Tampilkan postingan dengan label love. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label love. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 Juli 2012

Jarak Dunia Kita Dalam Formula Matematis

Satu, satu, dua, tiga, lima, delapan, tiga belas, dua puluh satu, dan seterusnya, dan seterusnya. Angka selanjutnya dalam sekuens itu adalah hasil penjumlahan dua angka di belakangya. Jadi, urutan sekuens ke 100 adalah hasil penjumlahan dari urutan ke 98 dan 99. Begitu juga dengan urutan-urutan selanjutnya. 


Atau urutan sebelumnya.

Jika kita bayangkan bahwa urutan pertama adalah aku, apa yang ada di urutan ke lima? Aku, aku, kamu, kita, kita dan satu anak kita. Urutan kelima adalah kita dan satu anak kita. Apa yang ada di urutan ke seratus? Apakah akan menjadi seperti silsilah keturunan Adam dan Hawa? Mari kita coba sederhanakan menjadi sebuah formula matematis.

ika nomor urutnya adalah F dan urutan sekuensnya adalah x, Aku (F) ada di urutan pertama. Jadi Aku adalah F1. Kamu adalah F3, kita adalah F4, dan seterusnya. Kita coba cari F100 dari urutan sekuens tersebut. Sulit. Tidak bisa menjadi sederhana. Sulit, karena jarak antara urutan tersebut akan sama dengan jarak normal urutan sekuens awal: satu, satu, dua, tiga, seterusnya. Jadinya akan seperti lingkaran sempurnya. Terus berjalan sampai ketidak-terbatasan.

Nah, mari kita berpegangan tangan. Bayangkan bahwa panjang tangan kita yang berpegangan ini adalah diameter lingkaran tersebut.

Kita dekatkan diri kita. Semakin sempit. Panjang diameter berkurang. Tetap saja menjadi lingkaran.

Bahkan sampai kita cukup dekat untuk aku memelukmu. Tetap menjadi lingkaran.

Sampai tubuh kita bersentuhan, dan bibirku bisa menyapa bibirmu dengan ciuman. Tangan kita tetap menjadi diameter lingkaran. Sampai kita merasa tidak berjarak. Dari lingkaran yang terlihat sampai jadi titik.

Sekuensnya tidak berubah: Satu, satu, dua, tiga, lima, dan seterusnya. Aku, aku, kamu, kita, kita dan satu anak kita, dan seterusnya.

Radius diameter, seberapa jauh pun itu, dan seberapa rumit pun formula untuk menyederhanakannya, bukan poin utamanya. Asalkan kita berani memperkecil lingkaran sampai akhirnya menjadi titik, Formula jarak akan bisa sederhana.


Yogyakarta, 24 Juli 2012, 22:42 p.m.
diambil dari akun Twitter saya, @luthfinggihmas 
hashtag #cerita. Judul asli: "Dua Semesta Kita Dalam Sekuens Fibonacci"

    

Senin, 18 Juni 2012

Secangkir Kopi di Utara Yogyakarta


Dulu sempat ada yang mampir secara berkala ke warung kopi ini. Satu-dua orang, mungkin tiga, entahlah. Aku tidak begitu ingat masa-masa itu. Jarang sekali, walaupun tetap ada, mereka yang datang sendiri dan menyesap kopi perlahan di dalam maupun teras luar. Semua tempat dan posisi adalah kursi dan meja, tidak lebih. Asalkan mereka bisa duduk dan melakukan apapun yang mereka mau dan pantas dilakukan (menurut mereka) di warung kopi ini, mereka bebas duduk dan memilih tempat di warung kopiku. Ya, tempat ini terbuka untuk siapa saja. Tua, muda, pria, wanita, robot, manusia, semuanya.

Sepanjang yang aku tahu, warung kopi ini tidak pernah mengalami perubahan yang berarti. Semua masih sama: lantai parquet kayu, kursi-kursi kecil dan meja-meja bundar yang tidak sama, lonceng kecil yang tergantung di pintu masuk, tidak ada yang berubah. Ah, sudah berapa tahun sejak aku membuka warung ini, sepuluh? Lebih. Sepertinya sudah dua puluh tahun lebih aku duduk santai di belakang meja kasir sambil sesekali menuang biji kopi ke mesin penggiling lalu memrosesnya di mesin pembuat kopi, untuk selanjutnya dihidangkan panas di dalam gelas (yang entah mengapa gelas-gelasku semuanya bermotif binatang. Sepertinya sudah tertanam dalam alam subsadarku kalau aku menyukai binatang. Setidaknya motifnya). Seingatku, selama aku melakukan proses penggilingan, pembuatan, dan penyajian tersebut tempat ini tidak pernah berubah. Toh, ini warung kopi milikku.

Kopi sudah menyatu dengan aliran darahku, sepertinya. Aku suka aroma kopi yang menyeruak menembus hidungku. Segar, tidak berat. Entah itu kopi instan atau biji kopi – yang menurutku – berkualitas tinggi dari perbukitan di Temanggung, aku suka semuanya. Aku juga masih sedikit ingat tentang bagaimana dulu aku suka memakan biji kopi setelah ayahku memanggangnya. Batch panggangan pertama adalah yang paling enak menurutku. Oh, ya, beberapa pelangganku yang datang ke sini dengan membawa serta anaknya juga mengatakan bahwa mereka sering memakan biji kopi sewaktu mereka kecil. Aku bersyukur bahwa kesenangan yang hadir beserta gigitan pada biji kopi tidak hanya untukku semata. Hal itu juga membuatku tidak merasa menjadi orang aneh karena suka makan biji kopi.

