Aku menengadah menghadap langit, berharap ada tangan bercahaya terulur ke arahku. Lalu mungkin aku akan terbaring lemah di kasur yang berisi kapuk mati ini. Milikmu, ya, milikmu. Kasur ini milikmu. Kasur yang tidak berada dalam kungkungan empat sisi tembok dan eternit di atasnya, langsung berhadapan dengan langit. Di sekelilingku adalah hamparan pasir abu-kecoklatan yang motifnya - sedikit banyak - mirip dengan corak calico untuk bulu kucing. Hampar pasir ini pun milikmu, walau kamu tidak menyadarinya.
Langit yang kupandang kosong dari tadi juga polos. Hitam dengan titik-titik putih bintang yang sesekali muncul lalu meredup lalu mati, untuk selanjutnya muncul, meredup, dan mati di tempat lain. Tempat lain yang mungkin aku tidak melihatnya (atau tidak menyadari sehingga aku tidak melihatnya). Aku sudah beberapa jam termenung dalam posisi seperti ini. Tangan bercahaya yang kuharap akan datang, sehingga tungguku tidak sia-sia, belum juga datang. Belum sia-sia. Masih belum sia-sia. Tapi, aku bisa saja mendadak menyadari kalau tangan bercahaya yang kutunggu itu sebenarnya bersifat sama seperti bintang: bisa muncul, meredup, lalu menghilang. Tanpa aku melihatnya atau menyadarinya. Toh, itu bukan tanganmu, aku tidak tahu. Yang penting aku tetap mencintaimu walau aku menunggu tangan bercahaya terulur turun dari langit.
Karena "dia" tidak aku ketahui. Sedangkan kamu, aku mengetahuimu apa-adanya.
-Yogyakarta, 17 Juni 2012-
sekitar dua jam tiga puluh menit
lewat tengah malam
Sabtu, 16 Juni 2012
Jumat, 15 Juni 2012
Merry Christmas, Freak
The night is high and we can barely feel our toe because of the cold
Our clothes, oh our trousers and coats, can't hold the chill. Oh, the chill
It's Christmas time. This cold European soil is drenched in snow.
Yes, we can hear the tingling sound of Christmas carols from the other side of the wall
Let me ease the cold for you, to help you pull through
With the way that only i know how, to dance and raise your eyebrow
To sing and chant and frolic in my coat and trouser. To heat your every sense
I'll be on the smaller stage at the freak show. To make everybody happy and probably laugh
And to make everybody forget about the exhaustion and coldness of Christmas
Yes, i'll be on the smaller tent in your freak show
-16th of June, 2012-
After Midnight
Rabu, 13 Juni 2012
Ibu Bersumpah
Kamu meninggalkan jejak di karpet dunia tanpa sempat berkeluh dulu, lalu hilang. Ke mana?
Berjalanlah kamu di atas karpet dunia. Karpetku. Mati pun kelak kau di situ
Untuk tanganmu yang telah berlumur darah, merah, saudaramu. Kau akan berjalan selamanya.
Ayahmu. Ayahmu. Ibumu, yang sengaja-tidak sengaja merelakan rahimnya untuk kau huni sembilan bulan sepuluh hari.
Dan saudaramu juga, sembilan bulan sepuluh hari.
Kamu tinggalkan dia di dalam tanah merah. Mungkin kering karena sapuan anginku. Tapi masih berbau
Kelak kamu akan menyusul beristirahat di dalam tanah merahku, di bawah karpetku. Mungkin sebagai pengganti rahim ibumu. ibumu.
Lalu hilang. Mati satu tumbuh tak terbatas.
Untuk pembunuhan selanjutnya, untuk pengembalian selanjutnya
Dari rahimku lahir ibumu, ayahmu. Dari rahimnya lahir kamu. Kembalilah, setelah kamu lelah meninggalkan jejak langkah
Karena itu sumpahku sebagai Ibu.
-Yogyakarta, 14 Juni 2012-
03.45 a.m.
