KERTAS adalah putih dengan bercak bulat sempurna di bagian pinggirnya. bercak sewarna endapan kopi. itu pasti kopi. tidak ada pensil untuk mulai menulis, atau menggambar. semesta telah menggantung di depan mata, padahal. menengok perlahan ke kalender meja. simpel. merah dengan beberapa foto hasil teleskop Hubble. sekarang tanggal 23 Februari. tinggal beberapa hari lagi sebelum aku berangkat. 29 Februari. sudah ada lingkaran biru di tanggal itu.
Aku akan pergi ke Mars.
mimpi manusia yang tertinggal di bulan, 1969, akan tertutup oleh langkahku. dunia akan bangun dari tidurnya. sekarang manusia sudah bisa bermimpi di bulan. 75 tahun terlewat setelah langkah kecil Armstrong.
yang tentunya adalah langkah besar bagi kemanusiaan.
dari mereka yang tertidur di bulan, dengan segala udara dan gravitasi artifisialnya, mimpi untuk melangkah lagi semakin besar. aku salah satunya. duduk di depan meja kerja dengan secarik kertas kosong bernoda gelas kopi.
tanggal 23 februari pukul delapan lebih lima menit, waktu Mare Tranquilitatis. Koloni Goddard. Bulan.
aku bangga, sebenarnya. menjadi orang yang dipercaya mewakili langkah manusia menuju semesta. walaupun berbeda ribuan kilometer antara aku di sini dan mereka di "titik biru pucat" itu, langkah kami tetaplah sama. satu kaki menjejak ke depan kaki lainnya. menunggu kejutan semesta dengan debaran jantung tidak karuan.
Aku, meja kerja, kertas, noda kopi, kalender meja, 23 Februari, bulan.
sejenak terpikirkan: apa kabarnya mereka di sana? bagaimana lautan dan pantai yang menghampar di selatan Yogyakarta? bagaimana rasanya menghirup udara alami dari atmosfir yang bukan hasil kerja manusia? bagaimana rasanya menjejak kaki di tanah tanpa bantuan gravitasi rasa mesin? apa masih sama rasanya berbaring di tanah dan memandang bintang, seperti 24 tahun yang lalu? aku ingat rasanya, waktu aku sekolah dulu sering aku menyelinap ke luar pada malam hari. saat semua sudah tidur. pergi ke kawasan Candi Abang, masih di dekat Prambanan. lalu aku berbaring seadanya di rerumputan, memandang lautan bintang yang terasa jauh. jauh sekali. jarak yang harus kutempuh dan kubayar untuk bisa melewatinya. lalu aku pulang sebelum terang. sebelum semua orang rumah terbangun dan kembali beraktivitas.
Sekarang aku ada di permukaan bulan. melihat lautan bintang yang sama. hanya saja ditambah "titik biru pucat" yang besar sekali.
namun apa yang kurasa? jarak itu tetap ada. tetap tidak terbatas. walaupun aku telah meninggalkan Candi Abang sejauh ribuan kilometer ke atas. aku tetap merasakan jarak tak terhingga. jika aku sampai Mars nanti, apakah jarakku dengan lautan tersebut akan berkurang? aku, yang ingin segera sampai di lautan itu, apakah akan puas dengan jarak yang akan terpotong nantinya? walau nantinya akan ada koloni baru di Mars dan siap melangkah lagi, apakah jaraknya akan semakin habis?
