Laki-Laki, berjalan gontai menuju singgasananya.
Terpukau dengan apa yang digenggam, setir dan haluan,
Untuk lari. Mencoba mandiri. Lupa.
Lupa dan melupakan. Suci dan menyucikan.
Membiarkan diri tergoda kursi tanpa isi. Kamu adalah musibah.
Tanpa tahu apa itu wanita.
Minggu, 03 Maret 2013
Selasa, 26 Februari 2013
1045 Kata Untuk Rudi dan Asapnya
TERPROVOKASI
oleh teman-temannya di kampus, Rudi mulai mengambil sebatang rokok dari bungkus
lusuh yang tergeletak di depannya. Dominan merah dengan sedikit aksen hitam dan
garis emas sebagai pemanis. Serr, terasa
sebulir keringat berjalan lancar dari tengkuk menuju punggungnya: mampukah
Rudi? Siapkah Rudi? 18 tahun sejarah hidupnya sebagai Rudi Cahya Juniarto tidak
pernah cacat ternoda oleh sebatang rokok. Pun, apakah sebatang rokok cukup
untuk menoreh noda di hidupnya? Lurus saja, pikirnya. Rudi akhirnya menyelipkan
sebatang rokok tersebut di antara bibirnya. Mata terpejam sejenak, satu
hembusan napas keluar, dan jress.
Lidah api kecil menari di ujung batang rokok disertai tarikan yang dalam. Ah,
pulpen takdir menorehkan satu kata lagi di kertas hidup Rudi: Sebatang rokok.
Bersamaan
dengan arus nikotin yang menyeruak tidak sabar untuk memenuhi paru-parunya,
seketika pula otak Rudi terhenyak. Rasa pusing menggempur setiap sisi otaknya.
Mual dan sebah memenuhi perutnya. Batuk seakan-akan meronta dengan protes:
Bebaskan kami! Tapi Rudi terdiam dalam pejamnya. Dia tidak boleh batuk. Dia tidak akan batuk. Rudi tidak mau
menyerah. Seraya otaknya mulai berangsur tenang dan mualnya hilang, asap sisa
tarikan rokok pertamanya dihembuskan keluar. Bebas. Rudi bebas. Rudi adalah
kapten dari kapalnya sendiri. Akhirnya Rudi menjadi kapten di kapalnya sendiri.
Setidaknya
aku tidak apa-apa, batin Rudi. Satu batang rokok ini adalah langkah selanjutnya
dari hidup Rudi. Anak tangga lain yang harus dipijak untuk nantinya berhadapan
dengan anak tangga lainnya. Terus, terus, dan terus sampai ke lantai
selanjutnya. Aku tidak apa-apa, sekali lagi Rudi memantapkan dirinya. Hisap
lagi dan tarik lagi, Rudi. Matanya sudah tak terpejam untuk yang kedua ini.
Hap, seketika dunia menjadi gelap saat asap rokok menyentuh paru-parunya.
Pusing dan linu tak tertahankan menusuk setiap jengkal tubuhnya, luar dan
dalam. Tersiksa, semi Neraka. Apa kiranya yang akan menyambut Rudi di ujung
lorong yang bercahaya itu? Setidaknya aku tidak apa-apa, batin Rudi dalam
perjalanan batinnya. Ya, setidaknya Kau tidak apa-apa, Rudi. Toh, ujung lorong
itu mungkin adalah anak tangga selanjutnya yang harus kau jejak.
::::::::::
TERBEBAS
dari kekangan tidur jam sembilan malam, Rudi merasa bahwa dia sekarang adalah
laki-laki seutuhnya. Menyelinap dengan langkah ninja untuk menonton televisi
tengah malam, atau hanya sekedar duduk diam di teras menikmati asap obat nyamuk
yang melingkar membentuk pola fraktal di udara yang menggantung tepat di bawah
sinar bohlam kuning. Syahdu, sedikit sendu, namun penuh kemenangan. Rudi berhasil
keluar kamar tanpa diketahui: Dia adalah pemberontak. Dia semakin dekat dengan
bajak laut yang selalu menghampiri imajinya setiap malam. Dia menjadi koboi di
belah barat Amerika seperti dalam lamunannya. Aku adalah kapten kapalku
sendiri, batinnya. Walau sesekali Rudi harus menoleh dengan paranoia kecil dia
merasa bahwa itu hal setimpal baginya untuk menikmati kebebasan. Kebebasan
memberontak.
