Tampilkan postingan dengan label Thoughts. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Thoughts. Tampilkan semua postingan

Minggu, 03 Maret 2013

Sayangnya, Mereka Laki-Laki

Laki-Laki, berjalan gontai menuju singgasananya.
Terpukau dengan apa yang digenggam, setir dan haluan,
Untuk lari. Mencoba mandiri. Lupa.
Lupa dan melupakan. Suci dan menyucikan.
Membiarkan diri tergoda kursi tanpa isi. Kamu adalah musibah.
Tanpa tahu apa itu wanita.

Selasa, 26 Februari 2013

1045 Kata Untuk Rudi dan Asapnya



TERPROVOKASI oleh teman-temannya di kampus, Rudi mulai mengambil sebatang rokok dari bungkus lusuh yang tergeletak di depannya. Dominan merah dengan sedikit aksen hitam dan garis emas sebagai pemanis. Serr, terasa sebulir keringat berjalan lancar dari tengkuk menuju punggungnya: mampukah Rudi? Siapkah Rudi? 18 tahun sejarah hidupnya sebagai Rudi Cahya Juniarto tidak pernah cacat ternoda oleh sebatang rokok. Pun, apakah sebatang rokok cukup untuk menoreh noda di hidupnya? Lurus saja, pikirnya. Rudi akhirnya menyelipkan sebatang rokok tersebut di antara bibirnya. Mata terpejam sejenak, satu hembusan napas keluar, dan jress. Lidah api kecil menari di ujung batang rokok disertai tarikan yang dalam. Ah, pulpen takdir menorehkan satu kata lagi di kertas hidup Rudi: Sebatang rokok.

Bersamaan dengan arus nikotin yang menyeruak tidak sabar untuk memenuhi paru-parunya, seketika pula otak Rudi terhenyak. Rasa pusing menggempur setiap sisi otaknya. Mual dan sebah memenuhi perutnya. Batuk seakan-akan meronta dengan protes: Bebaskan kami! Tapi Rudi terdiam dalam pejamnya. Dia tidak boleh batuk. Dia tidak akan batuk. Rudi tidak mau menyerah. Seraya otaknya mulai berangsur tenang dan mualnya hilang, asap sisa tarikan rokok pertamanya dihembuskan keluar. Bebas. Rudi bebas. Rudi adalah kapten dari kapalnya sendiri. Akhirnya Rudi menjadi kapten di kapalnya sendiri.

Setidaknya aku tidak apa-apa, batin Rudi. Satu batang rokok ini adalah langkah selanjutnya dari hidup Rudi. Anak tangga lain yang harus dipijak untuk nantinya berhadapan dengan anak tangga lainnya. Terus, terus, dan terus sampai ke lantai selanjutnya. Aku tidak apa-apa, sekali lagi Rudi memantapkan dirinya. Hisap lagi dan tarik lagi, Rudi. Matanya sudah tak terpejam untuk yang kedua ini. Hap, seketika dunia menjadi gelap saat asap rokok menyentuh paru-parunya. Pusing dan linu tak tertahankan menusuk setiap jengkal tubuhnya, luar dan dalam. Tersiksa, semi Neraka. Apa kiranya yang akan menyambut Rudi di ujung lorong yang bercahaya itu? Setidaknya aku tidak apa-apa, batin Rudi dalam perjalanan batinnya. Ya, setidaknya Kau tidak apa-apa, Rudi. Toh, ujung lorong itu mungkin adalah anak tangga selanjutnya yang harus kau jejak.

::::::::::

TERBEBAS dari kekangan tidur jam sembilan malam, Rudi merasa bahwa dia sekarang adalah laki-laki seutuhnya. Menyelinap dengan langkah ninja untuk menonton televisi tengah malam, atau hanya sekedar duduk diam di teras menikmati asap obat nyamuk yang melingkar membentuk pola fraktal di udara yang menggantung tepat di bawah sinar bohlam kuning. Syahdu, sedikit sendu, namun penuh kemenangan. Rudi berhasil keluar kamar tanpa diketahui: Dia adalah pemberontak. Dia semakin dekat dengan bajak laut yang selalu menghampiri imajinya setiap malam. Dia menjadi koboi di belah barat Amerika seperti dalam lamunannya. Aku adalah kapten kapalku sendiri, batinnya. Walau sesekali Rudi harus menoleh dengan paranoia kecil dia merasa bahwa itu hal setimpal baginya untuk menikmati kebebasan. Kebebasan memberontak.

Rudi kecil menatap tarian asap obat nyamuk dalam-dalam. Menari tanpa batas dan aturan baku, rindu akan keleluasaan. Hebat, pikirnya. Mungkin belum waktunya bagi Rudi untuk mengerti bahwa kesederhanaan bisa membuatnya bahagi layaknya Sang Asap yang juga sederhana. Kadang asap itu naik seperti memanjat tangga maya menuju bohlam (mungkin seperti ngengat? Yang mana cahaya selalu dirindukannya), lalu tiba-tiba jatuh menyentuh wajah kecil Rudi dengan lembut dan manja, membuatnya terbatuk. Batuk yang berbahaya: Apakah orangtuaku mendengar batuk ini? Sontak Rudi menoleh ke arah pintu. Matanya memicing sigap. Telinganya juga dipasang ke mode sensitifitas tertinggi. Deru nyamuk dan gesek daun pun nyaring dirasa. Satu, dua, tiga menit. Tidak ada tanda-tanda langkah dari dalam. Aman. Rudi kembali mengagumi dansa Sang Asap, yang ajaibnya masih menyambut Rudi yang lega dengan belaian lembut dan senyum kasih: Batuk kecil pun tidak mengapa. Aku bebas, layaknya Sang Asap yang menari sepenuh jiwa.

:::::::::::

RODA karet mati bergesekan dengan lantai keramik dingin rumah sakit. Suaranya tidak keras. Tidak bising. Hanya saja suara itu terdengar monoton dan konstan. Gumam pelan terdengar dari segala arah, sesekali berdialog perihal istilah-istilah medis. Ah, biar saja. Rudi tidak mengerti. Dunia masih gelap di mata. Sementara ini biarlah Rudi menjadi manusia setengah kelelawar dengan mengandalkan telinganya. Paduan bunyi-bunyi abstrak itu disusunnya menjadi simfoni bersahaja dalam pikirnya.

Sampai pada akhirnya Rudi bisa berjumpa kembali dengan fungsi matanya. Samar terlihat satu garis cahaya. Lampu neon? Ah, sayang bukan bohlam kuning. Selain warna, semua hal terasa sama. Hening, lamunan, cahaya. Tapi dari mana? Dari mana pikiran ini berasal? Rudi mencoba mengingat kembali, menggali ulang tatanan data dalam dua belah otaknya.

