Anak-Anak kecil bertarung sepanjang garis. Tak terlihat, ya, memang garisnya tak terlihat. Tarung dan kejar. Menarik lengan lawan, singsing lengan baju, selengkat sana selengkat sini, keras tanah merah tanpa hujan, gila. Lalu jerit sakit bercampur dengan semangat. Semua kompak: "Aku lebih dulu!" "Aku lebih pantas!"
(mungkin) mereka terjerat dalam temali berkelindan persaingan. Masih sangat muda pula.
Yah, siapa yang mau kalah, bukan. Tidak ada yang mau tertinggal sendiri di dunia ini. Satu-Satu mereka berjatuhan dan keluar dari garis. Mengaduh, kasihan. Lutut mereka lecet-lecet. Beberapa malah berdarah. Ada yang menyesal bersamaan dengan tubuhnya terjerembab ke tanah: Kenapa? Beberapa lagi menjadi lelah. Mata berkaca dan bulir-bulir jatuhlah. Tangis. Menangisi karena apa yang ditangisi tidak lagi terlihat. Kasihan. Ayo cepat pulang.
Yang tersisa masih meronta. Yang bertahan masih bersaingan. Langit mejadi lembayung menandakan jarak yang mereka tempuh telah lebih jauh dari lapangan ke rumah mereka. Menuju kejayaan, menuju supremasi. Siapa yang giat dialah yang mendapat. Aku harus menang, mereka harus tumbang. Melewati beberapa rumah lagi tanpa sadar kaki mereka sudah gemetaran. Sayup terdengar seruan: "Hati-Hati tersandung." Ah, tidak peduli. Garis yang memandu mereka masih terlihat walaupun sesekali kabur. Itu tandanya mereka harus tetap berlari.
Mereka harus tetap menarik lengan satu sama lain. Menjegal langkah kaki lainnya. Sambil mungkin terus menatap ke depan. Masa muda milik mereka. Lebih dari sekedar layang-layang: Mereka mengejar cita-cita.
Yogyakarta, 28 Juli 2012
01.45 pagi. Teh Lemon Dingin
Diambil dari akun Twitter @luthfinggihmas
Judulnya di sana: Masa Muda Mereka Ada Di Langit
Tampilkan postingan dengan label life. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label life. Tampilkan semua postingan
Jumat, 27 Juli 2012
Minggu, 20 November 2011
Malu
"adakah yang ingin berlayar lagi?" tanya sang ayah kepada dua anaknya yang baru saja mendengarkan ceritanya dengan diam dan mata terbelalak. ingin tahu dan senang, juga penasaran. bukanlah terbelalak karena ketakutan atau terkejut. bagaimana mereka bisa terkejut dan ketakutan kalau yang diceritakan adalah sebuah petualangan seru ke dunia khayal yang tidak terjangkau oleh lima indera mereka? ayah mereka memang seorang yang istimewa. apa yang diceritakannya selalu bernafas dan bergerak di depan mata dua anaknya. berbisik lalu berteriak untuk lubang telinganya. mengelus lembut lalu sesekali menampar kulit muda mereka. semuanya ada dan semuanya nyata, lagi tidak terjangkau. benar-benar ajaib.
sang ayah hanya bercerita tentang seorang yang berlayar meninggalkan rumahnya untuk mencari pengalaman. berbekal nasi kepal dan air putih secukupnya. rakitnya pun hanya dari beberapa batang kayu yang disusun asal-asalan, lebih mirip ikatan kayu bakar daripada rakit sederhana. tapi toh itu bisa mengapung. setidaknya membawanya selangkah menuju dunia yang lebih luas. selangkah menuju keberadaan yang lebih sempit.
berlayar dan berlayar, semakin jauh dari daratan menuju daratan lain yang semakin mendekat. rakitnya masih bertahan dan semakin kuat seiring dengan ombak yang setia menghajarnya. beberapa monster laut: naga, ikan, leviathan, cumi-cumi raksasa sampai gorilla setengah ular beberapa kali menghalangi pelayarannya. namun dengan kekuatan dan keteguhan dia bisa menghadapinya. segalanya menjadi catatan manis keberhasilan dalam perjalanan. semakin dekatlah dia dengan tanah tujuannya. tanah emas dan masa muda abadi.
sampai akhirnya dia sampai di tanah emas itu. segalanya berkilau sampai ujung cakrawala. emas tanpa akhir. masa muda tanpa akhir.
di mana sang ayah sedang berada di ambang perceraian.
lalu sang ayah menangis.
"dia seharusnya malu"
Yogyakarta, 21 November 2011
1.59 pagi
tanpa rokok dan teh dingin
semua senang
Sabtu, 13 Agustus 2011
Apa Artinya? Apa Gairahnya?
Aku, kamu, lautan luas menghampar
Oposisi dekat interupsi batas garis pandang
udara kita adalah huruf dan frase
frase membentuk kalimat,
kalimat membangun cerita
Terkungkung dalam sergapan bebas (dan) luas
Bergerak seliar arus setengang sungai
Aku, kamu, lautan luas menghampar
Barisan manifestasi nafsu dan ilmu tidak mampu,
Tidak mampu? tidak mau
kita berkawan mati dan agitasi. Tanpa apresiasi.
sisa - sisa kejayaan komoditas kolonial tetap setia mengawal
Namun,
Namun,
Namun !
Aku, kamu, lautan luas menghampar
Ah, Aku tenggelam, kau pun ikut melepas genggaman
senyum berbusana janggal dan tatapan sedalam samudra
nasib kita serupa dengan sang binatang jalang.
"kita semua mampus dikoyak sepi"
-Togamas Urip Sumoharjo, YK-
13/8/2011 20:24 WIB
Double espresso & Djarum 76
setengah terlupa
Selasa, 10 Mei 2011
cerpen - Kereta malam
*****
Jam tanganku berdetak sedikit lebih cepat dari jantungku. Setidaknya itulah yang aku rasakan. Sekarang jam dua pagi lebih tujuh menit waktu Jawa Tengah. Waktu baru berlalu 17 menit sejak terakhir kali aku menengok jam tanganku. Seluruh duniaku seakan berputar di sekitar jam tanganku itu. Sebuah jam tangan logam. Usang. Stainless steel, water resistant 10 ATM, Swiss made, entah apa lagi yang tertulis di jam itu. Hanya sebuah jam tangan biasa. Bahkan aku yakin ada lebih dari 20 orang yang memakai jam yang sama denganku dalam kereta ini. Tetapi seberapa umum dan biasa jam ini, perhatianku tidak bisa berlari jauh darinya. Dialah satu-satunya hiburanku. Beberapa kali pikiranku berbisik seperti itu.