Rindu
Berjalanlah kamu di atas karpet dunia. Karpetku. Mati pun kelak kau di situ
Untuk tanganmu yang telah berlumur darah, merah, saudaramu. Kau akan berjalan selamanya.
Ayahmu. Ayahmu. Ibumu, yang sengaja-tidak sengaja merelakan rahimnya untuk kau huni sembilan bulan sepuluh hari.
Dan saudaramu juga, sembilan bulan sepuluh hari.
Kamu tinggalkan dia di dalam tanah merah. Mungkin kering karena sapuan anginku. Tapi masih berbau
Kelak kamu akan menyusul beristirahat di dalam tanah merahku, di bawah karpetku. Mungkin sebagai pengganti rahim ibumu. ibumu.
Lalu hilang. Mati satu tumbuh tak terbatas.
Untuk pembunuhan selanjutnya, untuk pengembalian selanjutnya
Dari rahimku lahir ibumu, ayahmu. Dari rahimnya lahir kamu. Kembalilah, setelah kamu lelah meninggalkan jejak langkah
Karena itu sumpahku sebagai Ibu.
-Yogyakarta, 14 Juni 2012-
03.45 a.m.
Rindu
Selasa, 17 April 2012
Selamat Sore, Senja
Melawan kantuk untuk melihat senja. Ya, dia memang mempunyai pendirian yang kuat sejak dia kecil. Apa yang diinginkan pasti terlaksana walaupun kadang membutuhkan waktu yang lama. Sama seperti hari ini. Mengabaikan pejaman mata pada malam berikutnya karena rupanya pendar layar komputer jinjing memaksa matanya untuk berasyik-masyuk, bercumbu rayu sampai lintas dua belas malam. Sekarang? Tubuhnya sudah lemas, hanya bersandar di sofa kulit hijau muda. Komputer jinjing masih terbuka di meja kopi di depannya.
Senja mungkin adalah sesuatu yang sangat berharga untuknya. Dia, yang sehari-harinya harus membelah aspal menuju rutinitas, harus membaca berlembar-lembar jurnal dan artikel, harus menyusur buku dengan pena, harus membayar gairah dengan lelah, mungkin menemukan damai dan kekuatan dari senja. Senja sendiri baginya tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata: mengapa senja bisa begitu menarik dirinya? Apa yang membuat senja begitu kuat sampai dia bisa mengabaikan rasa lelahnya? Mungkin karena senja itulah yang menyambutnya di rumah. Lembayung jingga beradu birunya cakrawala itulah yang setia menyapanya setelah berjam-jam dia membelah aspal, berlembar-lembar dia membaca, beribu-ribu kata ditulisnya.
Leher lelah menengok ke jam tangan di pergelangan kirinya. Sekarang sudah pukul enam kurang lima belas menit. Sebentar lagi dia akan datang menyapa, pikirnya. Beranjaklah dia, pelan, menuju pekarangan rumahnya. Tangan kanannya memegang cangkir kopi yang isinya bergoyang seraya langkahnya berangsur gontai. Beberapa tetes telah jatuh ke lantai. Nanti saja aku membersihkannya, pikirnya. Langkahnya yang semakin cepat mengusir kepeduliannya akan beberapa titik noda kopi yang jatuh itu. Makin lama makin jauh, jauh, semakin jauh.
Hap, duduklah dia di ayunan kecil di pekarangan. Tangan kanannya masih memegang gelas kopi dengan sedikit bergetar. Ayunan itu rupanya mempersulit untuk mendapatkan pijakan yang stabil dan pasti. Yah, apa daya tidak ada meja, Menahan sebentar pun tidak terasa. Setelah dirasa goyangannya melemah, dia menatap lurus ke arah barat di batas cakrawala. Hari ini cerah seperti biasanya di tengah tahun ini. Semburat jingga mulai nampak di pantulan kacamatanya. Makin lama makin kuat, makin dekat, makin intim, sampai akhirnya sang bola jingga muncul dengan gagah dan sempurna, bersanding di singgasanya yang adalah gradasi lemah biru langit khas enam sore.
