Duduk di samping pak kusir yang sedang bekerja
mengendali kuda supaya baik jalannya
mengambil gitar dan mulai memainkan
sebuah lagu yang semua orang belum tentu tahu
menggarap otak memeras seluruh sel
mencoba mereproduksi semua nada yang terdengar
tenggelam dengan ditemani John Lennon
jangan tarik saya ke permukaan.
Sabtu, 09 Januari 2010
Jumat, 08 Januari 2010
Aku bermimpi tentang air hujan
suara langkah kaki menggetarkan lantai. satu, dua, tiga, hmm mungkin sekitar lima orang sedang berjalan dengan cepat. terburu-buru, suara nafas beradu cepat dengan detak jantung, layaknya ada sebuah kekuatan besar yang tak terlihat sedang mengejar. mereka semua sebenarnya bingung dan pusing. Apa sebenarnya yang mengejar mereka? apa yang mengejar mereka? biarpun itu sebenarnya hal yang mudah untuk dicari tahu tetapi mereka tidak punya sedikitpun keberanian untuk menoleh ke belakang walau hanya sebentar saja. satu hal yang sudah pasti mereka tahu adalah salah seorang teman mereka telah mati dimangsa oleh kekuatan yang tak terlihat tersebut. ketakutan akan mati memang membuat mereka takut tetapi ketakutan akan tidak bisa menolong teman mereka untuk lolos dari kematian itu yang membuat mereka semakin takut. keputus-asaan. despair. desperation. sebuah kata yang sangat indah.
aku berdiri di bawah naungan sebuah halte bus yang sepi. sekarang sudah tengah malam. titik-titik hujan yang dingin mengalir melalui tengkukku dan itu rasanya sangat tidak enak. di sini aku menunggu temanku untuk menjemputku dan membawaku pergi ke tempat yang disebutnya utopia. sejujurnya aku malas untuk bergabung bersamanya karena aku sudah menemukan utopiaku sendiri. tetapi, aku masih menyandang gelar SAHABAT baginya. jelas tidak mungkin aku meninggalkan dia sendiri untuk menikmati utopianya. suara rintik air hujan yang mengenai atap halte ini mengingatkanku sedikit akan kehidupan lamaku. sebuah dunia tanpa sosialisasi, sebuah dunia tanpa sahabat, sebuah dunia tanpa orang lain, sebuah dunia tanpa ada apapun selain aku sendiri. masa-masa tersebut sangat indah.
lima orang tadi akhirnya menemukan pintu keluarnya tepat di depan mereka. secercah harapan mereka temukan. akhirnya mereka percaya bahwa Pandora masih menyisakan harapan di dalam kotaknya saat dia melepaskan semua keburukan dan mara bahaya ke bumi.
dia akhirnya sampai juga di halte. entah mengapa aku merasa lega. ini bukan diriku yang sebenarnya. tapi, yah, aku menyukainya. jika ini semua hanyalah mimpi aku tidak akan keberatan. sekedar menyegarkan pikiran dari dunia nyata memang sangat menyenangkan.
aku berdiri di bawah naungan sebuah halte bus yang sepi. sekarang sudah tengah malam. titik-titik hujan yang dingin mengalir melalui tengkukku dan itu rasanya sangat tidak enak. di sini aku menunggu temanku untuk menjemputku dan membawaku pergi ke tempat yang disebutnya utopia. sejujurnya aku malas untuk bergabung bersamanya karena aku sudah menemukan utopiaku sendiri. tetapi, aku masih menyandang gelar SAHABAT baginya. jelas tidak mungkin aku meninggalkan dia sendiri untuk menikmati utopianya. suara rintik air hujan yang mengenai atap halte ini mengingatkanku sedikit akan kehidupan lamaku. sebuah dunia tanpa sosialisasi, sebuah dunia tanpa sahabat, sebuah dunia tanpa orang lain, sebuah dunia tanpa ada apapun selain aku sendiri. masa-masa tersebut sangat indah.
lima orang tadi akhirnya menemukan pintu keluarnya tepat di depan mereka. secercah harapan mereka temukan. akhirnya mereka percaya bahwa Pandora masih menyisakan harapan di dalam kotaknya saat dia melepaskan semua keburukan dan mara bahaya ke bumi.
dia akhirnya sampai juga di halte. entah mengapa aku merasa lega. ini bukan diriku yang sebenarnya. tapi, yah, aku menyukainya. jika ini semua hanyalah mimpi aku tidak akan keberatan. sekedar menyegarkan pikiran dari dunia nyata memang sangat menyenangkan.
Kamis, 07 Januari 2010
Segregasi dalam prinsip dasar bisa membunuh
Justru dalam pemikiran yang paling mendasar pun ada ketidak kompakan. kebingungan semakin menjadi dengan adanya kebingungan untuk memilih pihak mana yang akan diikuti. Apakah A? Apakah B? Apakah C? masih mungkin bukan jika ada lagi fraksi-fraksi yang akan muncul dari kebimbangan tersebut?
Paham nomor satu adalah Kesendirian. Solitary. memancing keributan hanya karena tidak senang dengan adanya orang lain yang bisa menduduki posisi dirinya dalam dirinya sendiri. Berusaha kuat dengan melawan arus. Berusaha beda dengan bermain api. Berusaha tegar dengan menantang maut. itulah prinsip dasar yang pertama. Paham yang bagus, memang. Tapi, mengapa masih ada yang bisa melawan dominasinya yang notabene merupakan basic trait dari pikiran ini. Apakah saya akan menyinggun kelemahannya? ataukah malah karena kedigdayaannya justru kita bisa menyainginya?
