Jumat, 06 Mei 2011

Random Thoughts

Once again we sit on the same place as years ago. The scent of the coffee (not the same as years ago, though) is still hanging on the ceiling. We laugh, laugh until our tears come out just because one or two silly things. It's amazing how we can neglect all the world behind and believe that coffee is the antithesis of those pains and misery.

We are the children of the past, the friends of the present and the parents of the future.

-6th of April, 2011/Yogyakarta-

Minggu, 17 April 2011

Tindak-Tanduk

Dunia gila. Orang berkelakar semaunya. Otak mereka semua terbuat dari es krim? Mungkin. Entah. Yang pasti dunia jadi semakin menarik untuk mereka yang mengamati dari sisi berbeda. Kemajuan? Kita masih berevolusi, bung. Biarlah semua peristiwa terjadi dan kita semua tersenyum lalu membuat permata dari tengah lumpur panas itu. Berkaryalah, manusia!

Bahkan kantor polisi pun bisa diledakkan! 

Sabtu, 09 April 2011

Manusia-Manusia Seputar Dunia

Lihatlah! Mereka tergeletak di tengah padang!
Menunggu personifikasi Musa menyelamatkan mereka
Sungai darah memaksa mereka tercerabut. Dari akar mereka.


Dan sungguh-sungguh mereka tidak menduga bahwa mimpi mereka tidak nyata
Tanah padang itu terlalu fana. Mereka merindukan sentuhan ilahi
Dalam setiap pelarian, dalam setiap pengasingan
Mereka manusia di seputar dunia kita

Yogyakarta, 9 April 2011

Minggu, 03 April 2011

A Hint For Everyday Life.

On the beginning there was a little boy. He was young and fair. His world was like a walk in the park. No frills, no objections, no challenges. 

He found that his little precious life was so perfect it had a flaw.

That flaw was monochrome. His life was too monochromatic.

He began to get bored. So bored. So he embarked on a journey to find colors.

He traveled a long, long way around the universe, finding different worlds along the way.

But he didn't met the perfect, colorful world. The one which he sought after the most.

So he kept on walking.

                                                         And walking,

                                                                  and walking,

                                                                                and walking,

Until he arrived at his own world. His very start.

It sounds like an unsuccessful journey.

Or perhaps the story itself is a failure.


The boy did found his ideal world.

It was there. Waiting for the boy to find it.

Sabtu, 05 Maret 2011

Paranoia

Cerita dimulai dengan sepasang kekasih yang menghadapi akhir hubungan cinta mereka. Pertengkaran adalah hal yang lumrah di ujung jurang itu. Segala binatang dan kekejaman manusia di dunia menghambur lewat sepasang mulut anak manusia. hari akhir adalah yang terakhir terlintas dalam pikiran mereka. langit seakan tertawa melihat kenistaan dan keburukan dalam dunia mereka. ya. dunia mereka terpisah dengan dunia lainnya. dan seperti itulah keadaan dalam jagat distopia, setting utama percaturan ini. dunia untuk masing-masing individu. dan kebetulan dunia mereka yang diangkat menjadi cerita,

Peperangan hebat macam Bharatayudha tidaklah memegang tingkat di hadapan dunia mereka. perang negara adikuasa dan digdaya terlihat seperti canda tawa. perkelahian hati di sana-sini, itulah yang menerangi dunia mereka, dua manusia yang berseteru. cinta ada diatas segalanya. caci maki remuk redam keluar hanya karena cinta. da apakah mereka mempertahankan? tidak! seteru dunia justru karena proses pemisahan cinta. masalah menggelembung menjadi tidak manusiawi, padahal mereka terlalu manusia. beradu ide bergulat pikiran hanya karena masalah mereka hidup bersama.

Yah, pertengkaran seperti itu mudahlah kita temui dalam kehidupan kita sehari-hari. bukan hanya mereka, kehidupan kita sebagai manusia pun sebenarnya bisa saja dijadikan contoh. kita semua ada karena dunia kita ada. kita berbeda dengan orang lain karena dunia kita berbeda. maka dari itulah kesempata ini sangat bagus untuk berkaca, memandang jauh ke dalah dunia bolak-balik tanpa jenuh. pandangan mata kita adalah jalur hidup bayangan kita di sisi lain cermin tersebut. dan berapa kali kita bertengkar karena "cinta"? berapa kali kita berjibaku karenanya? tidak terhitung, mungkin. karena kita tidak bisa lepas dari cinta. entah itu cinta akan apa saja. kita manusia bisa memilih, dan akan memilih cinta kita sendiri.

Bagaimana dengan perseteruan dan dansa di ujung neraka karena cinta, seperti yang diceritakan di awal tadi? itu hanyalah pancingan untuk anda sekalian, pembaca. musuh abadi kita adalah cinta itu sendiri. lalu bagaimana dengan peniadaan cinta agar hidup kita tanpa bencana? jika hal tersebut dijadikan patokan, apa guna kita hidup? ingat, pembaca. hidup kita ada karena cinta ada. cinta itu begitu kuat. begitu menggenggam. begitu hakiki.

Dengan begitu, cinta menjadi sumber ketakutan terbesar kita.

Kita hidup dalam ketakutan, pembaca. Jangan pernah keluar dari ketakutan tersebut.