Merenung. terdiam. kertasku masih kosong. kertas kosong tanpa ada apa-apa. melambangkan semesta yang maha luas. aku tersesat di dalamnya.
ah, aku tahu apa yang akan aku tulis di kertas ini.
aku akan menulis tentang rencanaku sepulangnya dari Mars nanti. yah, masih delapan tahun lagi, sih.
tapi tidak apa-apa. toh jarakku dengan lautan utopia tersebut tidak kemana-mana kan?
setelah pulang nanti, aku akan mengajakmu berjalan-jalan keliling bumi dan bulan. setelah itu mungkin aku akan melamarmu. tidak. aku akan melamarmu. bukan mungkin melamarmu. lalu kita akan mempunyai rumah sederhana dan anak-anak yang sempurna.
dan aku akan mengajak kalian liburan ke laut. lautan bintang yang luas.
memang, jarak antara aku dan lautan itu sangat jauh. tidak bisa dibayangkan. tapi nanti kita akan pergi bersama-sama. dengan anak-anak kita juga.
mungkin kamu akan bingung dan bertanya kenapa aku berangan-angan seperti itu.
sederhana. Semesta ini terlalu luas jika aku harus berjalan sendiri saja.
-Jakarta, 8 Februari 2012-
05:35 pagi. sebelumnya dibuat di akun twitter saya (@luthfinggihmas) dengan hashtag #angkasa
Selasa, 07 Februari 2012
Minggu, 15 Januari 2012
Angkasa Luas Namun Terlalu Sempit
Terbanglah menuju Matahari, anakku. bawa semua harapmu bersamamu. Dengan pesawat ulang-alik berwarna putih bersih dan aksen garis hitam yang menandakan kecepatan tiada tanding. Bukankah jarak bertekuk lutut di hadapanmu? harap dan egomu lebih tinggi lompatannya daripada tembok bernama "jarak" itu. Segala stratosfer, ionosfer, eksosfer, ah. semuanya hanyalah lembara kertas yang bisa dengan mudah kau tembus. Karena kau lebih tajam dari sinar Gamma. Lihatlah. Sebelum kau selesai menghitung mundur dari sepuluh kau sudah mencapai jalur orbit bulan.
Sembilan, kau menyentuh sabuk asteroid antara Mars dan Jupiter.
Delapan, Uranus sudah berada di garis cakrawalamu, siap untuk dilewati.
Tujuh, apakah itu Pluto? sudah berapa tahun setelah dia dikeluarkan dari perkumpulan planet pengeliling Matahari?
Enam, selubung solar sudah hampir tidak kau rasakan. panas matahari tidak menjamah kulitmu.
Lima, kapal Voyager baru saja kau lewati. Di sana benar-benar ada komposisi dari Johann Sebastian Bach, entah simfoni nomor berapa.
Empat, kau harus bergeser beberapa parsec ke kiri agar tidak tersedot lubang hitam itu.
Tiga, bintang itu sudah mati menjadi kurcaci putih. beratnya beribu kali Matahari tapi ukurannya lebih kecil dari pesawatmu.
Dua, Quasar dan Nebula banyak berserakan. kau adalah entitas selain tuhan yang menyaksikannya.
Satu, saatnya kau beristirahat dalam kantung tidur temperatur rendah. hibernas manusia menuju semesta lainnya.
Nol.
Kau masih tertidur dalam kapsul tidurmu. Kapan kau akan keluar? Akankah kau mencapai bumi lainnya saat kau terbangun nanti? Atau mungkin akhirnya matamu terbuka saat kapalmu menubruk permukaan planet baru, dengan tanah dan airnya sendiri?
Ah, tidak penting juga aku bertanya-tanya seperti itu.
Begitu kau sampai dan membuka mata, aku akan melakukan hal yang biasa aku lakukan: Tersenyum dan mengucapkan beberapa kata.
Sederhana saja. Seperti "Selamat pagi, jagoanku. Boleh ibu tahu sudah sampai mana perjalanan angkasamu malam tadi?"
- diambil dari cerita dengan hashtag #langit yang diambil dari akun twitter pribadi saya. @luthfinggihmas -
Yogyakarta, 16 Januari 2012
Beberapa bulan sebelum "Kiamat"
Sembilan, kau menyentuh sabuk asteroid antara Mars dan Jupiter.
Delapan, Uranus sudah berada di garis cakrawalamu, siap untuk dilewati.
Tujuh, apakah itu Pluto? sudah berapa tahun setelah dia dikeluarkan dari perkumpulan planet pengeliling Matahari?