Bicara tentang hiburan, sebenarnya banyak sekali hal yang bisa kujadikan hiburan –setidaknya kusaksikan sebagai hiburan – di kereta ini. Penjual kopi sachet dan mie gelas sudah ratusan kali berlalu-lalang melewati kursiku (nomor 20 E, gerbong 4. Entah mengapa aku mengingatnya). Petugas kereta juga sudah menghampiriku dua kali. Melubangi karcis yang sudah lusuh. Aku dulu pernah berharap ingin menjadi petugas kereta hanya karena melubangi karcis terlihat amat sangat keren dan digdaya. Dengan memakai seragam PJKA (Perusahaan Jaringan Kereta Api – red) dan topi yang serupa dengan topi aparat yang setia melindungi dan melayani, aku merasa seperti membawahi ribuan jiwa yang berada dalam kereta. Mimpi itu berhenti setelah kenyataan bahwa harus bolak-balik berkeliling 10 gerbong setiap hari selama hidupku menamparku dengan sangat keras. Yah, tetapi memori masa kecil dan budak ekonomi modern tetap tidak bisa menjadi hiburan untukku. Yang terperangkap dalam ular besi pembelah tanah Jawa.
Kembali kepada jam tanganku tadi. Ah, ada apa sebenarnya dengan jam tanganku ini sehingga dia bisa menjadi satu-satunya temanku dalam perjalanan? Bentuknya tidak lebih menarik dari telepon seluler yang ada dalam kantongku. Tetap saja aku merasa kehilangan ketika jam itu tidak terlihat (saat kereta memasuki terowongan dan saat lampu dalam gerbong tiba-tiba mati). Aku merasa kesal setiap kali suara detaknya tidak terdengar (saat ada kereta lain bersinggungan). Aku merasa sedikit marah karena perhatianku tidak bisa lepas dari jam tangan tersebut. Hina sekali, seperti pikiranku berkali-kali terkekeh mengejek. Apakah manusia serendah itu sampai pikirannya bisa terpusat pada suatu hal yang tidak penting? Kamu bisa berpikir lebih dari itu, Luthfi! Bangsat. Bahkan pikiranku sendiri berani mengejekku. Dia yang hanya ada dalam kepala dan menjadi bagian diriku, subordinat dari keberadaanku, bahkan mengolok-olok keadaanku. Tapi apa daya? Aku tidak bisa mengingkari bahwa jam tanganku menjadi pusat hidupku dalam perjalanan ini.
*****
Perlahan aku kembali mengangkat tangan kiriku. Sekarang jam empat pagi. Aku masih belum bisa mengalihkan perhatian dari jam laknat itu rupanya. Waktu baru berlalu 53 menit sejak terakhir kali aku melihat jam itu. Sekarang aku sudah sampai di Purwokerto. Speaker di stasiun berceloteh tentang sebuah kereta eksekutif dari Jakarta yang akan melewati stasiun ini. Ini berarti keretaku harus menunggu sekitar 15 menit sebelum diberangkatkan kembali. Yah, sudahlah. Aku kembali menikmati waktu. Pedagang-pedagang berhamburan keluar dari kereta, hanya untuk digantikan dengan pedagang-pedagang baru yang mengantri di luar kereta. Aku melihat sejenak ke arah wajah-wajah di sekitarku. Hampir semua orang tertidur lelap. Sebuah hal yang amat membuatku iri. Mengapa aku tidak pernah bisa tertidur dalam perjalanan? Hal ini lumayan menggangguku. Dengan ketidak-mampuanku untuk menyambut alam mimpi di tengah gonjang-ganjing kereta kusadari sebagai salah satu alasan mengapa aku selalu melihat jam tanganku. Namun itu hanya salah satu. Hanya alasan pendukung. Akupun menyadari bahwa alasan sebenarnya aku selalu melihat jam tanganku ketika melakukan perjalanan dengan kereta malam bukanlah karena aku tidak bisa tertidur. Aku selalu bisa membalas kekurangan tidurku saat aku tiba di tujuan.
Angin malam Purwokerto menyapa melalui jendela kecil yang terbuka di atas kaca gerbong. Tercium sedikit bau tanah yang belum lama terkena hujan – bau petrichor, begitulah bahasa ilmiahnya – dalam hembusan angin tersebut. Bau ini sedikit membangkitkan moodku, mengingat bahwa bau ini adalah bau yang paling kusuka selain bau bensin dan pembersih toilet di rumah. Sejenak aku merasakan ketenangan. Aku berdiri sebentar untuk meluruskan tubuh yang sudah berjam-jam dalam possi duduk. Posisi yang sama dengan patung The Thinker. Bedanya dengan patung tersebut mungkin hanya dalam hasilnya. Jika patung The Thinker menggambarkan orang yang sedang berfilsafat maka aku hanya tampak seperti orang yang bingung. Tentu saja. Jika tokoh yang dijadikan acuan untuk patung tersebut ada di era sekarang, pastilah posisi duduk tersebut menggambarkan kebingungan. Sama seperti yang kurasakan sekarang.
*****
Langit sudah menguning saat aku melihat jam tanganku lagi. Sekarang sudah jam tujuh pas. Sudah tiga jam berlalu sejak terakhir aku melihat jam tanganku. Wajah-wajah disekitarku juga sudah berbeda ekspresinya. Beberapa dari mereka nampak tegang karena sebentar lagi kereta ini akan sampai pada tujuannya, sedangkan yang lain ada yang terlihat sangat bodoh dan polos karena mereka baru saja keluar dari dunia mimpinya. Aku tersenyum simpul – bahkan mungkin terlihat sedikit penasaran – melihat ekspresi mereka yang baru bangun dari tidurnya. Mencoba menebak-nebak apa yang ada dalam mimpi mereka hingga mereka mengeluarkan ekspresi seperti itu. Ah, rasa ingin tahu benar-benar sesuatu yang misterius. Dia bisa membuat hal yang biasa menjadi luar biasa. Aku sendiri pun seharusnya juga mempersiapkan barang-barangku. Stasiun tujuanku juga sebentar lagi akan tersaji di depanku. Namun aku menahan keinginan itu. Memperhatikan rupanya lebih menarik perhatianku.
