Tampilkan postingan dengan label Cerita Bersambung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Bersambung. Tampilkan semua postingan

Senin, 07 Februari 2011

Mencoreng Ramayana ( 7 Dari 13 )

Apa sebenarnya yang menjadi beban dunia? Mata mereka mulai bertanya
Terusik keindahan dan kesombongan surga
Merapatlah harap ke pelabuhan-pelabuhan maya
Merajut jalan dari bongkah batu karang besar kecil
Dunia tumpuan, jauh dari bisik lembut para dewa

Dan para punggawa langit tersentak padahal terkuak
Pada murka dunia, murka raja, murka jelata
Semua beradu tangkas, memeluk satu tiang tatal
Sampailah dunia pada jatuh tempo kewajibannya
Tanah darah, tanah berkah, tanah airnya

Mata mereka melihat seadanya

Senin, 10 Januari 2011

Mencoreng Ramayana ( 6 Dari 13 )

Musik musik hati telah kembali diperdengarkan
Wahai manusia langit, sudah bukan waktumu memeluk takhta
Seorang bocah kecil, yang dahulu menangis terkena badai
Kini menggenggam ujung pelangi, membasuh lukanya dengan liur sendiri
Anehlah sudah dunia ini

Petaka datang dari ujung negara
Terpisah laut, terhantam karang menjemput asa
Mereka yang datang dari jauh, tanah yang terjanjikan
Sebenarnya mana kuasa mereka? Mana janji mereka?
Mimpi itu berakhir sebelum tidur abadi dimulai

Mata mereka mulai bertanya-tanya

Senin, 27 Desember 2010

Mencoreng Ramayana ( 5 Dari 13 )

Mungkin mereka bukan siapa-siapa, mungkin juga mereka apa-apa
Memikul dunia dengan bahunya dan menginjak derita dengan langkahnya
Meretas kerinduan akan lahirnya sesosok ibu di kaki langit
Belumlah puas rasanya darah, keringat dan air mata keilahian berkelit
Jagoan itu telah datang, Menelan surya menghalang petang

Mereka bukan apa-apa, melainkan siapa-siapa
Siapa yang dituju? Siapa yang ditiru?
Manusia, semua terlalu manusia
Dapatkah manusia melihat tanah yang terjanjikan, seperti halnya Dewata melihat kesucian dalam tubuh manusia yang renta oleh nafsu dan dosa?
Kita tidak memilih. Kita tidak dipilih

Mata mereka tertutup segalanya

Sabtu, 25 Desember 2010

Mencoreng Ramayana ( 4 Dari 13 )

Tanah terpilih berselimut api, api menjilat bekas luka
Kita menantang kelam menghidupi ketakutan di ambang kegagalan
Entah mereka mau mengerti, entah mereka akan mengerti
Terpacu bisu tergulung sunyi terbutakan cahaya sendiri
Dialog antara akal budi dengan nafsu hati ramai bergunjing

Tanah yang dijanjikan, terpisah jembatan menembus cakrawala
Terjurai di atas mega, mempermainkan persepsi
Dia yang datang dari jauh membawa kebaikan melawan sepuluh wajah keburukan
Mereka yang hakiki di dunia dan dia-dia yang terperangkap di khayangan
Perseteruan batin para dewa, apakah relevan dengan keadaan?

Mata mereka mungkin tahu segalanya

Sabtu, 11 Desember 2010

Gerhana Matahari ( 3 Dari 13 )

Jatuh terpuruk tertantang badai, menghela sepi dengan sendiri
kabut bayang terpancang menang kala sepi kini melenggang
Provokatif? Demonstratif? Siapa tahu?
Sudah seribu tahun dirasa lewat
Tanah berseru "Aku yang terpilih!", menyinggung keyakinan

Masih adakah cahaya yang tersisa? Apakah kita tenggelam selamanya?
Dingin mencaci pikiran, menantang bayang tak berujung
Inikah tanah yang dijanjikan? Inikah asa yang kau berikan?
Meringkuk di pojok ruang bertatahkan kuasa dan bahagia
Gelap semakin pekat, tangan terurai

Mata mereka mungkin tahu segalanya

Kamis, 09 Desember 2010

Gerhana Matahari ( 2 Dari 13 )

Jalan panjang merusak harapan, kelak badan remuk redam
Semakin menjadi semakin sendiri sang cahaya terpuruk
Angkat gerbang menuju tanah suci itu! Kita yang tercerahkan akan masuk!
Yang tercerahkan? Yang terjerumus?
Mimpi bukan hanya sekedar wacana kalau di balik itu semua nyata

Cahaya tertutup seluruhnya, kita semua telanjang di hadapannya
Gundah berangsur menjauh dari jalan panjang menuju harapan
Gerhana matahari. Gerhana  matahari. Gerhana matahari
Masih jauhkah lahan yang dijanjikan, O yang mulia?
Sebelah mata tertutup debu, kegelapan datang bagaikan deru

Mata mereka mungkin tahu segalanya

Rabu, 08 Desember 2010

Gerhana Matahari ( 1 Dari 13 )

Kala pandang terhalang cakrawala, asa terbang dari singgasana
Merajut mimpi, melawan sepi, merengkuh sang pemancar cahaya
Timur jauh lama menunggu yang tak jua bersinggah
Pecah. Tumpah-ruah. Kelak remuk redam
Asa mengghilang ditelan bayang

Datanglah, raihlah, ikutilah
Damai rembulan merayap pelan-pelan menguntit sang surya
Apa yang sebenarnya terjadi? Kapan dia jatuh?
Mencabut kehidupan anak cucu Adam dan Hawa
Dari mana?
Mata mereka tahu segalanya