Rudi
kecil menatap tarian asap obat nyamuk dalam-dalam. Menari tanpa batas dan
aturan baku, rindu akan keleluasaan. Hebat, pikirnya. Mungkin belum waktunya
bagi Rudi untuk mengerti bahwa kesederhanaan bisa membuatnya bahagi layaknya
Sang Asap yang juga sederhana. Kadang asap itu naik seperti memanjat tangga
maya menuju bohlam (mungkin seperti ngengat? Yang mana cahaya selalu
dirindukannya), lalu tiba-tiba jatuh menyentuh wajah kecil Rudi dengan lembut
dan manja, membuatnya terbatuk. Batuk yang berbahaya: Apakah orangtuaku
mendengar batuk ini? Sontak Rudi menoleh ke arah pintu. Matanya memicing sigap.
Telinganya juga dipasang ke mode sensitifitas tertinggi. Deru nyamuk dan gesek
daun pun nyaring dirasa. Satu, dua, tiga menit. Tidak ada tanda-tanda langkah
dari dalam. Aman. Rudi kembali mengagumi dansa Sang Asap, yang ajaibnya masih
menyambut Rudi yang lega dengan belaian lembut dan senyum kasih: Batuk kecil
pun tidak mengapa. Aku bebas, layaknya Sang Asap yang menari sepenuh jiwa.
:::::::::::
RODA
karet mati bergesekan dengan lantai keramik dingin rumah sakit. Suaranya tidak
keras. Tidak bising. Hanya saja suara itu terdengar monoton dan konstan. Gumam pelan
terdengar dari segala arah, sesekali berdialog perihal istilah-istilah medis.
Ah, biar saja. Rudi tidak mengerti. Dunia masih gelap di mata. Sementara ini
biarlah Rudi menjadi manusia setengah kelelawar dengan mengandalkan telinganya.
Paduan bunyi-bunyi abstrak itu disusunnya menjadi simfoni bersahaja dalam
pikirnya.
Sampai
pada akhirnya Rudi bisa berjumpa kembali dengan fungsi matanya. Samar terlihat
satu garis cahaya. Lampu neon? Ah, sayang bukan bohlam kuning. Selain warna,
semua hal terasa sama. Hening, lamunan, cahaya. Tapi dari mana? Dari mana
pikiran ini berasal? Rudi mencoba mengingat kembali, menggali ulang tatanan
data dalam dua belah otaknya.
Belum
Rudi sampai pada lembar buku yang dituju, cahaya sudah masuk dengan komplet ke
retinanya. Lampu neon dan eternit dominan putih-biru tua, kelambu hijau lembut,
televisi yang menggantung. Bunyi yang didengar juga terasa pasti. Rangkaian bip pelan teratur, puji-puji syukur
mengisi sekeliling, pembaca berita nasional yang membosankan. Ini pasti rumah
sakit, ujar Rudi dalam hati. Rudi tergeletak di bangsal rumah sakit. Rudi
tergeletak di bangsal rumah sakit karena rokok yang dihisapnya di kampus, entah
kapan. Mungkin beberapa jam yang lalu, mungkin beberapa hari yang lalu. Nanti
saja diingatnya.
“Beri
aku rokok lagi. Biarkan aku keluar. Aku ingin merokok” ujar Rudi lirih. Beberapa
pasang mata yang ada di sekelilingnya mendadak terbelalak bingung dan gusar. Bukankah
Rudi masuk rumah sakit karena rokok yang dihisapnya? Apa yang diinginkan dari
merokok lagi? Apa yang dicarinya dengan
merokok lagi? Sontak hujan peringatan dan nasihat deras membentur telinga
Rudi. Rudi tidak menjawab. Dia terlalu lemah? Tidak. Dia akhirnya mengakui
kesalahannya? Tidak. Lebih dari itu. Lebih jauh, lebih lama dan dalam dari itu.