Belum Rudi sampai pada lembar buku yang dituju, cahaya sudah masuk dengan komplet ke retinanya. Lampu neon dan eternit dominan putih-biru tua, kelambu hijau lembut, televisi yang menggantung. Bunyi yang didengar juga terasa pasti. Rangkaian bip pelan teratur, puji-puji syukur mengisi sekeliling, pembaca berita nasional yang membosankan. Ini pasti rumah sakit, ujar Rudi dalam hati. Rudi tergeletak di bangsal rumah sakit. Rudi tergeletak di bangsal rumah sakit karena rokok yang dihisapnya di kampus, entah kapan. Mungkin beberapa jam yang lalu, mungkin beberapa hari yang lalu. Nanti saja diingatnya.

“Beri aku rokok lagi. Biarkan aku keluar. Aku ingin merokok” ujar Rudi lirih. Beberapa pasang mata yang ada di sekelilingnya mendadak terbelalak bingung dan gusar. Bukankah Rudi masuk rumah sakit karena rokok yang dihisapnya? Apa yang diinginkan dari merokok lagi? Apa yang dicarinya dengan merokok lagi? Sontak hujan peringatan dan nasihat deras membentur telinga Rudi. Rudi tidak menjawab. Dia terlalu lemah? Tidak. Dia akhirnya mengakui kesalahannya? Tidak. Lebih dari itu. Lebih jauh, lebih lama dan dalam dari itu. Setelah nasihat-nasihat itu reda, Rudi kembali mengucap lirih: “Kalau begitu tolong nyalakan satu batang rokok. Aku tidak akan menghisapnya. Tidak lagi. Aku hanya ingin melihatnya.”

Sboff, salah satu teman Rudi akhirnya menuruti permintaannya, tentunya setelah pendingin ruangan dimatikan. Asap rokok dengan aroma manis khas menyeruak ke seluruh penjuru bangsal. Sang Asap menari dengan lantunan cahaya neon. Hal itu seakan menjadi pemantik untuk Rudi. Rudi tersenyum lemah. Sang Asap berdansa dengan sesekali menggoda Rudi, seakan menjawil dagunya manja. Berputar dan bergoyang membentuk pola fraktal yang infinitif, tak terbatas. Mendaki tebing imajiner, untuk selanjutnya jatuh bebas membelai pipi Rudi lembut. Senyum Rudi semakin jelas dan lebar. Matanya terpejam syahdu. Khidmat.

Rudi bebas. Kembali menikmati masa-masa pemberontaknya: Suara televisi lewat sembilan malam, lamunan, cahaya lampu, dan Tarian Sang Asap. Rudi menikmatinya. Sungguh, Rudi menikmatinya. Sekarang tanpa batuk. Tanpa harus takut dan menoleh secara berkala. Tanpa khawatir ada langkah dari arah kamar orangtuanya. Walau tergeletak lemah di bangsal sederhana, tidak masalah. Toh, ada harga yang harus dibayar untuk kebebasannya, entah itu menyelinap keluar kamar atau menghisap sebatang rokok yang dia bakar.

Selamat malam dan selamat datang, Rudi.

:::::::::::

Yogyakarta, 27 Februari 2013.
Cokelat Mint dan Rokok.
Bebas



Jumat, 17 Agustus 2012

Sajak Keberadaan

Bayangkan jika dunia adalah papan tulis besar bernoda bekas hapusan kapur yang tak sempurna.

Mata-Mata yang memandang ke segala arah adalah titik-titik.

Jaringan titik abstrak yang nantinya membentuk pola, mungkin kalimat, mungkin persamaan, mungkin rumus yang pelik.

Tak lebih dari papan tulis besar bernoda bekas hapusan kapur yang tak sempurna, namun bertatahkan matematika.

Sekarang, aku adalah "X" di tengah-tengah rumus aljabar yang setengah jalan, menuju baris lain dari tak terhitung baris.

Cari aku di antara angka, deret angka, kuadrat, pangkat empat, pangkat lima, terus diulang sampai kapurmu habis.

Yang nantinya tidak terhapus dengan sempurna. Menjadi noda. Di antara pola.


-Yogyakarta, 18 Agustus 2012-
       Warung kopi 24 jam


Senin, 06 Agustus 2012

Logika dan Logaritma X Terhadap Rumus Dunia

Waktu itu hari Senin. Sekitar pertengahan bulan Agustus yang terasa lebih panas dari bulan-bulan lainnya. Panas adalah kondisi udara yang terasa menusuk kulit dan menibulkan ketidaknyamanan, khususnya bagi X. Temperatur tinggi dan angin menggebu membuat X melakukan hal yang hanya bisa dilakukan saat tidak bisa melakukan apa-apa: duduk di bangku taman dan terbengong melihat orang-orang yang lewat di sekitarnya. Taman itu berhawa malas. Cocok sekali dengan panas yang dibawa cuaca. Tidak begitu banyak orang di situ. Mungkin hanya beberapa pasangan tua yang berjalan pelan melewati ayunan dan jungkat-jungkit yang juga tua. Berderak sama dengan tua? Mungkin. Sendi-Sendi pasangan tua yang melintas itu juga sudah berderak menyapa era. Mungkin sekedar memberi salam pada masa mereka yang sudah lewat. Satu hal yang menimbulkan perasaan gamang adalah absennya anak kecil di taman itu. Hari senin memang penuh kekosongan. Malas. Panas. Hanya beberapa sendi-sendi tua yang melintas. X juga tua. Masa jayanya juga sudah harus disapa dengan derak sendi-sendi lewat paruh baya.

X memegang secarik kertas berhias banyak coretan dan tulisan tangan. Tulisan tangannya sendiri, tepatnya. Hanya angka-angka yang tersebar acak di permukaannya. 3, 1, 4, 1, 5, 6, 3, 7, 8, 5, banyak. Terlalu acak dan tanpa pola. Anomali yang sekali lagi muncul di hari yang Senin dan panas ini: tidak berpola. Siapapun tahu dan paham kalau semua yang ada di dunia ini berpola. Dari batu karang setengah terkikis di pantai berbukit Dover sampai burung gereja yang terkadang mengejek pemerintah kota seraya membuang kotoran di patung pahlawan perang di tengah taman kota. Pola bisa saja terlihat dengan mata telanjang, bisa juga didengar dengan seksama. Apapun yang bisa diterima dengan indera pasti mempunyai pola. Kita saja sebagai manusia kadang terlalu sombong untuk mencoleknya pelan di bahu. Senin, panas, dan Agustus juga mempunyai pola walaupun terasa samar seperti perasaan si patung yang dijatuhi bom organik burung gereja. X memegang secarik kertas berhias banyak coretan dan tulisan tangan. Tak berpola. Angka acak. Memang aneh hawa panas dan malas ini: mereka bisa mempengaruhi seseorang untuk keluar dari hukum alam yang adalah pola.