Aku sudah mencium aroma-aroma perkotaan. Pemandangan di luar pun telah berganti. Semakin banyak bangunan yang kulihat di luar. Sangat berbeda dengan beberapa jam lalu ketika kereta masih melewati hamparan sawah. Setidaknya pemandangannya lebih bervariasi ketimbang tadi. Beberapa menit yang lalu sekelompok pengamen sedikit mewarnai perjalananku. Mereka hanya bertiga – satu gitaris, satu violinis dan satu pemain djembe – namun kemampuan dan kekompakan mereka sedikit membuatku terhenyak. Mereka bernyanyi dengan sangat harmonis. Pembawaan mereka yang sopan juga membuatku tersenyum. Sudah sangat sedikit pengamen seperti mereka. Yang mengedepankan musik dibanding penderitaan dan kehidupan jalanan yang keras. Mengingat pengamen tersebut ternyata menyenangkan. Beberapa kali aku menggumamkan irama dan melodi dari lagu-lagu yang mereka bawakan tadi sambil melihat waktu yang disiarkan oleh jam tanganku.
*****
Aku merasakan kembali tanah Yogyakarta. Jam tanganku menunjuk angka setengah delapan. Yogyakarta masih seperti saat aku meninggalkan kota ini lima hari yang lalu. Masih padat oleh pelajar-pelajar yang berpacu dengan bel masuk sekolah mereka. Terdengar sayup-sayup para supir taksi menjajakan pelayanan mereka di tengah keramaian pintu keluar stasiun ini. Matahari sekarang telah mengeluarkan segala usaha terbaiknya untuk menyinari dunia. Dan matahari jelas sekali sedang berfokus pada pulau Jawa hari ini. Sekali lagi aku melihat jam tanganku. Masih ada waktu untuk mencari sarapan sebelum ke kampus. Aku lalu melangkahkan kaki menjauh dari stasiun. Sudah sangat lama semenjak aku berjalan kaki di tengah kota seperti ini. Biarlah aku sedikit menghirup polusi udara ini. Sudah sepuluh jam lebih aku menghirup udara segar.
Irama jalanan mengiringi langkahku menuju utara Yogyakarta. Selama perjalanan tek henti-hentinya aku menengok jam tanganku. Aku tak tahu sebenarnya apa yang mengejarku. Aku tak tahu apa yang membuatku terus melihat jamku. Apakah aku takut akan terlambat ke kampus? Tidak juga. Acara di kampus masih sekitar empat jam lagi. Aku bahkan masih bisa berjalan bolak-balik kampus-stasiun dua kali dengan sisa waktu seperti itu. Ini benar-benar mengasyikkan. Perasaanku telah berubah terhadap kecenderunganku melihat jam tanganku. Dari kekesalan dan kebingungan menjadi penasaran. Dan di tengah penasaranku itu aku tetap melihat jam tanganku secara berkala.
*****
Sebentar lagi aku akan sampai kos. Warung makan di samping kosku pun sudah terlihat. Beberapa wajah yang kukenal sudah terlihat lalu-lalang di jalan ini. Kakiku mulai terasa pegal setelah berjalan beberapa kilometer di pagi hari ini. Namun pegal ini adalah pegal yang menyenangkan. Aku sudah dekat dengan rumahku. Entah sudah berapa lama aku berjalan. Hal yang aneh bukan? Aku tidak tahu sejak kapan aku tidak lagi melihat jam tanganku. Akhirnya aku menyadari apa yang membuatku selalu melihat jam tangan selama perjalanan tadi. Aku rindu rumahku. Rumah keduaku. Dan waktu yang berlalu menandakan berapa lama rumahku menunggu kedatanganku.
*****
Aku telah berada di kos sekarang. Jam tanganku sudah kuletakkan di samping kasur.
Selamat datang kembali, Luthfi.
- terinspirasi oleh teman saya, yaitu Logika Tanpa Cela, saya akhirnya memeras pikiran untuk membuat cerpen lagi. silakan dinikmati, dipahami, dicoba nilai, dikomentari, maupun dipuji dan dicaci-maki. perhatian anda adalah emas dan respon anda adalah berlian. terima kasih :) -
Minggu, 08 Mei 2011
Alasan Subsistensi Diri
T: Mengapa saya sudah jarang menulis cerpen atau cerita bersambung?
J: Ideas came and went like a blizzard of frogs. Terlalu singkat untuk dirangkul dan disayangi.
J: Ideas came and went like a blizzard of frogs. Terlalu singkat untuk dirangkul dan disayangi.
Sabtu, 05 Maret 2011
Paranoia
Cerita dimulai dengan sepasang kekasih yang menghadapi akhir hubungan cinta mereka. Pertengkaran adalah hal yang lumrah di ujung jurang itu. Segala binatang dan kekejaman manusia di dunia menghambur lewat sepasang mulut anak manusia. hari akhir adalah yang terakhir terlintas dalam pikiran mereka. langit seakan tertawa melihat kenistaan dan keburukan dalam dunia mereka. ya. dunia mereka terpisah dengan dunia lainnya. dan seperti itulah keadaan dalam jagat distopia, setting utama percaturan ini. dunia untuk masing-masing individu. dan kebetulan dunia mereka yang diangkat menjadi cerita,
Peperangan hebat macam Bharatayudha tidaklah memegang tingkat di hadapan dunia mereka. perang negara adikuasa dan digdaya terlihat seperti canda tawa. perkelahian hati di sana-sini, itulah yang menerangi dunia mereka, dua manusia yang berseteru. cinta ada diatas segalanya. caci maki remuk redam keluar hanya karena cinta. da apakah mereka mempertahankan? tidak! seteru dunia justru karena proses pemisahan cinta. masalah menggelembung menjadi tidak manusiawi, padahal mereka terlalu manusia. beradu ide bergulat pikiran hanya karena masalah mereka hidup bersama.