Setelah nasihat-nasihat itu reda, Rudi kembali mengucap lirih: “Kalau begitu
tolong nyalakan satu batang rokok. Aku tidak akan menghisapnya. Tidak lagi. Aku
hanya ingin melihatnya.”
Sboff, salah satu teman Rudi akhirnya
menuruti permintaannya, tentunya setelah pendingin ruangan dimatikan. Asap
rokok dengan aroma manis khas menyeruak ke seluruh penjuru bangsal. Sang Asap
menari dengan lantunan cahaya neon. Hal itu seakan menjadi pemantik untuk Rudi.
Rudi tersenyum lemah. Sang Asap berdansa dengan sesekali menggoda Rudi, seakan menjawil dagunya manja. Berputar dan
bergoyang membentuk pola fraktal yang infinitif, tak terbatas. Mendaki tebing
imajiner, untuk selanjutnya jatuh bebas membelai pipi Rudi lembut. Senyum Rudi
semakin jelas dan lebar. Matanya terpejam syahdu. Khidmat.
Rudi
bebas. Kembali menikmati masa-masa pemberontaknya: Suara televisi lewat
sembilan malam, lamunan, cahaya lampu, dan Tarian Sang Asap. Rudi menikmatinya.
Sungguh, Rudi menikmatinya. Sekarang tanpa batuk. Tanpa harus takut dan menoleh
secara berkala. Tanpa khawatir ada langkah dari arah kamar orangtuanya. Walau
tergeletak lemah di bangsal sederhana, tidak masalah. Toh, ada harga yang harus
dibayar untuk kebebasannya, entah itu menyelinap keluar kamar atau menghisap
sebatang rokok yang dia bakar.
Selamat
malam dan selamat datang, Rudi.
:::::::::::
Yogyakarta,
27 Februari 2013.
Cokelat
Mint dan Rokok.
Bebas
Selasa, 04 Desember 2012
Introduction to Independent Music Distribution
Taken from an academic report. Further use of any part of this
writings for any reason is prohibited unless you have permission from
the writer, which is me.
Music has always been an integral part of our everyday lives. For as long as the history could remember, music – along with the other forms of art – has been used in every way possible. From political uses such as songs for The Dear Leader Kim Jong Il of North Korea to the usage of current pop songs for product advertisements, music is integrated into our lives both consciously and unconsciously.
Along with the wheel of time, music is changing its forms and uses throughout history. Music had gone a long, long way from being a part of an initiation ritual in the heart of Africa to a money-bearing commodities for recording companies’ CEOs, and even to a background tune in an elevator. Changes in the purpose of music is partly thanks to modernity and the technology for reproducing it. Like Walter Benjamin said in his writings The Work of Art in the Age of Mechanical Reproduction:
“(...)for the first time in world history, mechanical reproduction the work of art from its parasitical dependence on ritual. To an ever greater degree the work of art reproduced become the work of art designed for reproducibility. From a photographic negative, for example, one can make any number of prints: to ask for the “authentic” print makes no sense. But the instant the criterion of authenticity ceases to be applicable to artistic production, the total function of art is reversed. Instead of being based in ritual, it begins to be based on another practice – politic.(...)” (Benjamin, 1969)
From that point on, we can imagine how the work of music in the modern times can lead to music industries. Recording companies that publish and release musicians’ work throughout the world. Those companies are, in one way or another, responsible for what people hear. Music had been commodified along with the rise of capitalism.
With the rise of capitalim and the music industry, came with them the term “popular music” that we usually hear everyday. Music is somewhat standardized with the coming of music industry. Charts are filled with same songs around the world, more bands are influencing other bands to make music, celebrity and public-figure status donned by musicians and artists, and awards are given to those who sell the most. Thanks to them, too, that we can hear music everywhere in the world. The ever-expanding world of business and music industry made music well-distributed to the mass.
Music industry’s power is a close-call to hegemonic power. If a musician won’t make music that’s popular to the crowd, then he or she won’t make a good sale and live from their music. It’s true that there are lots of musicians and artists making music because they like it. It’s also true that lots of them stick to their “idealism” good. That’s why there are subcultures and countercultures. The resistance of some parts aside of the music industry are going their own way to keep making music. Their resistance – be it consciously or unconsciously – is what creates independent movement.