Matematikawan memerlukan angka untuk hidup layaknya seekor burung mencari tikus dan serangga untuk memuaskan saluran pencernaannya. Matematika adalah ilmu tentang ketuhanan karena yang dicari adalah hakikat dan makna dari segala yang diciptakan tuhan. Matematika berusaha mencari pola tuhan lewat angka. Tuhan itu angka, ya. Mungkin tuhan itu angka. Atau pola angka. Atau sebuah formula angka yang bisa melakukan dan menciptakan apa saja. X adalah seorang matematikawan. Dia membutuhkan angka untuk hidup. Dia, sebelum dia duduk di bangku taman dan terhanyut dalam hawa malas dan panas hari Senin pertengahan Agustus ini, berjibaku dengan angka dan formula. Mencari tuhan, katanya. Galaksi Bimasakti sampai cangkang siput sampai rasio emas memiliki unsur ketuhanan. X masih mencari tuhan. Segala penemuan dan jejak yang akan membawanya semakin mendekati tuhan dicatat dan diingat lewat coretan dan tulisan yang akhirnya menumpuk secara fisik di rak-rak buku di kamar apartemennya maupun secara nirfisik di kumpulan dokumen-dokumen data biner dalam cakram keras komputernya. Fisik maupun nirfisik, mereka adalah nutrisi bagi X untuk hidup. Untuk selalu berkutat dan mengejar ekor tuhan.

X ada di taman. Duduk diam di bangku taman menghadap beberapa ayunan dan jungkat-jungkit sambil memegang secarik kertas berisi angka acak tanpa pola. Tanpa sadar dia menolak tuhan. Dia menolak tuhan dan sifat ketuhanannya yang paling nyata: maha berpola. Apa yang ditulisnya bukan sekuens Fibonacci. Bukan angka di belakang desimal dari bilangan Pi. Bukan perhitungan rasio emas dari persegi empat banding tiga. Lelah dan malas terkena panas, itulah dia. Meninggalkan sejenak apa yang menjadi tujuan dan kebutuhannya. Melupakan sebentar apa yang mendorongnya dari belakang. X duduk dengan mata terpaku kosong ke depannya. Di dunia yang senantiasa berputar menurut pola. Di tengah pohon-pohon yang memiliki pola dalam setiap pembagian lokasi tangkainya. Di bangku kayu tua yang desainnya yang sederhana berawal dari atas kertas yang bergambar pola. X ada di taman di hari Senin yang panas di pertengahan bulan Agustus. Senin yang adalah titik awal dari rotasi hari kerja. Agustus yang adalah masa akhir dari musim panas dalam sistem kuartal empat musim. X ada di dalam pola. X adalah bagian dari pola. Namun, dia berada di atas kertas berpola tersebut.

Dia melayang di atas pola. Berjarak dari pola.

X sedang menjadi awam. Menjadi tuhan di dunia tanpa pola.


Yogyakarta, 7 Agustus 2012
Warung 24 jam. Baru lewat tengah malam
Tersihir matematika

Jumat, 27 Juli 2012

Sore Mereka Ada Di Langit

Anak-Anak kecil bertarung sepanjang garis. Tak terlihat, ya, memang garisnya tak terlihat. Tarung dan kejar. Menarik lengan lawan, singsing lengan baju, selengkat sana selengkat sini, keras tanah merah tanpa hujan, gila. Lalu jerit sakit bercampur dengan semangat. Semua kompak: "Aku lebih dulu!" "Aku lebih pantas!" 


(mungkin) mereka terjerat dalam temali berkelindan persaingan. Masih sangat muda pula.

Yah, siapa yang mau kalah, bukan. Tidak ada yang mau tertinggal sendiri di dunia ini. Satu-Satu mereka berjatuhan dan keluar dari garis. Mengaduh, kasihan. Lutut mereka lecet-lecet. Beberapa malah berdarah. Ada yang menyesal bersamaan dengan tubuhnya terjerembab ke tanah: Kenapa? Beberapa lagi menjadi lelah. Mata berkaca dan bulir-bulir jatuhlah. Tangis. Menangisi karena apa yang ditangisi tidak lagi terlihat. Kasihan. Ayo cepat pulang.

Yang tersisa masih meronta. Yang bertahan masih bersaingan. Langit mejadi lembayung menandakan jarak yang mereka tempuh telah lebih jauh dari lapangan ke rumah mereka. Menuju kejayaan, menuju supremasi. Siapa yang giat dialah yang mendapat. Aku harus menang, mereka harus tumbang. Melewati beberapa rumah lagi tanpa sadar kaki mereka sudah gemetaran. Sayup terdengar seruan: "Hati-Hati tersandung." Ah, tidak peduli. Garis yang memandu mereka masih terlihat walaupun sesekali kabur. Itu tandanya mereka harus tetap berlari.

Mereka harus tetap menarik lengan satu sama lain. Menjegal langkah kaki lainnya. Sambil mungkin terus menatap ke depan. Masa muda milik mereka. Lebih dari sekedar layang-layang: Mereka mengejar cita-cita.


Yogyakarta, 28 Juli 2012
01.45 pagi. Teh Lemon Dingin
Diambil dari akun Twitter @luthfinggihmas
Judulnya di sana: Masa Muda Mereka Ada Di Langit  

Selasa, 24 Juli 2012

Jarak Dunia Kita Dalam Formula Matematis

Satu, satu, dua, tiga, lima, delapan, tiga belas, dua puluh satu, dan seterusnya, dan seterusnya. Angka selanjutnya dalam sekuens itu adalah hasil penjumlahan dua angka di belakangya. Jadi, urutan sekuens ke 100 adalah hasil penjumlahan dari urutan ke 98 dan 99. Begitu juga dengan urutan-urutan selanjutnya. 


Atau urutan sebelumnya.