Yah, pertengkaran seperti itu mudahlah kita temui dalam kehidupan kita sehari-hari. bukan hanya mereka, kehidupan kita sebagai manusia pun sebenarnya bisa saja dijadikan contoh. kita semua ada karena dunia kita ada. kita berbeda dengan orang lain karena dunia kita berbeda. maka dari itulah kesempata ini sangat bagus untuk berkaca, memandang jauh ke dalah dunia bolak-balik tanpa jenuh. pandangan mata kita adalah jalur hidup bayangan kita di sisi lain cermin tersebut. dan berapa kali kita bertengkar karena "cinta"? berapa kali kita berjibaku karenanya? tidak terhitung, mungkin. karena kita tidak bisa lepas dari cinta. entah itu cinta akan apa saja. kita manusia bisa memilih, dan akan memilih cinta kita sendiri.
Bagaimana dengan perseteruan dan dansa di ujung neraka karena cinta, seperti yang diceritakan di awal tadi? itu hanyalah pancingan untuk anda sekalian, pembaca. musuh abadi kita adalah cinta itu sendiri. lalu bagaimana dengan peniadaan cinta agar hidup kita tanpa bencana? jika hal tersebut dijadikan patokan, apa guna kita hidup? ingat, pembaca. hidup kita ada karena cinta ada. cinta itu begitu kuat. begitu menggenggam. begitu hakiki.
Dengan begitu, cinta menjadi sumber ketakutan terbesar kita.
Kita hidup dalam ketakutan, pembaca. Jangan pernah keluar dari ketakutan tersebut.
Peperangan hebat macam Bharatayudha tidaklah memegang tingkat di hadapan dunia mereka. perang negara adikuasa dan digdaya terlihat seperti canda tawa. perkelahian hati di sana-sini, itulah yang menerangi dunia mereka, dua manusia yang berseteru. cinta ada diatas segalanya. caci maki remuk redam keluar hanya karena cinta. da apakah mereka mempertahankan? tidak! seteru dunia justru karena proses pemisahan cinta. masalah menggelembung menjadi tidak manusiawi, padahal mereka terlalu manusia. beradu ide bergulat pikiran hanya karena masalah mereka hidup bersama.
Yah, pertengkaran seperti itu mudahlah kita temui dalam kehidupan kita sehari-hari. bukan hanya mereka, kehidupan kita sebagai manusia pun sebenarnya bisa saja dijadikan contoh. kita semua ada karena dunia kita ada. kita berbeda dengan orang lain karena dunia kita berbeda. maka dari itulah kesempata ini sangat bagus untuk berkaca, memandang jauh ke dalah dunia bolak-balik tanpa jenuh. pandangan mata kita adalah jalur hidup bayangan kita di sisi lain cermin tersebut. dan berapa kali kita bertengkar karena "cinta"? berapa kali kita berjibaku karenanya? tidak terhitung, mungkin. karena kita tidak bisa lepas dari cinta. entah itu cinta akan apa saja. kita manusia bisa memilih, dan akan memilih cinta kita sendiri.
Bagaimana dengan perseteruan dan dansa di ujung neraka karena cinta, seperti yang diceritakan di awal tadi? itu hanyalah pancingan untuk anda sekalian, pembaca. musuh abadi kita adalah cinta itu sendiri. lalu bagaimana dengan peniadaan cinta agar hidup kita tanpa bencana? jika hal tersebut dijadikan patokan, apa guna kita hidup? ingat, pembaca. hidup kita ada karena cinta ada. cinta itu begitu kuat. begitu menggenggam. begitu hakiki.
Dengan begitu, cinta menjadi sumber ketakutan terbesar kita.
Kita hidup dalam ketakutan, pembaca. Jangan pernah keluar dari ketakutan tersebut.
Senin, 21 Februari 2011
The owl and the night sky with no clouds
Chirping sounds of the cicadas howling through the gusting wind. Cold and damp like bottom of a well. Here's the lonely owl, sitting in silence on a branch of a willow tree. There are so many branches on that tree but why do it sit on that branch, we'll never know. The cold wind don't affect the owl. Sitting still on that branch, eyes wide open.
Looking straight to the street lights afar.
Imagine if the owl wasn't there.
Not a problem for you, but it surely bugs the hell out of me.
Looking straight to the street lights afar.
Imagine if the owl wasn't there.
Not a problem for you, but it surely bugs the hell out of me.
Minggu, 16 Januari 2011
Garis Batas
Saya adalah awal dari segalanya. Saya ada sebelum anda ada. Saya ada sebelum semuanya. Mungkin saja ada yang datang lebih dulu dari saya di sini. Tetapi saya ada sebelum mereka ada. Mereka hanya lebih dulu datang ke sini.
Saya adalah angin. Saya adalah air. Saya adalah api. Saya adalah tanah. Saya adalah cahaya. Saya adalah kegelapan. Saya adalah semua yang anda semua dapat bayangkan. Sangat luaslah sekiranya jika berniat mengidentifikasi saya secara jelas. Desentralisasi pikiran anda semua telah membuat hal itu, pendefinisian, menjadi tidak mungkin. Tidaklah sopan jika saya harus mengatakan bahwa anda harus merajut-rajut benang ide anda untuk sampai pada penjelasan tentang saya.
Saya adalah hutang umat manusia. Saya adalah piutang umat manusia. Jika dilihat dari buku yang bersinar, yang turun dari atas anda, Adam dan Hawa memberikan hutang tak tertebus, membuka mata anda semua tentang wacana-wacana non-surgawi yang relatif lebih njelimet dan menuntut ekskavasi imaji lebih intens. Ya. Manusia bukan surga. Manusia juga bukan dunia, karena manusia menjadi dunia karena ada hutang yang dipikulnya.
Saya adalah hutang manusia.
Saya berangkat dari nol, untuk akhirnya kembali ke nol sebagai pemenang. Siapa yang kalah kalu begitu? Saya yang kalah. Kenapa saya kalah? Karena saya adalah hutang manusia sekaligus piutang manusia. Hutang dan piutang manusia berbanding lurus. Seimbang. Jauh lebih seimbang daripada semua opsi-opsi ketuhanan yang ditawarkan oleh sang bercahaya, yang tentu saja bukan saya. Karena saya adalah awal, saya adalah akhir, saya adalah segalanya.
Jacques Lacan telah mencelupkan sedikit ujung jarinya ke dalam kuali kehidupan berisi penuh dengan narsisisme yang panas dan pekat. Anda, Manusia-lah yang kemudian mengaduk dan mencampur sampai rata. Anda semua, manusia semua bercermin dan dunia terpantul ke bola mata anda, langsung menuju otak yang terdalam. Sedangkan saya? Saya adalah apa yang ada di seberang pintu setebal kurang lebih 5mm tersebut. Dimensi? itu terlalu tuhan. Manusia tidak bisa terlalu tuhan. Apakah saya bisa menjadi terlalu tuhan kalau begitu? Tidak juga. tidak ada gunanya menjadi terlalu tuhan. Apalagi menjadi terlalu manusia.