From Bristol to Tokyo, independent music movements – sometimes called “scene” – are growing. There will always be places for those who don’t go on the same path with popular music industry. Indonesia’s the same, too. From the early entry of western music in the first half of the 20th century to the banning of “ngak-ngek-ngok” music to the charts and radio broadcasts filled with similar, cheesy love pop songs in the present day, independent music scenes are there to counter the hegemony of popular music industry, even if they have to move beyond the radar.
Although the roots of Indonesia’s independent music scene can be traced to a distant past, its growth is more seen vividly after the fall of the new-order in 1998. This new “freedom” gave people, especially the youth, to enjoy and make music as the way they like it. New “indie” artists and recording labels were emerging here and there, with Jakarta, Bandung, and Yogyakarta becoming the breeding grounds. Some of the independent artists considered “legendary” in the independent music scene like Pure Saturday, Jasad, Rumahsakit, and the likes are formed in these times. These movements has been continuing until the present day.
The ever-growing independent music scenes in Indonesia is a rather interesting things to observe because of its relations to many other things such as economy, social movements and mobility, youth culture, globalization, etc. However, independent music scenes are somewhat overlooked by experts. The proof of that case is the lack of literatures about that matter. To speculate about the cause of that “lack of interest” is like digging one’s own grave because we can, and we will, end up with infinite amount of things in our mind.
Music has always been an integral part of our everyday lives. For as long as the history could remember, music – along with the other forms of art – has been used in every way possible. From political uses such as songs for The Dear Leader Kim Jong Il of North Korea to the usage of current pop songs for product advertisements, music is integrated into our lives both consciously and unconsciously.
Along with the wheel of time, music is changing its forms and uses throughout history. Music had gone a long, long way from being a part of an initiation ritual in the heart of Africa to a money-bearing commodities for recording companies’ CEOs, and even to a background tune in an elevator. Changes in the purpose of music is partly thanks to modernity and the technology for reproducing it. Like Walter Benjamin said in his writings The Work of Art in the Age of Mechanical Reproduction:
“(...)for the first time in world history, mechanical reproduction the work of art from its parasitical dependence on ritual. To an ever greater degree the work of art reproduced become the work of art designed for reproducibility. From a photographic negative, for example, one can make any number of prints: to ask for the “authentic” print makes no sense. But the instant the criterion of authenticity ceases to be applicable to artistic production, the total function of art is reversed. Instead of being based in ritual, it begins to be based on another practice – politic.(...)” (Benjamin, 1969)
From that point on, we can imagine how the work of music in the modern times can lead to music industries. Recording companies that publish and release musicians’ work throughout the world. Those companies are, in one way or another, responsible for what people hear. Music had been commodified along with the rise of capitalism.
With the rise of capitalim and the music industry, came with them the term “popular music” that we usually hear everyday. Music is somewhat standardized with the coming of music industry. Charts are filled with same songs around the world, more bands are influencing other bands to make music, celebrity and public-figure status donned by musicians and artists, and awards are given to those who sell the most. Thanks to them, too, that we can hear music everywhere in the world. The ever-expanding world of business and music industry made music well-distributed to the mass.
Music industry’s power is a close-call to hegemonic power. If a musician won’t make music that’s popular to the crowd, then he or she won’t make a good sale and live from their music. It’s true that there are lots of musicians and artists making music because they like it. It’s also true that lots of them stick to their “idealism” good. That’s why there are subcultures and countercultures. The resistance of some parts aside of the music industry are going their own way to keep making music. Their resistance – be it consciously or unconsciously – is what creates independent movement.
From Bristol to Tokyo, independent music movements – sometimes called “scene” – are growing. There will always be places for those who don’t go on the same path with popular music industry. Indonesia’s the same, too. From the early entry of western music in the first half of the 20th century to the banning of “ngak-ngek-ngok” music to the charts and radio broadcasts filled with similar, cheesy love pop songs in the present day, independent music scenes are there to counter the hegemony of popular music industry, even if they have to move beyond the radar.