"Selamat sore juga, senja. Terima kasih masih menungguku di rumah" bisiknya lirih.
Senyumnya lemah, tapi ikhlas dan apa-adanya.
-Yogyakarta, 18 April 2012-
Tepat Tengah malam dan kopi
Senja mungkin adalah sesuatu yang sangat berharga untuknya. Dia, yang sehari-harinya harus membelah aspal menuju rutinitas, harus membaca berlembar-lembar jurnal dan artikel, harus menyusur buku dengan pena, harus membayar gairah dengan lelah, mungkin menemukan damai dan kekuatan dari senja. Senja sendiri baginya tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata: mengapa senja bisa begitu menarik dirinya? Apa yang membuat senja begitu kuat sampai dia bisa mengabaikan rasa lelahnya? Mungkin karena senja itulah yang menyambutnya di rumah. Lembayung jingga beradu birunya cakrawala itulah yang setia menyapanya setelah berjam-jam dia membelah aspal, berlembar-lembar dia membaca, beribu-ribu kata ditulisnya.
Leher lelah menengok ke jam tangan di pergelangan kirinya. Sekarang sudah pukul enam kurang lima belas menit. Sebentar lagi dia akan datang menyapa, pikirnya. Beranjaklah dia, pelan, menuju pekarangan rumahnya. Tangan kanannya memegang cangkir kopi yang isinya bergoyang seraya langkahnya berangsur gontai. Beberapa tetes telah jatuh ke lantai. Nanti saja aku membersihkannya, pikirnya. Langkahnya yang semakin cepat mengusir kepeduliannya akan beberapa titik noda kopi yang jatuh itu. Makin lama makin jauh, jauh, semakin jauh.
Hap, duduklah dia di ayunan kecil di pekarangan. Tangan kanannya masih memegang gelas kopi dengan sedikit bergetar. Ayunan itu rupanya mempersulit untuk mendapatkan pijakan yang stabil dan pasti. Yah, apa daya tidak ada meja, Menahan sebentar pun tidak terasa. Setelah dirasa goyangannya melemah, dia menatap lurus ke arah barat di batas cakrawala. Hari ini cerah seperti biasanya di tengah tahun ini. Semburat jingga mulai nampak di pantulan kacamatanya. Makin lama makin kuat, makin dekat, makin intim, sampai akhirnya sang bola jingga muncul dengan gagah dan sempurna, bersanding di singgasanya yang adalah gradasi lemah biru langit khas enam sore.
"Selamat sore juga, senja. Terima kasih masih menungguku di rumah" bisiknya lirih.
Senyumnya lemah, tapi ikhlas dan apa-adanya.
-Yogyakarta, 18 April 2012-
Tepat Tengah malam dan kopi
Kamis, 05 April 2012
Tanganmu, Wahai Dewi Kali
Genggamlah, anak-anakku. Genggam tangan ibumu ini, Sang Dewi Kali. Dewi waktu. Dewi yang bisa menginjak siwa dalam tariannya.
Genggamlah, anak-anakku. Genggam tangan ibumu ini, Sang Dewi Kali. Sang Kalaratri, Sang Malam yang hitam dan kelam.
Genggamlah, anak-anakku. Genggam tangan ibumu ini, Sang Dewi Kali. Dewi Kematian. Pemegang akhir sang iblis Raktabija.
Genggamlah, anak-anakku. Genggam tangan ibumu ini, Sang Dewi Kali. Dewi Akhir. Aku yang dipanggil oleh Durga karena ketidak-mampuannya.
Genggamlah, anak-anakku. Genggam tangan ibumu ini, Sang Dewi Kali. Sang Kalaratri, Sang Malam yang hitam dan kelam.
Genggamlah, anak-anakku. Genggam tangan ibumu ini, Sang Dewi Kali. Dewi Kematian. Pemegang akhir sang iblis Raktabija.
Genggamlah, anak-anakku. Genggam tangan ibumu ini, Sang Dewi Kali. Dewi Akhir. Aku yang dipanggil oleh Durga karena ketidak-mampuannya.
Langganan:
Postingan (Atom)