Seberapa tebal garis batas "Saya" dengan "Anda"?
Setipis kertas, namun jauh lebih tebal dari kehidupan.
Saya adalah angin. Saya adalah air. Saya adalah api. Saya adalah tanah. Saya adalah cahaya. Saya adalah kegelapan. Saya adalah semua yang anda semua dapat bayangkan. Sangat luaslah sekiranya jika berniat mengidentifikasi saya secara jelas. Desentralisasi pikiran anda semua telah membuat hal itu, pendefinisian, menjadi tidak mungkin. Tidaklah sopan jika saya harus mengatakan bahwa anda harus merajut-rajut benang ide anda untuk sampai pada penjelasan tentang saya.
Saya adalah hutang umat manusia. Saya adalah piutang umat manusia. Jika dilihat dari buku yang bersinar, yang turun dari atas anda, Adam dan Hawa memberikan hutang tak tertebus, membuka mata anda semua tentang wacana-wacana non-surgawi yang relatif lebih njelimet dan menuntut ekskavasi imaji lebih intens. Ya. Manusia bukan surga. Manusia juga bukan dunia, karena manusia menjadi dunia karena ada hutang yang dipikulnya.
Saya adalah hutang manusia.
Saya berangkat dari nol, untuk akhirnya kembali ke nol sebagai pemenang. Siapa yang kalah kalu begitu? Saya yang kalah. Kenapa saya kalah? Karena saya adalah hutang manusia sekaligus piutang manusia. Hutang dan piutang manusia berbanding lurus. Seimbang. Jauh lebih seimbang daripada semua opsi-opsi ketuhanan yang ditawarkan oleh sang bercahaya, yang tentu saja bukan saya. Karena saya adalah awal, saya adalah akhir, saya adalah segalanya.
Jacques Lacan telah mencelupkan sedikit ujung jarinya ke dalam kuali kehidupan berisi penuh dengan narsisisme yang panas dan pekat. Anda, Manusia-lah yang kemudian mengaduk dan mencampur sampai rata. Anda semua, manusia semua bercermin dan dunia terpantul ke bola mata anda, langsung menuju otak yang terdalam. Sedangkan saya? Saya adalah apa yang ada di seberang pintu setebal kurang lebih 5mm tersebut. Dimensi? itu terlalu tuhan. Manusia tidak bisa terlalu tuhan. Apakah saya bisa menjadi terlalu tuhan kalau begitu? Tidak juga. tidak ada gunanya menjadi terlalu tuhan. Apalagi menjadi terlalu manusia.
Seberapa tebal garis batas "Saya" dengan "Anda"?
Setipis kertas, namun jauh lebih tebal dari kehidupan.
Kamis, 24 Juni 2010
Red Goes Green
I you we they he she it.
You I they we she it he.
I love it when the red goes green.
i don't have to feel that iron-like taste in my mouth.
You I they we she it he.
I love it when the red goes green.
i don't have to feel that iron-like taste in my mouth.
Selasa, 04 Mei 2010
The Ghost of Summer
Now they walk freely across that meadow
Holding hands, sharing thoughts, wonderful
Making their way to the sun, carving their names on history
History, what a great story
Imagine you and me strolling on an evening
Laughing and chatting oh it's just amazing
What about a picnic in the public park
Grasses below, Skies above, people surrounds
And with you here, you bring that ghost of summer
I know you know, i know you know i suffer
What's worse for us? What's better for us?
No matter what we'd do, There'll always be the ghost of summer
The meaning of those treasures aren't "how you get that" or "when you get that" or "why you get that". It's just you and you alone who feel that way.
So, would you give your hands and start to dance with the ghost of my summer?
Holding hands, sharing thoughts, wonderful
Making their way to the sun, carving their names on history
History, what a great story
Imagine you and me strolling on an evening
Laughing and chatting oh it's just amazing
What about a picnic in the public park
Grasses below, Skies above, people surrounds
And with you here, you bring that ghost of summer
I know you know, i know you know i suffer
What's worse for us? What's better for us?
No matter what we'd do, There'll always be the ghost of summer
The meaning of those treasures aren't "how you get that" or "when you get that" or "why you get that". It's just you and you alone who feel that way.
So, would you give your hands and start to dance with the ghost of my summer?
Rabu, 21 April 2010
Mad Fate/Revisited
The stars lean down to see me
And i lied when i said okay
Pour me a heavy dose of sleeping pills
It's been a thousand days for this opened eyes
Sit down on this cold soil of the earth
The city sparkles in the night
How can it glows so bright?
I can't find the answer
So i sit on the front porch all night
I'll forget the world i knew
I'll swallow my pride
I would see the light
Make me new
The last remaining lights go dark
It's depressing, but what can i do?
I see them above me as my masters
And i'm just a low, poor protector
So i sit on the front porch all night
I'll forget the world i knew
I'll swallow my pride
I would see the light
Make me new
I don't want it to end like this
I want to be free, just like the wind
But that's the final ending, their voices still resounding
I'm used to not losing them
So i sit on the front porch all night
I'll forget the world i knew
I'll swallow my pride
I would see the light
Make me new
So i sit on the front porch all night
I'll forget the world i knew
I'll swallow my pride
'til i see the light
Make me new
Notes: This song is originally written as a short story/poetry by Tika Savitri(sorry if i write it wrong) who asked me to make it into a song. I play it in C Major key. maybe about 100-110 BPM. I've changed some words in it because the original one doesn't have good rhyming(it's intended to be a short story). I haven't recorded it yet. Maybe i'll upload it in 1-2 weeks to my Soundclick account. Anyway, thanks for her for "constructing" those beautiful words and "enlighten" my days starting from last Tuesday, April 20th 2010, to a yet unknown amount of happy and sad times. Hopefully she'll always enlighten me for our remaining days here on earth :)
And i lied when i said okay
Pour me a heavy dose of sleeping pills
It's been a thousand days for this opened eyes
Sit down on this cold soil of the earth
The city sparkles in the night
How can it glows so bright?
I can't find the answer
So i sit on the front porch all night
I'll forget the world i knew
I'll swallow my pride
I would see the light
Make me new
The last remaining lights go dark
It's depressing, but what can i do?