Although the roots of Indonesia’s independent music scene can be traced to a distant past, its growth is more seen vividly after the fall of the new-order in 1998. This new “freedom” gave people, especially the youth, to enjoy and make music as the way they like it. New “indie” artists and recording labels were emerging here and there, with Jakarta, Bandung, and Yogyakarta becoming the breeding grounds. Some of the independent artists considered “legendary” in the independent music scene like Pure Saturday, Jasad, Rumahsakit, and the likes are formed in these times. These movements has been continuing until the present day.
The ever-growing independent music scenes in Indonesia is a rather interesting things to observe because of its relations to many other things such as economy, social movements and mobility, youth culture, globalization, etc. However, independent music scenes are somewhat overlooked by experts. The proof of that case is the lack of literatures about that matter. To speculate about the cause of that “lack of interest” is like digging one’s own grave because we can, and we will, end up with infinite amount of things in our mind.
Jumat, 17 Agustus 2012
Sajak Keberadaan
Bayangkan jika dunia adalah papan tulis besar bernoda bekas hapusan kapur yang tak sempurna.
Mata-Mata yang memandang ke segala arah adalah titik-titik.
Jaringan titik abstrak yang nantinya membentuk pola, mungkin kalimat, mungkin persamaan, mungkin rumus yang pelik.
Tak lebih dari papan tulis besar bernoda bekas hapusan kapur yang tak sempurna, namun bertatahkan matematika.
Sekarang, aku adalah "X" di tengah-tengah rumus aljabar yang setengah jalan, menuju baris lain dari tak terhitung baris.
Cari aku di antara angka, deret angka, kuadrat, pangkat empat, pangkat lima, terus diulang sampai kapurmu habis.
Yang nantinya tidak terhapus dengan sempurna. Menjadi noda. Di antara pola.
-Yogyakarta, 18 Agustus 2012-
Warung kopi 24 jam
Mata-Mata yang memandang ke segala arah adalah titik-titik.
Jaringan titik abstrak yang nantinya membentuk pola, mungkin kalimat, mungkin persamaan, mungkin rumus yang pelik.
Tak lebih dari papan tulis besar bernoda bekas hapusan kapur yang tak sempurna, namun bertatahkan matematika.
Sekarang, aku adalah "X" di tengah-tengah rumus aljabar yang setengah jalan, menuju baris lain dari tak terhitung baris.
Cari aku di antara angka, deret angka, kuadrat, pangkat empat, pangkat lima, terus diulang sampai kapurmu habis.
Yang nantinya tidak terhapus dengan sempurna. Menjadi noda. Di antara pola.
-Yogyakarta, 18 Agustus 2012-
Warung kopi 24 jam
Senin, 06 Agustus 2012
Logika dan Logaritma X Terhadap Rumus Dunia
Waktu itu hari Senin. Sekitar pertengahan bulan Agustus yang terasa lebih panas dari bulan-bulan lainnya. Panas adalah kondisi udara yang terasa menusuk kulit dan menibulkan ketidaknyamanan, khususnya bagi X. Temperatur tinggi dan angin menggebu membuat X melakukan hal yang hanya bisa dilakukan saat tidak bisa melakukan apa-apa: duduk di bangku taman dan terbengong melihat orang-orang yang lewat di sekitarnya. Taman itu berhawa malas. Cocok sekali dengan panas yang dibawa cuaca. Tidak begitu banyak orang di situ. Mungkin hanya beberapa pasangan tua yang berjalan pelan melewati ayunan dan jungkat-jungkit yang juga tua. Berderak sama dengan tua? Mungkin. Sendi-Sendi pasangan tua yang melintas itu juga sudah berderak menyapa era. Mungkin sekedar memberi salam pada masa mereka yang sudah lewat. Satu hal yang menimbulkan perasaan gamang adalah absennya anak kecil di taman itu. Hari senin memang penuh kekosongan. Malas. Panas. Hanya beberapa sendi-sendi tua yang melintas. X juga tua. Masa jayanya juga sudah harus disapa dengan derak sendi-sendi lewat paruh baya.