Enam, selubung solar sudah hampir tidak kau rasakan. panas matahari tidak menjamah kulitmu.
Lima, kapal Voyager baru saja kau lewati. Di sana benar-benar ada komposisi dari Johann Sebastian Bach, entah simfoni nomor berapa.
Empat, kau harus bergeser beberapa parsec ke kiri agar tidak tersedot lubang hitam itu.
Tiga, bintang itu sudah mati menjadi kurcaci putih. beratnya beribu kali Matahari tapi ukurannya lebih kecil dari pesawatmu.
Dua, Quasar dan Nebula banyak berserakan. kau adalah entitas selain tuhan yang menyaksikannya.
Satu, saatnya kau beristirahat dalam kantung tidur temperatur rendah. hibernas manusia menuju semesta lainnya.
Nol.
Kau masih tertidur dalam kapsul tidurmu. Kapan kau akan keluar? Akankah kau mencapai bumi lainnya saat kau terbangun nanti? Atau mungkin akhirnya matamu terbuka saat kapalmu menubruk permukaan planet baru, dengan tanah dan airnya sendiri?
Ah, tidak penting juga aku bertanya-tanya seperti itu.
Begitu kau sampai dan membuka mata, aku akan melakukan hal yang biasa aku lakukan: Tersenyum dan mengucapkan beberapa kata.
Sederhana saja. Seperti "Selamat pagi, jagoanku. Boleh ibu tahu sudah sampai mana perjalanan angkasamu malam tadi?"
- diambil dari cerita dengan hashtag #langit yang diambil dari akun twitter pribadi saya. @luthfinggihmas -
Yogyakarta, 16 Januari 2012
Beberapa bulan sebelum "Kiamat"
Senin, 12 Desember 2011
Lack of Light
we are free. we are kids. we are young. we are restless. we are unstoppable. we are one. we are many.
and we are out of control.
and we are out of control.
Minggu, 04 Desember 2011
Kerumunan Bermulut Aktif
aku tidak pernah menyangka kalau aku akan terperangkap selama beberapa belas jam di warung ini. warung yang penuh manusia dan sedikit hewan, bersuka-cita dan berkomunikasi antara satu dengan yang lainnya. semua moda eksekusi komunikasi dipraktekkan dan (sesekali) dinikmati oleh mereka, manusia dan hewan yang ada di sana. aku? aku tidak ikut mereka. tidak ada "dia" atau "kamu" atau "mereka" di depanku untuk menumpahkan karbon dioksida yang menggetarkan pita suara lalu keluar lewat mulut. membentuk kata-kata yang kadang waktu tidak jelas.
entah apa entah siapa atau mungkin juga bagaimana. tidak ada yang keluar dari mulutku. selama beberapa belas jam ini aku hanya melakukan input tanpa output. memesan makanan pun lewat tulisan. beberapa jam lagi terjebak di tempat ini dan aku akan menjadi seorang sastrawan yang - mudah-mudahan - bersertifikat. kerjaku hanya menulis tanpa menggerakkan bibir. a, i, u, e, o. ba, bi, bu, be, bo. urutan abjad vokal dan konsonan saling merenggut dan menggeliat, berpegangan erat dengan ujung jariku yang menekan tuts dengan aktif. tidak ada yang selesai. tetapi, aku lupa memberi kata "tetapi": di awal kalimatku tadi. gagal sudah aku menjadi sastrawan.
tiga puluh menit lewat dari huruf pertama tulisan ini. aku tidak sempat membaca. hanya berpikir dan menulis. berpikir tentang apa saja, berpikir tentang apa saja. aku tidak menulis untuk menyambung hidup ataupun menambah uang saku.
orang-orang dan hewan-hewan masih saja berbincang dan berbicara tentang apa saja. ingin sebenarnya aku menulis apa yang mereka semua bicarakan. kenapa itu bisa seru sekali?
tetapi yang kudengar hanya dengkuran.