I see them above me as my masters
And i'm just a low, poor protector
So i sit on the front porch all night
I'll forget the world i knew
I'll swallow my pride
I would see the light
Make me new
I don't want it to end like this
I want to be free, just like the wind
But that's the final ending, their voices still resounding
I'm used to not losing them
So i sit on the front porch all night
I'll forget the world i knew
I'll swallow my pride
I would see the light
Make me new
So i sit on the front porch all night
I'll forget the world i knew
I'll swallow my pride
'til i see the light
Make me new
Notes: This song is originally written as a short story/poetry by Tika Savitri(sorry if i write it wrong) who asked me to make it into a song. I play it in C Major key. maybe about 100-110 BPM. I've changed some words in it because the original one doesn't have good rhyming(it's intended to be a short story). I haven't recorded it yet. Maybe i'll upload it in 1-2 weeks to my Soundclick account. Anyway, thanks for her for "constructing" those beautiful words and "enlighten" my days starting from last Tuesday, April 20th 2010, to a yet unknown amount of happy and sad times. Hopefully she'll always enlighten me for our remaining days here on earth :)
Rabu, 14 April 2010
Love in the Outer Space
So where should we start? When should we start?
Would we start here, from the ground? Or should we start from the sky?
If we start here, we could say goodbye to our loved ones.
If we start from the sky, we could get there easier.
So where would we go? When should we go?
Would we go to Mars? or should we go to Venus?
If we go to Mars, we could spend the days playing.
If we got o Venus, we could kill our time sun-bathing.
Do you believe that there's love in the outer space?
I want you to imagine.
Would we start here, from the ground? Or should we start from the sky?
If we start here, we could say goodbye to our loved ones.
If we start from the sky, we could get there easier.
So where would we go? When should we go?
Would we go to Mars? or should we go to Venus?
If we go to Mars, we could spend the days playing.
If we got o Venus, we could kill our time sun-bathing.
Do you believe that there's love in the outer space?
I want you to imagine.
Senin, 12 April 2010
Perahu ke Planet Lain
Mungkin saya tidak pernah berpikir untuk berlayar sebelumnya. Mencoba untuk pergi dari rumah ini dan melihat ke luar. Banyak yang bilang kalau di luar itu indah. Banyak yang bisa saya lihat di sana. Ada juga yang bilang kalau di luar banyak sekali ancaman. Saya bisa jatuh. Saya bisa terluka. Saya bisa menghilang. Saya bisa terbunuh. Saya belum pernah merasakan hal-hal tersebut. Saya sejujurnya ingin merasakan hal-hal tersebut. Kalau dibilang bosan sebenarnya tidak juga. Saya hanya ingin mencobanya. Untuk itulah saya membuat sebuah perahu. Sebuah perahu untuk pergi.
Ternyata mambuat sebuah perahu memerlukan waktu yang sangat lama. Ini adalah pertama kalinya saya membuat sesuatu yang menurut saya amat sangat sulit. Ternyata untuk membuat sebuah perahu memerlukan kemampuan dan keterampilan tersendiri. Saya baru tahu bahwa membuat sebuah perahu butuh desain kerangka yang pas. Butuh kayu yang bagus. Ini membuat saya semakin tertantang. Biarpun melelahkan tapi yah, saya menikmatinya. Terakhir kali saya merasa seperti ini adalah ketika Anda datang ke rumah saya. Kita bertukar pikiran dan tenggelam dalam waktu yang sayangya terlalu singkat.
Perahu sudah setengah jadi. Entah mengapa saya merasa sedikit kehilangan. Mungkin ini karena sebentar lagi saya akan kehilangan rasa? Saya tidak tahu. Memang rasanya saya ingin perahu ini tidak akan pernah selesai. Saya ingin terus berlayar bersama kayu-kayu tersebut. Blueprint-blueprint yang berserakan tidak karuan. Bau lem kayu yang memenuhi ruangan. Semuanya.
Besok adalah hari besar. Hari dimana saya akan keluar. Hari dimana saya akan berlayar dengan perahu yang telah memabukkan saya dan memaksa saya kembali kepada kenyataan. Perahu inilah yang akan menemani saya mengarungi segala hal yang ada di luar pintu rumah saya. Perkenalkan. Namanya adalah Absalom. Nama yang bagus bukan? Yah, mungkin namanya kurang cocok kalau dijadikan nama perahu. Tetapi untuk saya itu nama yang cukup bagus.
Kau tahu kemana tujuan saya yang pertama jika saya telah keluar dari rumah ini?
Saya akan pergi ke planet lain!
Ternyata mambuat sebuah perahu memerlukan waktu yang sangat lama. Ini adalah pertama kalinya saya membuat sesuatu yang menurut saya amat sangat sulit. Ternyata untuk membuat sebuah perahu memerlukan kemampuan dan keterampilan tersendiri. Saya baru tahu bahwa membuat sebuah perahu butuh desain kerangka yang pas. Butuh kayu yang bagus. Ini membuat saya semakin tertantang. Biarpun melelahkan tapi yah, saya menikmatinya. Terakhir kali saya merasa seperti ini adalah ketika Anda datang ke rumah saya. Kita bertukar pikiran dan tenggelam dalam waktu yang sayangya terlalu singkat.
Perahu sudah setengah jadi. Entah mengapa saya merasa sedikit kehilangan. Mungkin ini karena sebentar lagi saya akan kehilangan rasa? Saya tidak tahu. Memang rasanya saya ingin perahu ini tidak akan pernah selesai. Saya ingin terus berlayar bersama kayu-kayu tersebut. Blueprint-blueprint yang berserakan tidak karuan. Bau lem kayu yang memenuhi ruangan. Semuanya.
Besok adalah hari besar. Hari dimana saya akan keluar. Hari dimana saya akan berlayar dengan perahu yang telah memabukkan saya dan memaksa saya kembali kepada kenyataan. Perahu inilah yang akan menemani saya mengarungi segala hal yang ada di luar pintu rumah saya. Perkenalkan. Namanya adalah Absalom. Nama yang bagus bukan? Yah, mungkin namanya kurang cocok kalau dijadikan nama perahu. Tetapi untuk saya itu nama yang cukup bagus.
Kau tahu kemana tujuan saya yang pertama jika saya telah keluar dari rumah ini?