Jika kita bayangkan bahwa urutan pertama adalah aku, apa yang ada di urutan ke lima? Aku, aku, kamu, kita, kita dan satu anak kita. Urutan kelima adalah kita dan satu anak kita. Apa yang ada di urutan ke seratus? Apakah akan menjadi seperti silsilah keturunan Adam dan Hawa? Mari kita coba sederhanakan menjadi sebuah formula matematis.

ika nomor urutnya adalah F dan urutan sekuensnya adalah x, Aku (F) ada di urutan pertama. Jadi Aku adalah F1. Kamu adalah F3, kita adalah F4, dan seterusnya. Kita coba cari F100 dari urutan sekuens tersebut. Sulit. Tidak bisa menjadi sederhana. Sulit, karena jarak antara urutan tersebut akan sama dengan jarak normal urutan sekuens awal: satu, satu, dua, tiga, seterusnya. Jadinya akan seperti lingkaran sempurnya. Terus berjalan sampai ketidak-terbatasan.

Nah, mari kita berpegangan tangan. Bayangkan bahwa panjang tangan kita yang berpegangan ini adalah diameter lingkaran tersebut.

Kita dekatkan diri kita. Semakin sempit. Panjang diameter berkurang. Tetap saja menjadi lingkaran.

Bahkan sampai kita cukup dekat untuk aku memelukmu. Tetap menjadi lingkaran.

Sampai tubuh kita bersentuhan, dan bibirku bisa menyapa bibirmu dengan ciuman. Tangan kita tetap menjadi diameter lingkaran. Sampai kita merasa tidak berjarak. Dari lingkaran yang terlihat sampai jadi titik.

Sekuensnya tidak berubah: Satu, satu, dua, tiga, lima, dan seterusnya. Aku, aku, kamu, kita, kita dan satu anak kita, dan seterusnya.

Radius diameter, seberapa jauh pun itu, dan seberapa rumit pun formula untuk menyederhanakannya, bukan poin utamanya. Asalkan kita berani memperkecil lingkaran sampai akhirnya menjadi titik, Formula jarak akan bisa sederhana.


Yogyakarta, 24 Juli 2012, 22:42 p.m.
diambil dari akun Twitter saya, @luthfinggihmas 
hashtag #cerita. Judul asli: "Dua Semesta Kita Dalam Sekuens Fibonacci"

    

Kamis, 19 Juli 2012

'Kadang' Mungkin Lebih Dari Sekedar Penunjuk Waktu

Kadang saya suka bingung sendiri dengan kemampuan menulis saya. Sesaat bagus, kemudian berantakan. Mau bagaimana lagi. Saya sedang belajar. Kamu pun pasti belajar. Mereka belajar. Kita juga belum selesai belajar.

Bingung itu kata serapan dari mana?


-yogyakarta, 19 Juli 2012-
Warung internet dan sepi

Sabtu, 07 Juli 2012

Dalam Tangis Ada Harapan Lewat Tangis

Dan Eliah beserta adiknya, Maria, secara seksama mendengarkan suara tuhan di tengah kekacauan yang sedang terjadi di kampungnya. "Kamu akan mengetahui bahwa aku adalah tuhan saat aku membalaskan dendam dengan tanganku kepadamu", mungkin dari injil Ezekiel, tapi Eliah lupa pasal dan ayat yang mana. Suara tuhan yang menggelegar, menghadirkan berbagai perasaan yang campur-aduk, berkumandang di telinga Eliah bersamaan dengan jeritan dan tangisan warga kampungnya yang berusaha melarikan diri dari kobaran api dan hujan misil. Menyatu dengan sangat lembut dengan darah dan potongan tubuh yang melayang malang-melintang di depan mata Eliah dan Maria.

Mereka adalah anak-anak yang tertinggal - atau ditinggalkan? - oleh takdir dan waktu. Menyaksikan dengan mata mereka sendiri bagaimana proyektil misil merobek tubuh ibunya sampai terpencar, cerai-burai tak karuan, adalah pemberian dari singgasana langit untuk mereka: anak-anak yang lahir dari rahim konflik dan kekerasan. Kesalahan mereka, sampai pada titik diberikan pemandangan yang brutal dan sadis tadi, bukanlah karena mereka telah menumpahkan darah orang-orang tak berdosa ataupun melakukan tindakan terorisme di negara-negara maju. Kesalahan mereka adalah dilahirkan di sebuah desa di lembah berbatu dekat celah Khaibar. Sebuah tempat di mana seteru negara dan dunia berkumpul. Sebuah tempat di mana negara-negara adidaya - yang katanya dirugikan oleh tindakan kekerasan dan terorisme - menempatkan jarinya untuk menunjuk "siapa yang salah" sambil menutup dua mata. Kesalahan yang cukup fatal sehingga mereka, sebagai anak-anak yang masih kecil dan dibolehkan menaruh harapan setinggi apapun yang mereka mau, dianggap layak untuk menyaksikan parade "darah dan potongan tubuh berceceran" dari singgasana langit, tempat mereka menengadahkan kepala untuk berdoa.

Eliah dan Maria selamat dari "anugerah" tersebut. Mereka bersembunyi di celah batu, sedikit di luar desa, sambil menyaksikan kengerian yang tersaji di depan mata mereka.

Tapi mereka tetap berdoa. Tetap menengadahkan kepala mereka ke arah langit. Tetap memohon kepada tuhan agar festival darah dan pembunuhan di depan mereka cepat berakhir.

Mungkin tanpa mengetahui bahwa apa yang merobek tubuh ibu mereka menjadi serpihan-serpihan daging kecil-kecil dan tidak teridentifikasi adalah dia yang menjadi tujuan doa mereka.

Ironis.


-Achmad Luthfi, 8 Juli 2012-
Siang hari dan bir dingin. Kekesalan, kemarahan, kepasrahan.
Yogyakarta (sedikit) utara

Kamis, 21 Juni 2012

Tidak Mati, Hanya Kembali

Aku bersandar pada sedikit sandaran berbusa yang (tadinya) tebal. Punggungku terasa seperti sudah berjalan lebih dari 479 kilometer tanpa berhenti, paling tidak untuk mengisi ulang bahan bakar atau membeli minuman energi. Patah? Mungkin akan, tapi tidak sekarang. Mungkin. Sekarang aku masih prima, sehat, hanya sedikit nyeri dan pegal pangkal punggung. Lumbago, ah, itulah nama penyakitnya. aku ingat telah membaca mengenainya di koran berbau otomotif yang waktu itu teronggok lusuh di kamar temanku.

Setelah ini, setelah bersandar, aku menyalakan televisi. Mudah-Mudahan ada acara yang bagus.

Rupanya tidak ada. Aku terus mengganti saluran televisi sampai aku merasa acaranya cocok dan pas untuk dinikmati dengan santai. Kopi? Ide yang bagus. Aku jalan ke dapur dulu. Kopinya di rak nomor berapa? Perasaanku, terakhir kali aku menaruhnya adalah di rak nomor dua dari kanan, dekat dengan piring dan sendok. Pasti di situ.

