertawa pelan namun ikhlas. tawa mereka terdengar manis di tengah hiruk-pikuk stasiun Purwokerto pagi itu.


yogyakarta, 1 Maret 2012
sebelumnya diposkan di twitter dengan akun @luthfinggihmas
hashtag #kereta

 
     

Selasa, 07 Februari 2012

Mimpi Angkasa Dan Surat Dari Bulan

KERTAS adalah putih dengan bercak bulat sempurna di bagian pinggirnya. bercak sewarna endapan kopi. itu pasti kopi. tidak ada pensil untuk mulai menulis, atau menggambar. semesta telah menggantung di depan mata, padahal. menengok perlahan ke kalender meja. simpel. merah dengan beberapa foto hasil teleskop Hubble. sekarang tanggal 23 Februari. tinggal beberapa hari lagi sebelum aku berangkat. 29 Februari. sudah ada lingkaran biru di tanggal itu. 


Aku akan pergi ke Mars.


mimpi manusia yang tertinggal di bulan, 1969, akan tertutup oleh langkahku. dunia akan bangun dari tidurnya. sekarang manusia sudah bisa bermimpi di bulan. 75 tahun terlewat setelah langkah kecil Armstrong. 


yang tentunya adalah langkah besar bagi kemanusiaan.


dari mereka yang tertidur di bulan, dengan segala udara dan gravitasi artifisialnya, mimpi untuk melangkah lagi semakin besar. aku salah satunya. duduk di depan meja kerja dengan secarik kertas kosong bernoda gelas kopi. 


tanggal 23 februari pukul delapan lebih lima menit, waktu Mare Tranquilitatis. Koloni Goddard. Bulan.


aku bangga, sebenarnya. menjadi orang yang dipercaya mewakili langkah manusia menuju semesta. walaupun berbeda ribuan kilometer antara aku di sini dan mereka di "titik biru pucat" itu, langkah kami tetaplah sama. satu kaki menjejak ke depan kaki lainnya. menunggu kejutan semesta dengan debaran jantung tidak karuan. 


Aku, meja kerja, kertas, noda kopi, kalender meja, 23 Februari, bulan.


sejenak terpikirkan: apa kabarnya mereka di sana? bagaimana lautan dan pantai yang menghampar di selatan Yogyakarta? bagaimana rasanya menghirup udara alami dari atmosfir yang bukan hasil kerja manusia? bagaimana rasanya menjejak kaki di tanah tanpa bantuan gravitasi rasa mesin? apa masih sama rasanya berbaring di tanah dan memandang bintang, seperti 24 tahun yang lalu? aku ingat rasanya, waktu aku sekolah dulu sering aku menyelinap ke luar pada malam hari. saat semua sudah tidur. pergi ke kawasan Candi Abang, masih di dekat Prambanan. lalu aku berbaring seadanya di rerumputan, memandang lautan bintang yang terasa jauh. jauh sekali. jarak yang harus kutempuh dan kubayar untuk bisa melewatinya. lalu aku pulang sebelum terang. sebelum semua orang rumah terbangun dan kembali beraktivitas. 


Sekarang aku ada di permukaan bulan. melihat lautan bintang yang sama. hanya saja ditambah "titik biru pucat" yang besar sekali.


namun apa yang kurasa? jarak itu tetap ada. tetap tidak terbatas. walaupun aku telah meninggalkan Candi Abang sejauh ribuan kilometer ke atas. aku tetap merasakan jarak tak terhingga. jika aku sampai Mars nanti, apakah jarakku dengan lautan tersebut akan berkurang? aku, yang ingin segera sampai di lautan itu, apakah akan puas dengan jarak yang akan terpotong nantinya? walau nantinya akan ada koloni baru di Mars dan siap melangkah lagi, apakah jaraknya akan semakin habis? 