Entah apa yang membuat orang-orang datang dan mampir ke warung kopi ini. Letaknya agak jauh dari kota. Ya, kalau kita masih bisa menyebut itu kota. Yogyakarta lebih mirip sebuah desa besar, menurutku. Jalan aspal yang tidak begitu bagus dan retak di sana-sini serta beberapa puing-puing bangunan di pinggir jalan. Dulu belum begitu banyak hal seperti itu. Rumput di sepanjang jalan juga belum setinggi sekarang. Aku ingat dulu ibuku sering bercerita tentang bagaimana dari teras rumah ini (yang sekarang adalah warung kopi) dia bisa melihat gunung Merapi dengan jelas. Gunung Merapi tampak gagah dan kokoh berdiri di atas awan, katanya. Ibu seringkali bercerita tentang bagaimana pucuk Merapi begitu lancip menantang langit, dan menjadi tempat persemayaman dewa-dewa. Sungguh tidak bisa dipercaya kalau gundukan tanah dan batu yang lebih menyerupai mangkuk itu dulunya tajam dan jumawa menggapai surga. 

Kemarin, dua orang datang ke warung kopi ini. Mereka adalah sepasang suami istri yang tampaknya berumur lebih dari paruh baya. Sang suami datang dari wilayah barat, jauh dari seberang selat Purwokerto, kalau tidak salah. Istrinya berasal tidak jauh dari Yogyakarta, hanya sedikit ke timur. Dekat dengan pantai Jebres, katanya. Mereka memesan kopi Lintong dan seingatku dua gelas kopi itu habis sangat lama. Mereka duduk dan sesekali mengobrol untuk selanjutnya menatap ke arah perbukitan Merapi di utara. Sempat terselip beberapa tawa di antara obrolan mereka. Aku samar-samar mendengar tentang bagaimana keadaan sekarang telah berbeda dengan waktu keemasan mereka dulu, bagaimana Jawa sudah semakin sepi, bagaimana mereka menggambar karakter-karakter binatang di atas tisu dan kertas menu (yang mana gambar-gambar itu kusimpan di laci mejaku), bagaimana mereka suka duduk menatap luar jendela dan menikmati angin semilir menyapa wajah mereka. Dua orang itu tampak begitu menikmati waktu mereka di sini. Mereka tampak sangat mengerti dan menghargai nilai setiap detik yang berlalu di warung kopi ini. Aku pun sangat menikmati setiap detik waktu yang berjalan saat itu. Percakapan dan tatapan-tatapan mereka yang santai dan sederhana membuatku berpikir sejenak dan bersyukur: menjadi dewasa sepertinya tidak begitu buruk, apalagi jika ditambah beberapa gelas kopi dan obrolan santai, karena waktu tidak akan berhenti untuk menyapa walau sekejap pun. 

Ah, aku harus mengoreksi kata-kataku di awal tadi. Warung kopi ini lebih dari sekedar susunan kursi-kursi dan meja-meja untuk menikmati kopi. Warung kopi ini adalah prasasti waktu penuh makna, setidaknya bagiku dan sepasang suami-istri yang datang kemarin.


-Yogyakarta, 19 Juni 2012-
02.25 pagi. Warung 24 jam
Ingat kucing biru dan ibunya

Sabtu, 16 Juni 2012

Satu-Dua Paragraf Tentang Cinta

Aku menengadah menghadap langit, berharap ada tangan bercahaya terulur ke arahku. Lalu mungkin aku akan terbaring lemah di kasur yang berisi kapuk mati ini. Milikmu, ya, milikmu. Kasur ini milikmu. Kasur yang tidak berada dalam kungkungan empat sisi tembok dan eternit di atasnya, langsung berhadapan dengan langit. Di sekelilingku adalah hamparan pasir abu-kecoklatan yang motifnya - sedikit banyak - mirip dengan corak calico untuk bulu kucing. Hampar pasir ini pun milikmu, walau kamu tidak menyadarinya.

Langit yang kupandang kosong dari tadi juga polos. Hitam dengan titik-titik putih bintang yang sesekali muncul lalu meredup lalu mati, untuk selanjutnya muncul, meredup, dan mati di tempat lain. Tempat lain yang mungkin aku tidak melihatnya (atau tidak menyadari sehingga aku tidak melihatnya). Aku sudah beberapa jam termenung dalam posisi seperti ini. Tangan bercahaya yang kuharap akan datang, sehingga tungguku tidak sia-sia, belum juga datang. Belum sia-sia. Masih belum sia-sia. Tapi, aku bisa saja mendadak menyadari kalau tangan bercahaya yang kutunggu itu sebenarnya bersifat sama seperti bintang: bisa muncul, meredup, lalu menghilang. Tanpa aku melihatnya atau menyadarinya. Toh, itu bukan tanganmu, aku tidak tahu. Yang penting aku tetap mencintaimu walau aku menunggu tangan bercahaya terulur turun dari langit.

Karena "dia" tidak aku ketahui. Sedangkan kamu, aku mengetahuimu apa-adanya.


-Yogyakarta, 17 Juni 2012-
sekitar dua jam tiga puluh menit
lewat tengah malam

Selasa, 04 Mei 2010

The Ghost of Summer

Now they walk freely across that meadow
Holding hands, sharing thoughts, wonderful
Making their way to the sun, carving their names on history
History, what a great story
Imagine you and me strolling on an evening
Laughing and chatting oh it's just amazing
What about a picnic in the public park
Grasses below, Skies above, people surrounds

And with you here, you bring that ghost of summer
I know you know, i know you know i suffer
What's worse for us? What's better for us?
No matter what we'd do, There'll always be the ghost of summer

The meaning of those treasures aren't "how you get that" or "when you get that" or "why you get that". It's just you and you alone who feel that way.

So, would you give your hands and start to dance with the ghost of my summer?