Saya akan pergi ke planet lain!
Jumat, 09 April 2010
Jelas - Penjelasan - Menjelaskan - Dijelaskan
Mencoba melihat dengan sebelah mata membuat saya sakit kepala. Saya takut untuk melihat dengan kedua mata. Itulah alasan mengapa saya hanya melihat dengan sebelah mata. Dunia terasa membosankan dan biasa saja jika dilihat secara normal. Saya mencari sesuatu yang tidak normal. Saya mencari sesuatu yang baru. JIka terus dijejali dengan semua yang normal, saya akan sakit. Saya akan berdarah. Pada akhirnya saya akan menghilang. Mengapa semuanya biasa saja? Mengapa semuanya normal? Apakah baik-baik saja itu artinya baik-baik saja? Jelaskan! Jelaskan pada saya arti dari semua kebiasaan, adat, budaya, norma, nilai, semuanya! Saya sudah terlalu lama berdiri di tengah-tengah jalan raya tanpa kendaraan. Mau berbalik arah ataupun menyeberang tidak akan berdampak apa-apa bagi saya. Semua datar. Semua nyata. Saya ingin sesuatu yang tidak nyata.
Sekarang saya mempunyai tujuan hidup. Saya tidak ingin tujuan saya sama dengan kalian semua. Kita tidak sama. Saya, Anda, Mereka, Kita. Tidak ada yang sama di dunia ini. Dimana perjalanan anda berakhir? Di situ bukan tempat dimana perjalanan kita berakhir. Dimana saya akan mendapatkan jawaban? Di situlah mungkin anda baru mulai bertanya. Saya tidak khawatir akan jatuh. Saya tidak khawatir akan kehilangan. Saya hanya tidak mau tidak jatuh. Saya ingin jatuh. Sudah terlalu banyak yang saya alami. Saya ingin tahu apa rasanya membentur permukaan tanah dengan kepala terlebih dahulu. Dorong saya dari tepi jurang. Lempar saya dari atap gedung. Beri saya penjelasan untuk semua kesusksesan dan anugrah yang saya miliki. Penjelasan. Saya ingin penjelasan yang jelas.
Apa untungnya bagi saya untuk mengatakan hal ini pada anda? Anda masih belum mengerti. Saya ingin anda sadar. Saya ingin mata anda terbuka. Saya ingin anda bangun dari tidur yang telah begitu lama menggerogoti anda. Bangunlah. Bebaslah. Saya ingin menjelaskan bahwa anda sebenarnya tidak berarti apa-apa untuk saya. Dan untuk hal itu saya merasa terhina. Untuk hal itu saya merasa tidak berguna. Untuk hal itu saya berubah menjadi sampah. Saya ingin menjelaskan kepada anda betapa pentingnya anda untuk mencapai tujuan akhir saya. Saya terluka. Anda biasa saja. Mungkin hal itu biasa tetapi bagi saya luar biasa. Menggelikan memang. Tapi itulah saya. Itulah mengapa saya menanyakan pertanyaan seperti kalimat pertama dalam paragraf ini. Saya ingin membuat anda terbangun dan saya akan merasa kehilangan.
Sudahkah anda mengerti? Sudahkah saya mengerti? Sudahkah kita mengerti? Sudahlah. Memang pembicaraan saya absurd dan aneh. Saya adalah saya. Saya bukan anda. Saya bukan kita. Saya bukan mereka. Tidak ada kata "kita" di antara Saya dan Anda. Apa lagi yang sekiranya perlu dijelaskan? Anda masih membutuhkan penjelasan? Untuk saya, tidak apa-apa jika anda meminta penjelasan tentang semua. Mungkin saya mengganggu anda. Mungkin anda merasa terusik dengan jalan pikiran saya. Mungkin anda belum bisa menerima. Tetapi itu akan saya lakukan di pertemuan kita selanjutnya. Berapapun halaman yang saya buat untuk menjelaskan kepada anda tidak akan cukup. Bayangkan saja menguras air laut. Bukan masalah lautnya melainkan alat pengurasnya. Berapapun kolam dan ember tidak akan cukup. Untuk itulah mengapa semua ini dijelaskan. Saya ingin dunia anda baik-baik saja walaupun bertabrakan dengan dunia saya.
Saya dan Anda.
Saya butuh Anda.
Saya tidak tahu jika Anda butuh Saya atau tidak.
Saya tahu anda tetap tersenyum.
Anda tetap bahagia.
Anda tetap Maju.
Saya ingin anda tetap tersenyum, maju dan bahagia.
Egois. Saya memang egois.
Tidak perlu menatap Saya.
Yang Saya inginkan adalah Anda tetap berjalan walaupun tanpa melihat Saya.
Baik di depan,
di samping,
di belakang,
di manapun.
Teruslah berjalan.
Jangan berhenti.
Jangan berlari.
Jika sudah ada lagi "kita" di antara Anda dan Saya,
Dunia akan selesai.
Dunia akan tamat.
Dan kita akan menutup buku itu bersama-sama.
Tanpa Saya.
Tanpa Anda.
Yogyakarta, 10 April 2010
Kamis, 08 April 2010
The Pursuit of Loneliness
Time flies by
Time runs out
Scent of summer dried out with haste
Autumn, waiting for it's turn with no smile on her face
Samson didn't got his hair cut, Delilah didn't do it either
The columns were not broken like the old books always said
What it feels like? What it feels like?
No scent of summer on summer, no autumn's smile too
What it feels like? What it feels like?
Samson didn't lose his hair, the columns were good and fair
It must be nice
Oh, it must be nice
Train goes by
Train runs out
Bleak lights on the wall shimmering lazily
People, sitting on the benches waiting for the ark
Get them to their utopia, free them from all the shackles
The benches aren't empty and the train doesn't come yet
What it feels like? What it feels like?
The lights are so weak, people started to wither
What it feels like? What it feels like?
Future looks so pale, the train won't stop
It must be nice
Oh, it must be nice
Me, You, Us, Them
The places are set and nothing is wrong
Loneliness, oh loneliness
Don't turn your back against me, why can't we just get along
Me, You, Us, Them
This isn't the only time to break the walls
Loneliness, oh loneliness
Don't leave me, we're not falling at all
Last train home, no one is aboard
I am here, waiting for no one
Last train home, no one is aboard
I am here, I am alone
Time runs out
Scent of summer dried out with haste
Autumn, waiting for it's turn with no smile on her face
Samson didn't got his hair cut, Delilah didn't do it either
The columns were not broken like the old books always said
What it feels like? What it feels like?