Rupanya tidak ada! Aduh, bagaimana ini? Adanya hanya beberapa kantung teh bulat teronggok. Masih ada air panas kah? Masih ada rupanya. Tuang dulu saja, setelah itu aku celupkan di cangkir bergambar beruang madu dan gentong madunya, gelas kesayanganku. Hmm, siapa nama beruang itu? Yang aku ingat hanyalah anak manusia yang menjadi teman si beruang dan teman-temannya. Christopher, ya. Oh, ya, tehnya sudah lumayan pekat. Aku lebih suka yang tanpa gula.

Lanjut mencari acara televisi yang bagus sepertinya oke.

Ah, ya, sudah sore rupanya.

Sayang sekali tidak ada acara televisi yang bagus.

Kalau ada, perpisahanku akan sempurna. Ah, kenapa grafik penanda detak jantung ini tidak kunjung menjadi garis? Aku ingin cepat kembali. Siapa tahu, di sana nanti aku bisa duduk santai mengistirahatkan pangkal punggungku, sambil menonton televisi yang acaranya bagus semua.

Semoga saja di sana kopiku benar ada di rak kedua dari kanan, dekat dengan piring dan sendok.


-Yogyakarta, 21 Juni 2012-
22.12 malam, teh hangat,
warung 24 jam

Senin, 18 Juni 2012

Secangkir Kopi di Utara Yogyakarta


Dulu sempat ada yang mampir secara berkala ke warung kopi ini. Satu-dua orang, mungkin tiga, entahlah. Aku tidak begitu ingat masa-masa itu. Jarang sekali, walaupun tetap ada, mereka yang datang sendiri dan menyesap kopi perlahan di dalam maupun teras luar. Semua tempat dan posisi adalah kursi dan meja, tidak lebih. Asalkan mereka bisa duduk dan melakukan apapun yang mereka mau dan pantas dilakukan (menurut mereka) di warung kopi ini, mereka bebas duduk dan memilih tempat di warung kopiku. Ya, tempat ini terbuka untuk siapa saja. Tua, muda, pria, wanita, robot, manusia, semuanya.

Sepanjang yang aku tahu, warung kopi ini tidak pernah mengalami perubahan yang berarti. Semua masih sama: lantai parquet kayu, kursi-kursi kecil dan meja-meja bundar yang tidak sama, lonceng kecil yang tergantung di pintu masuk, tidak ada yang berubah. Ah, sudah berapa tahun sejak aku membuka warung ini, sepuluh? Lebih. Sepertinya sudah dua puluh tahun lebih aku duduk santai di belakang meja kasir sambil sesekali menuang biji kopi ke mesin penggiling lalu memrosesnya di mesin pembuat kopi, untuk selanjutnya dihidangkan panas di dalam gelas (yang entah mengapa gelas-gelasku semuanya bermotif binatang. Sepertinya sudah tertanam dalam alam subsadarku kalau aku menyukai binatang. Setidaknya motifnya). Seingatku, selama aku melakukan proses penggilingan, pembuatan, dan penyajian tersebut tempat ini tidak pernah berubah. Toh, ini warung kopi milikku.

Kopi sudah menyatu dengan aliran darahku, sepertinya. Aku suka aroma kopi yang menyeruak menembus hidungku. Segar, tidak berat. Entah itu kopi instan atau biji kopi – yang menurutku – berkualitas tinggi dari perbukitan di Temanggung, aku suka semuanya. Aku juga masih sedikit ingat tentang bagaimana dulu aku suka memakan biji kopi setelah ayahku memanggangnya. Batch panggangan pertama adalah yang paling enak menurutku. Oh, ya, beberapa pelangganku yang datang ke sini dengan membawa serta anaknya juga mengatakan bahwa mereka sering memakan biji kopi sewaktu mereka kecil. Aku bersyukur bahwa kesenangan yang hadir beserta gigitan pada biji kopi tidak hanya untukku semata. Hal itu juga membuatku tidak merasa menjadi orang aneh karena suka makan biji kopi.

Entah apa yang membuat orang-orang datang dan mampir ke warung kopi ini. Letaknya agak jauh dari kota. Ya, kalau kita masih bisa menyebut itu kota. Yogyakarta lebih mirip sebuah desa besar, menurutku. Jalan aspal yang tidak begitu bagus dan retak di sana-sini serta beberapa puing-puing bangunan di pinggir jalan. Dulu belum begitu banyak hal seperti itu. Rumput di sepanjang jalan juga belum setinggi sekarang. Aku ingat dulu ibuku sering bercerita tentang bagaimana dari teras rumah ini (yang sekarang adalah warung kopi) dia bisa melihat gunung Merapi dengan jelas. Gunung Merapi tampak gagah dan kokoh berdiri di atas awan, katanya. Ibu seringkali bercerita tentang bagaimana pucuk Merapi begitu lancip menantang langit, dan menjadi tempat persemayaman dewa-dewa. Sungguh tidak bisa dipercaya kalau gundukan tanah dan batu yang lebih menyerupai mangkuk itu dulunya tajam dan jumawa menggapai surga. 

Kemarin, dua orang datang ke warung kopi ini. Mereka adalah sepasang suami istri yang tampaknya berumur lebih dari paruh baya. Sang suami datang dari wilayah barat, jauh dari seberang selat Purwokerto, kalau tidak salah. Istrinya berasal tidak jauh dari Yogyakarta, hanya sedikit ke timur. Dekat dengan pantai Jebres, katanya. Mereka memesan kopi Lintong dan seingatku dua gelas kopi itu habis sangat lama. Mereka duduk dan sesekali mengobrol untuk selanjutnya menatap ke arah perbukitan Merapi di utara. Sempat terselip beberapa tawa di antara obrolan mereka. Aku samar-samar mendengar tentang bagaimana keadaan sekarang telah berbeda dengan waktu keemasan mereka dulu, bagaimana Jawa sudah semakin sepi, bagaimana mereka menggambar karakter-karakter binatang di atas tisu dan kertas menu (yang mana gambar-gambar itu kusimpan di laci mejaku), bagaimana mereka suka duduk menatap luar jendela dan menikmati angin semilir menyapa wajah mereka. Dua orang itu tampak begitu menikmati waktu mereka di sini. Mereka tampak sangat mengerti dan menghargai nilai setiap detik yang berlalu di warung kopi ini. Aku pun sangat menikmati setiap detik waktu yang berjalan saat itu. Percakapan dan tatapan-tatapan mereka yang santai dan sederhana membuatku berpikir sejenak dan bersyukur: menjadi dewasa sepertinya tidak begitu buruk, apalagi jika ditambah beberapa gelas kopi dan obrolan santai, karena waktu tidak akan berhenti untuk menyapa walau sekejap pun. 