bagaimana aku menulis dengkuran?
yogyakarta, 5 desember 2011
extra j*ss dan kretek nasional
sadar setengah sadar
entah apa entah siapa atau mungkin juga bagaimana. tidak ada yang keluar dari mulutku. selama beberapa belas jam ini aku hanya melakukan input tanpa output. memesan makanan pun lewat tulisan. beberapa jam lagi terjebak di tempat ini dan aku akan menjadi seorang sastrawan yang - mudah-mudahan - bersertifikat. kerjaku hanya menulis tanpa menggerakkan bibir. a, i, u, e, o. ba, bi, bu, be, bo. urutan abjad vokal dan konsonan saling merenggut dan menggeliat, berpegangan erat dengan ujung jariku yang menekan tuts dengan aktif. tidak ada yang selesai. tetapi, aku lupa memberi kata "tetapi": di awal kalimatku tadi. gagal sudah aku menjadi sastrawan.
tiga puluh menit lewat dari huruf pertama tulisan ini. aku tidak sempat membaca. hanya berpikir dan menulis. berpikir tentang apa saja, berpikir tentang apa saja. aku tidak menulis untuk menyambung hidup ataupun menambah uang saku.
orang-orang dan hewan-hewan masih saja berbincang dan berbicara tentang apa saja. ingin sebenarnya aku menulis apa yang mereka semua bicarakan. kenapa itu bisa seru sekali?
tetapi yang kudengar hanya dengkuran.
bagaimana aku menulis dengkuran?
yogyakarta, 5 desember 2011
extra j*ss dan kretek nasional
sadar setengah sadar
Minggu, 20 November 2011
Malu
"adakah yang ingin berlayar lagi?" tanya sang ayah kepada dua anaknya yang baru saja mendengarkan ceritanya dengan diam dan mata terbelalak. ingin tahu dan senang, juga penasaran. bukanlah terbelalak karena ketakutan atau terkejut. bagaimana mereka bisa terkejut dan ketakutan kalau yang diceritakan adalah sebuah petualangan seru ke dunia khayal yang tidak terjangkau oleh lima indera mereka? ayah mereka memang seorang yang istimewa. apa yang diceritakannya selalu bernafas dan bergerak di depan mata dua anaknya. berbisik lalu berteriak untuk lubang telinganya. mengelus lembut lalu sesekali menampar kulit muda mereka. semuanya ada dan semuanya nyata, lagi tidak terjangkau. benar-benar ajaib.
sang ayah hanya bercerita tentang seorang yang berlayar meninggalkan rumahnya untuk mencari pengalaman. berbekal nasi kepal dan air putih secukupnya. rakitnya pun hanya dari beberapa batang kayu yang disusun asal-asalan, lebih mirip ikatan kayu bakar daripada rakit sederhana. tapi toh itu bisa mengapung. setidaknya membawanya selangkah menuju dunia yang lebih luas. selangkah menuju keberadaan yang lebih sempit.
berlayar dan berlayar, semakin jauh dari daratan menuju daratan lain yang semakin mendekat. rakitnya masih bertahan dan semakin kuat seiring dengan ombak yang setia menghajarnya. beberapa monster laut: naga, ikan, leviathan, cumi-cumi raksasa sampai gorilla setengah ular beberapa kali menghalangi pelayarannya. namun dengan kekuatan dan keteguhan dia bisa menghadapinya. segalanya menjadi catatan manis keberhasilan dalam perjalanan. semakin dekatlah dia dengan tanah tujuannya. tanah emas dan masa muda abadi.
sampai akhirnya dia sampai di tanah emas itu. segalanya berkilau sampai ujung cakrawala. emas tanpa akhir. masa muda tanpa akhir.
di mana sang ayah sedang berada di ambang perceraian.
lalu sang ayah menangis.
"dia seharusnya malu"
Yogyakarta, 21 November 2011
1.59 pagi
tanpa rokok dan teh dingin
semua senang
Langganan:
Postingan (Atom)