No scent of summer on summer, no autumn's smile too
What it feels like? What it feels like?
Samson didn't lose his hair, the columns were good and fair
It must be nice
Oh, it must be nice
Train goes by
Train runs out
Bleak lights on the wall shimmering lazily
People, sitting on the benches waiting for the ark
Get them to their utopia, free them from all the shackles
The benches aren't empty and the train doesn't come yet
What it feels like? What it feels like?
The lights are so weak, people started to wither
What it feels like? What it feels like?
Future looks so pale, the train won't stop
It must be nice
Oh, it must be nice
Me, You, Us, Them
The places are set and nothing is wrong
Loneliness, oh loneliness
Don't turn your back against me, why can't we just get along
Me, You, Us, Them
This isn't the only time to break the walls
Loneliness, oh loneliness
Don't leave me, we're not falling at all
Last train home, no one is aboard
I am here, waiting for no one
Last train home, no one is aboard
I am here, I am alone
Senin, 29 Maret 2010
Sound Explorer Embarking on a Journey
Well like i said earlier, i'll upload my project's songs. Hope you all like it, strangers!!
http://www.soundclick.com/draggingdrags
I appreciate comments(even the rough ones). Feel free to hear it. Next time i'll make it downloadable.
http://www.soundclick.com/draggingdrags
I appreciate comments(even the rough ones). Feel free to hear it. Next time i'll make it downloadable.
Life and Music Stuffs
Well, hello strangers. It's been about one and a half years since i started this blog and i NEVER write about my life or anything. all my posts were absurd wordplays and shits with some interesting and somewhat ambiguous meaning "underneath" each of those stuffs. So, this is my first time writing about myself. There's nothing interesting in it anyway.
I just started to do a musical project(it's actually from February) and it's a one-man band. Sounds too confident with my own talent? i don't know. I just felt that no one is on the same boat with me in this kind of thing. And it's pretty amusing to know that i could make some creepy and weird sounds and calling them music. If you want to know what kind of music i'm making, it sounds like dissonant and un-harmonic sounds and chords tied together with background mumblings. Maybe you can call it "relaxing" or "inspiring" and maybe you will call it "piece of trash" or "not-a-single-talent-in-it". Every critics are welcomed. Well i'll create a myspace or soundclick account later so you could stream it online. If you live in Yogyakarta then you're lucky enough to hear it from me.
Well that's a wrap. Haha i can't write much about what's going in and what's going out and what's going under my daily life. I just don't have enough talent to write something else outside those "interesting" words that is my past writings. I'll try to upload my songs later and hope to hear some rough critics from you all, strangers. Gracias!
I just started to do a musical project(it's actually from February) and it's a one-man band. Sounds too confident with my own talent? i don't know. I just felt that no one is on the same boat with me in this kind of thing. And it's pretty amusing to know that i could make some creepy and weird sounds and calling them music. If you want to know what kind of music i'm making, it sounds like dissonant and un-harmonic sounds and chords tied together with background mumblings. Maybe you can call it "relaxing" or "inspiring" and maybe you will call it "piece of trash" or "not-a-single-talent-in-it". Every critics are welcomed. Well i'll create a myspace or soundclick account later so you could stream it online. If you live in Yogyakarta then you're lucky enough to hear it from me.
Well that's a wrap. Haha i can't write much about what's going in and what's going out and what's going under my daily life. I just don't have enough talent to write something else outside those "interesting" words that is my past writings. I'll try to upload my songs later and hope to hear some rough critics from you all, strangers. Gracias!
Sabtu, 27 Maret 2010
See the world through a monocle
I see the street lights, but just on the left side. My other eye(the right one) isn't working. Partial blindness, maybe. I don't know. The world seems one-sided today.
I see the questions but not the answers. The exam is oddly difficult today. Maybe my right eye needs some fixations. I don't know. The world seems one-sided today.
I see the way to your house, but i can't see the way home. It's pretty saddening, i know. Gotta call my brother to pick me up at your house. Maybe he's free. I don't know. The world seems one-sided today.
I see everything from your point of view today, but i can't see from mine. I don't know what to do. Maybe i really need to fix my right sight, i don't know. The world seems one-sided today.
So which side are you on?
I see the questions but not the answers. The exam is oddly difficult today. Maybe my right eye needs some fixations. I don't know. The world seems one-sided today.
I see the way to your house, but i can't see the way home. It's pretty saddening, i know. Gotta call my brother to pick me up at your house. Maybe he's free. I don't know. The world seems one-sided today.
I see everything from your point of view today, but i can't see from mine. I don't know what to do. Maybe i really need to fix my right sight, i don't know. The world seems one-sided today.
So which side are you on?
Senin, 08 September 2008
starting of an epic wasted times
Hello (buzz) can anybody hear me?
this is houston speaking.
report to california's base immediately.
we're troubled here, ran out of gas.
reporting casualties (beep), all nine crews were found dead.
i repeat, (buzz) all nine crews were dead.
"come on Base, help us!"
"are you crazy kid? give me back that radio"
"but we're all gonna die here!"
"if we're all gonna die here, at least die with dignity"
"what does dignity do with dead?"
"there's nothing left for us if we die"
"god didn't want us to give up "
"so, why he put us in such circumstance?"
"..."
space dust, cosmic light, electric sun beam.
asteroid belt, gamma rays, black hole.
nine men's souls either meant to be wasted, nor dumped.
the purpose of their existence was just to be forgotten.
so, life runs normal. just like you, just like me.
this is houston speaking.
report to california's base immediately.
we're troubled here, ran out of gas.
reporting casualties (beep), all nine crews were found dead.
i repeat, (buzz) all nine crews were dead.
"come on Base, help us!"
"are you crazy kid? give me back that radio"
"but we're all gonna die here!"
"if we're all gonna die here, at least die with dignity"
"what does dignity do with dead?"
"there's nothing left for us if we die"
"god didn't want us to give up "
"so, why he put us in such circumstance?"
"..."
space dust, cosmic light, electric sun beam.
asteroid belt, gamma rays, black hole.
nine men's souls either meant to be wasted, nor dumped.
the purpose of their existence was just to be forgotten.
so, life runs normal. just like you, just like me.
Langganan:
Postingan (Atom)