Ah, aku harus mengoreksi kata-kataku di awal tadi. Warung kopi ini lebih dari sekedar susunan kursi-kursi dan meja-meja untuk menikmati kopi. Warung kopi ini adalah prasasti waktu penuh makna, setidaknya bagiku dan sepasang suami-istri yang datang kemarin.


-Yogyakarta, 19 Juni 2012-
02.25 pagi. Warung 24 jam
Ingat kucing biru dan ibunya

Jumat, 15 Juni 2012

Merry Christmas, Freak

The night is high and we can barely feel our toe because of the cold
Our clothes, oh our trousers and coats, can't hold the chill. Oh, the chill

It's Christmas time. This cold European soil is drenched in snow.

Yes, we can hear the tingling sound of Christmas carols from the other side of the wall


But we are at the other side of the wall. The outer side of the wall

Let me ease the cold for you, to help you pull through
       With the way that only i know how, to dance and raise your eyebrow

To sing and chant and frolic in my coat and trouser. To heat your every sense

I'll be on the smaller stage at the freak show. To make everybody happy and probably laugh
And to make everybody forget about the exhaustion and coldness of Christmas



Yes, i'll be on the smaller tent in your freak show



-16th of June, 2012-
After Midnight
          

Rabu, 13 Juni 2012

Ibu Bersumpah

Kamu meninggalkan jejak di karpet dunia tanpa sempat berkeluh dulu, lalu hilang. Ke mana?
Berjalanlah kamu di atas karpet dunia. Karpetku. Mati pun kelak kau di situ
Untuk tanganmu yang telah berlumur darah, merah, saudaramu. Kau akan berjalan selamanya.
Ayahmu. Ayahmu. Ibumu, yang sengaja-tidak sengaja merelakan rahimnya untuk kau huni sembilan bulan sepuluh hari.
Dan saudaramu juga, sembilan bulan sepuluh hari.
Kamu tinggalkan dia di dalam tanah merah. Mungkin kering karena sapuan anginku. Tapi masih berbau
Kelak kamu akan menyusul beristirahat di dalam tanah merahku, di bawah karpetku. Mungkin sebagai pengganti rahim ibumu. ibumu.
Lalu hilang. Mati satu tumbuh tak terbatas.
Untuk pembunuhan selanjutnya, untuk pengembalian selanjutnya
Dari rahimku lahir ibumu, ayahmu. Dari rahimnya lahir kamu. Kembalilah, setelah kamu lelah meninggalkan jejak langkah
Karena itu sumpahku sebagai Ibu.         

-Yogyakarta, 14 Juni 2012-
03.45 a.m.
Rindu 

Selasa, 17 April 2012

Selamat Sore, Senja

Melawan kantuk untuk melihat senja. Ya, dia memang mempunyai pendirian yang kuat sejak dia kecil. Apa yang diinginkan pasti terlaksana walaupun kadang membutuhkan waktu yang lama. Sama seperti hari ini. Mengabaikan pejaman mata pada malam berikutnya karena rupanya pendar layar komputer jinjing memaksa matanya untuk berasyik-masyuk, bercumbu rayu sampai lintas dua belas malam. Sekarang? Tubuhnya sudah lemas, hanya bersandar di sofa kulit hijau muda. Komputer jinjing masih terbuka di meja kopi di depannya.

Senja mungkin adalah sesuatu yang sangat berharga untuknya. Dia, yang sehari-harinya harus membelah aspal menuju rutinitas, harus membaca berlembar-lembar jurnal dan artikel, harus menyusur buku dengan pena, harus membayar gairah dengan lelah, mungkin menemukan damai dan kekuatan dari senja. Senja sendiri baginya tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata: mengapa senja bisa begitu menarik dirinya? Apa yang membuat senja begitu kuat sampai dia bisa mengabaikan rasa lelahnya? Mungkin karena senja itulah yang menyambutnya di rumah. Lembayung jingga beradu birunya cakrawala itulah yang setia menyapanya setelah berjam-jam dia membelah aspal, berlembar-lembar dia membaca, beribu-ribu kata ditulisnya.

Leher lelah menengok ke jam tangan di pergelangan kirinya. Sekarang sudah pukul enam kurang lima belas menit. Sebentar lagi dia akan datang menyapa, pikirnya. Beranjaklah dia, pelan, menuju pekarangan rumahnya. Tangan kanannya memegang cangkir kopi yang isinya bergoyang seraya langkahnya berangsur gontai. Beberapa tetes telah jatuh ke lantai. Nanti saja aku membersihkannya, pikirnya. Langkahnya yang semakin cepat mengusir kepeduliannya akan beberapa titik noda kopi yang jatuh itu. Makin lama makin jauh, jauh, semakin jauh.

Hap, duduklah dia di ayunan kecil di pekarangan. Tangan kanannya masih memegang gelas kopi dengan sedikit bergetar. Ayunan itu rupanya mempersulit untuk mendapatkan pijakan yang stabil dan pasti. Yah, apa daya tidak ada meja, Menahan sebentar pun tidak terasa. Setelah dirasa goyangannya melemah, dia menatap lurus ke arah barat di batas cakrawala. Hari ini cerah seperti biasanya di tengah tahun ini. Semburat jingga mulai nampak di pantulan kacamatanya. Makin lama makin kuat, makin dekat, makin intim, sampai akhirnya sang bola jingga muncul dengan gagah dan sempurna, bersanding di singgasanya yang adalah gradasi lemah biru langit khas enam sore.

"Selamat sore juga, senja. Terima kasih masih menungguku di rumah" bisiknya lirih.

Senyumnya lemah, tapi ikhlas dan apa-adanya.