Setelah lama terlena dengan kesendirian muncullah rasa ingin bersosialisasi. Jenuh dengan kebiasaan yang semakin lama mengikis moral dan membuat otak berkapur. menjadi lebih memikirkan another wolves in the wolfpack. Ini sangat membahayakan bagi kesendirian tadi. kehadiran subjek lain yang menginterupsi keasyikan membuat keadaan otak menjadi galau. Menghabiskan waktu dengan subjek itu terasa lebih menyenangkan daripada menenggelamkan diri dalam kesibukan menggambar di tepi sungai maupun memikirkan aransemen lagu di beranda. Kacau. Semua menjadi kacau. menjadi campur aduk.
Lalu kenapa bisa membunuh? Saat muncul situasi yang membutuhkan peran dari keduanya, saat itulah mereka saling membunuh dan menyerang. Beradu kepentingan. Tidak bisa mereka merelakan yang lain untuk mengambil alih. Satu untuk semua, semua untuk satu. Dan pada akhirnya yang lainnya lah yang mengambil alih kekuasaan dan mengacaukan presensi keduanya sampai tiba waktunya mereka membangun kekuatan dan kembali memecah konflik.
Tidak ada yang tersisa kecuali kehancuran. Semua hancur. Kepribadian yang lama muncul kembali. Tidak berperasaan, tak bermoral, tak peduli, tidak memikirkan apa-apa. Yang ditinggalkan merasa terluka, dan yang meninggalkan merasa bangga. Apa saya perlu pergi ke psikiater?
Paham nomor satu adalah Kesendirian. Solitary. memancing keributan hanya karena tidak senang dengan adanya orang lain yang bisa menduduki posisi dirinya dalam dirinya sendiri. Berusaha kuat dengan melawan arus. Berusaha beda dengan bermain api. Berusaha tegar dengan menantang maut. itulah prinsip dasar yang pertama. Paham yang bagus, memang. Tapi, mengapa masih ada yang bisa melawan dominasinya yang notabene merupakan basic trait dari pikiran ini. Apakah saya akan menyinggun kelemahannya? ataukah malah karena kedigdayaannya justru kita bisa menyainginya?
Setelah lama terlena dengan kesendirian muncullah rasa ingin bersosialisasi. Jenuh dengan kebiasaan yang semakin lama mengikis moral dan membuat otak berkapur. menjadi lebih memikirkan another wolves in the wolfpack. Ini sangat membahayakan bagi kesendirian tadi. kehadiran subjek lain yang menginterupsi keasyikan membuat keadaan otak menjadi galau. Menghabiskan waktu dengan subjek itu terasa lebih menyenangkan daripada menenggelamkan diri dalam kesibukan menggambar di tepi sungai maupun memikirkan aransemen lagu di beranda. Kacau. Semua menjadi kacau. menjadi campur aduk.
Lalu kenapa bisa membunuh? Saat muncul situasi yang membutuhkan peran dari keduanya, saat itulah mereka saling membunuh dan menyerang. Beradu kepentingan. Tidak bisa mereka merelakan yang lain untuk mengambil alih. Satu untuk semua, semua untuk satu. Dan pada akhirnya yang lainnya lah yang mengambil alih kekuasaan dan mengacaukan presensi keduanya sampai tiba waktunya mereka membangun kekuatan dan kembali memecah konflik.
Tidak ada yang tersisa kecuali kehancuran. Semua hancur. Kepribadian yang lama muncul kembali. Tidak berperasaan, tak bermoral, tak peduli, tidak memikirkan apa-apa. Yang ditinggalkan merasa terluka, dan yang meninggalkan merasa bangga. Apa saya perlu pergi ke psikiater?
Rabu, 16 Desember 2009
Blinded and Disappearing
I was blinded
I couldn't see the signs
I was blinded
I couldn't feel the cold
I was blinded
I couldn't hear the sounds
I am blind
I can't rule your world
I am blind
I can't get the satisfaction
I am blind
I can't sense the fear
I am disappearing In 10 seconds
One
Two
Three
Four
Five
Six
Seven
Eight
Nine
...
I couldn't see the signs
I was blinded
I couldn't feel the cold
I was blinded
I couldn't hear the sounds
I am blind
I can't rule your world
I am blind
I can't get the satisfaction
I am blind
I can't sense the fear
I am disappearing In 10 seconds
One
Two
Three
Four
Five
Six
Seven
Eight
Nine
...
Senin, 07 Desember 2009
The Cold Water
Tell me that your world's going round
Passing my world this time
Imagine that your world's going round
It's going past mine again
Don't ever stop, don't ever turn back time
Stay like this forever
Don't try to run, don't try to rest your arms
I'm around because you're around
I placed my bets on the fire
I played my games on the sky
Realized, now
Sleep
Water flows, it goes smoothly
Passing my world (again) this time
Cryptic messages flooded the board, i see
Got nothing to do with me
You run, then i run, and you run, and i run
flowing beside the water's line
And all i feel
Full
I placed my bets on the fire
I played my games on the sky
Realized, now
Sleep
Tell me that your world's going round
Tell me that your world's going round
Tell me that your world's going round
Like cold water
Passing my world this time
Imagine that your world's going round
It's going past mine again
Don't ever stop, don't ever turn back time
Stay like this forever
Don't try to run, don't try to rest your arms
I'm around because you're around
I placed my bets on the fire
I played my games on the sky
Realized, now
Sleep
Water flows, it goes smoothly
Passing my world (again) this time
Cryptic messages flooded the board, i see
Got nothing to do with me
You run, then i run, and you run, and i run
flowing beside the water's line
And all i feel
Full
I placed my bets on the fire
I played my games on the sky
Realized, now
Sleep
Tell me that your world's going round
Tell me that your world's going round
Tell me that your world's going round
Like cold water
Langganan:
Postingan (Atom)