X memegang secarik kertas berhias banyak coretan dan tulisan tangan. Tulisan tangannya sendiri, tepatnya. Hanya angka-angka yang tersebar acak di permukaannya. 3, 1, 4, 1, 5, 6, 3, 7, 8, 5, banyak. Terlalu acak dan tanpa pola. Anomali yang sekali lagi muncul di hari yang Senin dan panas ini: tidak berpola. Siapapun tahu dan paham kalau semua yang ada di dunia ini berpola. Dari batu karang setengah terkikis di pantai berbukit Dover sampai burung gereja yang terkadang mengejek pemerintah kota seraya membuang kotoran di patung pahlawan perang di tengah taman kota. Pola bisa saja terlihat dengan mata telanjang, bisa juga didengar dengan seksama. Apapun yang bisa diterima dengan indera pasti mempunyai pola. Kita saja sebagai manusia kadang terlalu sombong untuk mencoleknya pelan di bahu. Senin, panas, dan Agustus juga mempunyai pola walaupun terasa samar seperti perasaan si patung yang dijatuhi bom organik burung gereja. X memegang secarik kertas berhias banyak coretan dan tulisan tangan. Tak berpola. Angka acak. Memang aneh hawa panas dan malas ini: mereka bisa mempengaruhi seseorang untuk keluar dari hukum alam yang adalah pola.
Matematikawan memerlukan angka untuk hidup layaknya seekor burung mencari tikus dan serangga untuk memuaskan saluran pencernaannya. Matematika adalah ilmu tentang ketuhanan karena yang dicari adalah hakikat dan makna dari segala yang diciptakan tuhan. Matematika berusaha mencari pola tuhan lewat angka. Tuhan itu angka, ya. Mungkin tuhan itu angka. Atau pola angka. Atau sebuah formula angka yang bisa melakukan dan menciptakan apa saja. X adalah seorang matematikawan. Dia membutuhkan angka untuk hidup. Dia, sebelum dia duduk di bangku taman dan terhanyut dalam hawa malas dan panas hari Senin pertengahan Agustus ini, berjibaku dengan angka dan formula. Mencari tuhan, katanya. Galaksi Bimasakti sampai cangkang siput sampai rasio emas memiliki unsur ketuhanan. X masih mencari tuhan. Segala penemuan dan jejak yang akan membawanya semakin mendekati tuhan dicatat dan diingat lewat coretan dan tulisan yang akhirnya menumpuk secara fisik di rak-rak buku di kamar apartemennya maupun secara nirfisik di kumpulan dokumen-dokumen data biner dalam cakram keras komputernya. Fisik maupun nirfisik, mereka adalah nutrisi bagi X untuk hidup. Untuk selalu berkutat dan mengejar ekor tuhan.
X ada di taman. Duduk diam di bangku taman menghadap beberapa ayunan dan jungkat-jungkit sambil memegang secarik kertas berisi angka acak tanpa pola. Tanpa sadar dia menolak tuhan. Dia menolak tuhan dan sifat ketuhanannya yang paling nyata: maha berpola. Apa yang ditulisnya bukan sekuens Fibonacci. Bukan angka di belakang desimal dari bilangan Pi. Bukan perhitungan rasio emas dari persegi empat banding tiga. Lelah dan malas terkena panas, itulah dia. Meninggalkan sejenak apa yang menjadi tujuan dan kebutuhannya. Melupakan sebentar apa yang mendorongnya dari belakang. X duduk dengan mata terpaku kosong ke depannya. Di dunia yang senantiasa berputar menurut pola. Di tengah pohon-pohon yang memiliki pola dalam setiap pembagian lokasi tangkainya. Di bangku kayu tua yang desainnya yang sederhana berawal dari atas kertas yang bergambar pola. X ada di taman di hari Senin yang panas di pertengahan bulan Agustus. Senin yang adalah titik awal dari rotasi hari kerja. Agustus yang adalah masa akhir dari musim panas dalam sistem kuartal empat musim. X ada di dalam pola. X adalah bagian dari pola. Namun, dia berada di atas kertas berpola tersebut.
Dia melayang di atas pola. Berjarak dari pola.
X sedang menjadi awam. Menjadi tuhan di dunia tanpa pola.