-Yogyakarta, 18 April 2012-
Tepat Tengah malam dan kopi

Selasa, 06 Maret 2012

Jalan Kita Sedikit Berlubang

"Mohon Tidak Membuang Sampah Di Area Taman"

lalu ibu yang sedang merokok itu berdecak tidak puas. dia harus berjalan sedikit lebih jauh rupanya.

rumah sakit ini memang begitu. semuanya diatur dan semuanya teratur.

berapa jauh lagi sampai tempat sampah jingga itu? sepuluh meter? lima belas?

abu rokoknya sudah panjang namun belum jatuh. tangannya diposisikan horizontal.

ibu itu berdecak sekali lagi. matanya jengkel luar biasa.

akhirnya dia memutuskan untuk mendekati tempat sampah jingga itu. hanya dua belas meter dari tempat dia berdiri tadi rupanya.

plung, dibuanglah puntung rokoknya. hanya rokok putih biasa. tanpa cengkih dan rempah lain. khas - katanya - Amerika.

sang ibu segera mengeluarkan batang lainnya dari bungkus merah putih, tergesa.

sepertinya dia tidak akan beranjak. waktunya lebih berharga daripada berjalan membuang puntung rokok.

pemantiknya klasik dari perak. terukir juga tanggal pernikahannya. 24 Desember 1974.

bunyi "kling" terdengar lirih saat dia membuka tutup pemantiknya. sumbu tak kunjung menyala.

ibu itu berdecak lagi. rokoknya sudah menggantung di bibirnya. gabus penyaringnya pun sudah setengah basah. api? belum ada.

ada beberapa kali pengulangan. ibu jari kanannya sudah sedikit menghitam karena abu dan arang. belum juga tersulut rokoknya.

sampai akhirnya muncullah sang api. wajah ibu itu terlihat puas.

belum selesai hisapan pertama, pintu bangsal terbuka. perhatiannya teralihkan oleh sosok pria yang melangkah ke luar.

sang ibu sejenak tertegun. lalu rokok yang masih panjang itu dimatikan di tempat sampah jingga. 

langkahnya menjauh seiring dengan bara api yang perlahan padam.

"bagaimana?" tanyanya. suaranya sedikit tertahan.

"kanker. sudah menjalar rupanya" jawab pria yang baru keluar dari bangsal.

sang ibu menghela napas. menunduk. lalu dia menengadah, kembali menatap sang pria tepat pada matanya. tersenyum simpul.

"ayo pulang. aku sudah meminta Sulastri memasakkan ayam goreng mentega kesukaanmu. Johan juga sebentar lagi pulang" ujar sang ibu.

digandenglah tangan sang pria. lalu mereka berjalan menuju parkiran. langkah mereka pelan dan penuh keraguan.

langkah mereka terhenti sebentar di samping tempat sampah jingga. sang ibu merogoh kantong celananya. bungkus rokoknya masih ada.

bungkus rokok yang masih berat itu dikeluarkan dari kantongnya lalu dimasukkan ke tempat sampah jingga itu.

dan mereka meneruskan langkah mereka. tempat parkir mobil lebih terasa jauhnya daripada siang tadi. 

      
sebelumnya sudah diposkan di akun twitter saya, @luthfinggihmas, dengan hashtag #jalan

2 maret 2012 lalu
                    

Sabtu, 03 Maret 2012

Kopi Pak Kumis Masih Hangat

"kopi, kopi, teh hangat, jahe wangi", begitulah bapak berkumis itu berseru.

sambil terus berjalan gontai, menghindari tubuh-tubuh yang malang-melintang diserang lelah.

sesekali harap muncul di sinar matanya. "kopi pak?" sambil menyodorkan bungkus kopi lokal yang menggantung di termosnya.

ah, rupanya hanya bertemu pandang. tidak berujung uang. bapak berkumis itu menghela napas. lalu kembali menyusur gerbong.

gerbong berikutnya bertepatan dengan stasiun Purwokerto. mendadak saja cemas merangkak ke air muka sang bapak berkumis.

perhentian berarti pergantian. akan ada lagi legiun baru kopi panas dan jahe wangi yang naik ke rangkaian gerbong. 

langkah sang bapak berkumis semakin cepat. "kopi panas, teh hangat jahe wangi..." seruannya mengeras seadanya.

gerbong berikutnya. bapak berkumis berpapasan dengan pemuda berbaju band lokal. sama rata dengan termos dan kopi.

bapak berkumis mengangguk pelan dan tersenyum. namun sepertinya si pemuda berbaju band lokal tersebut tidak menyambutnya.

saling lewat tanpa sapa, terjadi begitu saja. pemuda ke gerbong tiga, bapak berkumis ke gerbong satu.  

mereka sudah semakin jauh. suara sang pemuda masih terdengar, walaupun sayup, di tengah riuh-rendah suasana. 

pita suara dikalahkan usia? mungkin. yang jelas bapak berkumis merasa yang menang adalah suasana.

klakson kereta sudah berbunyi nyaring. saatnya bapak berkumis turun dari singgasana. napas kembali terhela.

"kopinya pak. yang hangat-hangat" seruan terakhir dikeluarkan dengan sisa semangat. ah, tetap tidak terbalaskan.

mungkin memang hari ini bapak berkumis harus mengalah. dia lalu turun pelan-pelan dari gerbong.
   

"piye?" sambut temannya dengan tanya. sesama penjaja kopi juga rupanya. tapi yang ini tidak berkumis.

bapak berkumis hanya tersenyum. di belakangnya sang ular besi sudah mulai merangkak lagi menuju yogyakarta.

"sesuk luwih akeh sing tuku" jawab bapak berkumis kepada temannya yang tidak berkumis.

lalu mereka tertawa pelan namun ikhlas. tawa mereka terdengar manis di tengah hiruk-pikuk stasiun Purwokerto pagi itu.


yogyakarta, 1 Maret 2012
sebelumnya diposkan di twitter dengan akun @luthfinggihmas
hashtag #kereta

 
     

Minggu, 15 Januari 2012

Angkasa Luas Namun Terlalu Sempit

Terbanglah menuju Matahari, anakku. bawa semua harapmu bersamamu. Dengan pesawat ulang-alik berwarna putih bersih dan aksen garis hitam yang menandakan kecepatan tiada tanding. Bukankah jarak bertekuk lutut di hadapanmu? harap dan egomu lebih tinggi lompatannya daripada tembok bernama "jarak" itu. Segala stratosfer, ionosfer, eksosfer, ah. semuanya hanyalah lembara kertas yang bisa dengan mudah kau tembus. Karena kau lebih tajam dari sinar Gamma. Lihatlah. Sebelum kau selesai menghitung mundur dari sepuluh kau sudah mencapai jalur orbit bulan. 

Sembilan, kau menyentuh sabuk asteroid antara Mars dan Jupiter.
Delapan, Uranus sudah berada di garis cakrawalamu, siap untuk dilewati.
Tujuh, apakah itu Pluto? sudah berapa tahun setelah dia dikeluarkan dari perkumpulan planet pengeliling Matahari?
Enam, selubung solar sudah hampir tidak kau rasakan. panas matahari tidak menjamah kulitmu.
Lima, kapal Voyager baru saja kau lewati. Di sana benar-benar ada komposisi dari Johann Sebastian Bach, entah simfoni nomor berapa.
Empat, kau harus bergeser beberapa parsec ke kiri agar tidak tersedot lubang hitam itu.
Tiga, bintang itu sudah mati menjadi kurcaci putih. beratnya beribu kali Matahari tapi ukurannya lebih kecil dari pesawatmu.
Dua, Quasar dan Nebula banyak berserakan. kau adalah entitas selain tuhan yang menyaksikannya.
Satu, saatnya kau beristirahat dalam kantung tidur temperatur rendah. hibernas manusia menuju semesta lainnya.
Nol.