Merenung. terdiam. kertasku masih kosong. kertas kosong tanpa ada apa-apa. melambangkan semesta yang maha luas. aku tersesat di dalamnya. 


ah, aku tahu apa yang akan aku tulis di kertas ini.


aku akan menulis tentang rencanaku sepulangnya dari Mars nanti. yah, masih delapan tahun lagi, sih.


tapi tidak apa-apa. toh jarakku dengan lautan utopia tersebut tidak kemana-mana kan?


setelah pulang nanti, aku akan mengajakmu berjalan-jalan keliling bumi dan bulan. setelah itu mungkin aku akan melamarmu. tidak. aku akan melamarmu. bukan mungkin melamarmu. lalu kita akan mempunyai rumah sederhana dan anak-anak yang sempurna. 


dan aku akan mengajak kalian liburan ke laut. lautan bintang yang luas.


memang, jarak antara aku dan lautan itu sangat jauh. tidak bisa dibayangkan. tapi nanti kita akan pergi bersama-sama. dengan anak-anak kita juga. 


mungkin kamu akan bingung dan bertanya kenapa aku berangan-angan seperti itu.


sederhana. Semesta ini terlalu luas jika aku harus berjalan sendiri saja.




-Jakarta, 8 Februari 2012-
05:35 pagi. sebelumnya dibuat di akun twitter saya (@luthfinggihmas) dengan hashtag #angkasa

Minggu, 15 Januari 2012

Angkasa Luas Namun Terlalu Sempit

Terbanglah menuju Matahari, anakku. bawa semua harapmu bersamamu. Dengan pesawat ulang-alik berwarna putih bersih dan aksen garis hitam yang menandakan kecepatan tiada tanding. Bukankah jarak bertekuk lutut di hadapanmu? harap dan egomu lebih tinggi lompatannya daripada tembok bernama "jarak" itu. Segala stratosfer, ionosfer, eksosfer, ah. semuanya hanyalah lembara kertas yang bisa dengan mudah kau tembus. Karena kau lebih tajam dari sinar Gamma. Lihatlah. Sebelum kau selesai menghitung mundur dari sepuluh kau sudah mencapai jalur orbit bulan. 

Sembilan, kau menyentuh sabuk asteroid antara Mars dan Jupiter.
Delapan, Uranus sudah berada di garis cakrawalamu, siap untuk dilewati.
Tujuh, apakah itu Pluto? sudah berapa tahun setelah dia dikeluarkan dari perkumpulan planet pengeliling Matahari?
Enam, selubung solar sudah hampir tidak kau rasakan. panas matahari tidak menjamah kulitmu.
Lima, kapal Voyager baru saja kau lewati. Di sana benar-benar ada komposisi dari Johann Sebastian Bach, entah simfoni nomor berapa.
Empat, kau harus bergeser beberapa parsec ke kiri agar tidak tersedot lubang hitam itu.
Tiga, bintang itu sudah mati menjadi kurcaci putih. beratnya beribu kali Matahari tapi ukurannya lebih kecil dari pesawatmu.
Dua, Quasar dan Nebula banyak berserakan. kau adalah entitas selain tuhan yang menyaksikannya.
Satu, saatnya kau beristirahat dalam kantung tidur temperatur rendah. hibernas manusia menuju semesta lainnya.
Nol.

Kau masih tertidur dalam kapsul tidurmu. Kapan kau akan keluar? Akankah kau mencapai bumi lainnya saat kau terbangun nanti? Atau mungkin akhirnya matamu terbuka saat kapalmu menubruk permukaan planet baru, dengan tanah dan airnya sendiri?

Ah, tidak penting juga aku bertanya-tanya seperti itu.


Begitu kau sampai dan membuka mata, aku akan melakukan hal yang biasa aku lakukan: Tersenyum dan mengucapkan beberapa kata.

Sederhana saja. Seperti "Selamat pagi, jagoanku. Boleh ibu tahu sudah sampai mana perjalanan angkasamu malam tadi?"




- diambil dari cerita dengan hashtag #langit yang diambil dari akun twitter pribadi saya. @luthfinggihmas -
Yogyakarta, 16 Januari 2012
Beberapa bulan sebelum "Kiamat"

Senin, 12 Desember 2011

Lack of Light

we are free. we are kids. we are young. we are restless. we are unstoppable. we are one. we are many.

and we are out of control.