Yogyakarta, 7 Agustus 2012
Warung 24 jam. Baru lewat tengah malam
Tersihir matematika
X memegang secarik kertas berhias banyak coretan dan tulisan tangan. Tulisan tangannya sendiri, tepatnya. Hanya angka-angka yang tersebar acak di permukaannya. 3, 1, 4, 1, 5, 6, 3, 7, 8, 5, banyak. Terlalu acak dan tanpa pola. Anomali yang sekali lagi muncul di hari yang Senin dan panas ini: tidak berpola. Siapapun tahu dan paham kalau semua yang ada di dunia ini berpola. Dari batu karang setengah terkikis di pantai berbukit Dover sampai burung gereja yang terkadang mengejek pemerintah kota seraya membuang kotoran di patung pahlawan perang di tengah taman kota. Pola bisa saja terlihat dengan mata telanjang, bisa juga didengar dengan seksama. Apapun yang bisa diterima dengan indera pasti mempunyai pola. Kita saja sebagai manusia kadang terlalu sombong untuk mencoleknya pelan di bahu. Senin, panas, dan Agustus juga mempunyai pola walaupun terasa samar seperti perasaan si patung yang dijatuhi bom organik burung gereja. X memegang secarik kertas berhias banyak coretan dan tulisan tangan. Tak berpola. Angka acak. Memang aneh hawa panas dan malas ini: mereka bisa mempengaruhi seseorang untuk keluar dari hukum alam yang adalah pola.
Matematikawan memerlukan angka untuk hidup layaknya seekor burung mencari tikus dan serangga untuk memuaskan saluran pencernaannya. Matematika adalah ilmu tentang ketuhanan karena yang dicari adalah hakikat dan makna dari segala yang diciptakan tuhan. Matematika berusaha mencari pola tuhan lewat angka. Tuhan itu angka, ya. Mungkin tuhan itu angka. Atau pola angka. Atau sebuah formula angka yang bisa melakukan dan menciptakan apa saja. X adalah seorang matematikawan. Dia membutuhkan angka untuk hidup. Dia, sebelum dia duduk di bangku taman dan terhanyut dalam hawa malas dan panas hari Senin pertengahan Agustus ini, berjibaku dengan angka dan formula. Mencari tuhan, katanya. Galaksi Bimasakti sampai cangkang siput sampai rasio emas memiliki unsur ketuhanan. X masih mencari tuhan. Segala penemuan dan jejak yang akan membawanya semakin mendekati tuhan dicatat dan diingat lewat coretan dan tulisan yang akhirnya menumpuk secara fisik di rak-rak buku di kamar apartemennya maupun secara nirfisik di kumpulan dokumen-dokumen data biner dalam cakram keras komputernya. Fisik maupun nirfisik, mereka adalah nutrisi bagi X untuk hidup. Untuk selalu berkutat dan mengejar ekor tuhan.
X ada di taman. Duduk diam di bangku taman menghadap beberapa ayunan dan jungkat-jungkit sambil memegang secarik kertas berisi angka acak tanpa pola. Tanpa sadar dia menolak tuhan. Dia menolak tuhan dan sifat ketuhanannya yang paling nyata: maha berpola. Apa yang ditulisnya bukan sekuens Fibonacci. Bukan angka di belakang desimal dari bilangan Pi. Bukan perhitungan rasio emas dari persegi empat banding tiga. Lelah dan malas terkena panas, itulah dia. Meninggalkan sejenak apa yang menjadi tujuan dan kebutuhannya. Melupakan sebentar apa yang mendorongnya dari belakang. X duduk dengan mata terpaku kosong ke depannya. Di dunia yang senantiasa berputar menurut pola. Di tengah pohon-pohon yang memiliki pola dalam setiap pembagian lokasi tangkainya. Di bangku kayu tua yang desainnya yang sederhana berawal dari atas kertas yang bergambar pola. X ada di taman di hari Senin yang panas di pertengahan bulan Agustus. Senin yang adalah titik awal dari rotasi hari kerja. Agustus yang adalah masa akhir dari musim panas dalam sistem kuartal empat musim. X ada di dalam pola. X adalah bagian dari pola. Namun, dia berada di atas kertas berpola tersebut.
Dia melayang di atas pola. Berjarak dari pola.
X sedang menjadi awam. Menjadi tuhan di dunia tanpa pola.
Yogyakarta, 7 Agustus 2012
Warung 24 jam. Baru lewat tengah malam
Tersihir matematika
Langganan:
Postingan (Atom)