Kau masih tertidur dalam kapsul tidurmu. Kapan kau akan keluar? Akankah kau mencapai bumi lainnya saat kau terbangun nanti? Atau mungkin akhirnya matamu terbuka saat kapalmu menubruk permukaan planet baru, dengan tanah dan airnya sendiri?

Ah, tidak penting juga aku bertanya-tanya seperti itu.


Begitu kau sampai dan membuka mata, aku akan melakukan hal yang biasa aku lakukan: Tersenyum dan mengucapkan beberapa kata.

Sederhana saja. Seperti "Selamat pagi, jagoanku. Boleh ibu tahu sudah sampai mana perjalanan angkasamu malam tadi?"




- diambil dari cerita dengan hashtag #langit yang diambil dari akun twitter pribadi saya. @luthfinggihmas -
Yogyakarta, 16 Januari 2012
Beberapa bulan sebelum "Kiamat"

Minggu, 04 Desember 2011

Kerumunan Bermulut Aktif

aku tidak pernah menyangka kalau aku akan terperangkap selama beberapa belas jam di warung ini. warung yang penuh manusia dan sedikit hewan, bersuka-cita dan berkomunikasi antara satu dengan yang lainnya. semua moda eksekusi komunikasi dipraktekkan dan (sesekali) dinikmati oleh mereka, manusia dan hewan yang ada di sana. aku? aku tidak ikut mereka. tidak ada "dia" atau "kamu" atau "mereka" di depanku untuk menumpahkan karbon dioksida yang menggetarkan pita suara lalu keluar lewat mulut. membentuk kata-kata yang kadang waktu tidak jelas.

entah apa entah siapa atau mungkin juga bagaimana. tidak ada yang keluar dari mulutku. selama beberapa belas jam ini aku hanya melakukan input tanpa output. memesan makanan pun lewat tulisan. beberapa jam lagi terjebak di tempat ini dan aku akan menjadi seorang sastrawan yang - mudah-mudahan - bersertifikat. kerjaku hanya menulis tanpa menggerakkan bibir. a, i, u, e, o. ba, bi, bu, be, bo. urutan abjad vokal dan konsonan saling merenggut dan menggeliat, berpegangan erat dengan ujung jariku yang menekan tuts dengan aktif. tidak ada yang selesai. tetapi, aku lupa memberi kata "tetapi": di awal kalimatku tadi. gagal sudah aku menjadi sastrawan.

tiga puluh menit lewat dari huruf pertama tulisan ini. aku tidak sempat membaca. hanya berpikir dan menulis. berpikir tentang apa saja, berpikir tentang apa saja. aku tidak menulis untuk menyambung hidup ataupun menambah uang saku.

orang-orang dan hewan-hewan masih saja berbincang dan berbicara tentang apa saja. ingin sebenarnya aku menulis apa yang mereka semua bicarakan. kenapa itu bisa seru sekali?

tetapi yang kudengar hanya dengkuran.

bagaimana aku menulis dengkuran?


yogyakarta, 5 desember 2011
extra j*ss dan kretek nasional
sadar setengah sadar

Senin, 14 November 2011

Membuat Tuhan Mengerti

Setelah bersimpuh, bermusik, diam, bersimpuh sambil bermusik.
Berjalan-jalan dibutakan arah - oleh arah? - kembali ke awal.
kalau kata Soekarno: Jas Merah. Jangan Sekali-Sekali Melupakan Sejarah
Lalu tuhan melihat ke belakang.
Mengerti dan tidak paham.
Masih banyak bersimpuh dan bermusik dalam diam dan lamunan.

meledak!

Membuat Tuhan Bermain Musik

Aku di tengah laut kerumunan,
dihempas ide dan inspirasi.
dua juta pasang otak kiri-otak kanan menjurus pada pemusnahan.

Aku di tengah pantai ketenangan.
melihat kuda putih yang tidak kasat mata.
bergeming di antara deru ombak kerumunan dan perseteruan.

Aku di tengah gempa bumi.
mendengar sitar dan tabla mengisi kosong.
berdansa dengan hidup, tanpa makna tanpa dosa, kemudian mati.

Aku di tengah hutan putus asa.
berkuda menuju cahaya. putih dan membutakan.
lupa jiwa raga.

Aku di tengah para malaikat dan secarik kertas.
menjadi abu bagi yang kalah. menjadi arang bagi yang berperang.
tuhan dan musik surgawinya, tanpa batas. lemas.

Bermainlah dari nada E minor, tuhan. Kita tidak diam.

Membuat Tuhan Bersimpuh

dengan tulisan ini, saya akan membuat tuhan bersimpuh. entah untuk tujuan apa ataupun untuk permintaan apa. apapun. tuhan akan bersimpuh. kepada siapa akan bersimpuh itu tidak penting. tuhan tidak bisa dituliskan dengan "adalah". tetapi tuhan omnipoten. katanya bisa melakukan apa saja. 

pertama, kita bercermin. kita harus melihat lawan dari diri kita untuk membuat tuhan bersimpuh. kita bercermin dan perhatikan dengan seksama setiap lekuk yang digambarkan oleh cermin tersebut. setiap helai bulu yang menempel di gambar yang diproyeksikan oleh cermin tersebut. setiap inci kulit yang tergambar di cermin tersebut. lalu kita berpikir tentang semua detail kecil yang kita tangkap dari cermin tersebut.

kedua, kita angkat tangan ke udara. satu tangan saja. pilih tangan kesukaan kita. tangan yang biasa kita pakai untuk menyalami orang tua kita maupun yang kita pakai untuk membersihkan dubur kita dari kotoran yang tertinggal. setelah kita angkat tangan kita, pikirkan semua hal buruk yang pernah kita rasakan dari kita kecil hingga saat kita mengangkat satu tangan kita. 

ketiga dan terakhir, kita berlutut dan bersimpuh di hadapan cermin tadi. satu tangan terjulur. tetap berpikir akan detail-detail kecil. pejamkan mata kita. detail-detail kecil. karena hal tersebutlah yang membangun dunia yang besar dan seakan tanpa batas ini.

dan lihatlah.

tuhan telah bersimpuh.