Senin, 13 Juli 2009

Happy family, Is it even possible?

I am going to somewhere without my old man. He dumped us all. I hope they'll divorce soon.

With love,

Your son.

The greatest day in my life

Today, 13th of july 2009, is the greatest day in my life.
It ends beautifully.

And i realize it's just a dream.

Fuck.

Sabtu, 11 Juli 2009

Summer heat wave didn't reach me

I saw my own reflection on the lake's surface. All i saw was a pathetic aging man, which i know it's true. I sensed no life at all in its eye. It just stared at me blankly. I felt kinda scared but i realized it's my own face. Although i saw a little sorrow in it. It's not sorrow, actually. It's more like hatred and malice. I wanted to brush that expression out of my face. Gotta throw a stone or else so it'd be rippled. Of course it'd ripple but it became sharper and more frightening the instant the small waves disappeared. All i could do was smile bluntly, knowing that i've become a pathetic thing.

The woods were stranger than before. A lot stranger. I was easily tricked and lost. I felt a bit weird because the panic attack didn't grasp me at all. I found peace there. I hoped that it would neutralize me.

I saw my own reflection on the lake's surface, again. All i saw was still the same. a pathetic aging man, which i know it's true. I felt no life at all. Still staring at me blankly. But i wasn't scared at all then. I know that it's not sorrow. It's my deepest intentions. My intention to hate. My intention to bring malice. I knew what suits me best. And i kept that thing inside my deepest mind. Locked it up. Threw the key away.

The summer's heat didn't reach me. It can't reach me.

Jumat, 10 Juli 2009

When sunshines go beyond the trees and enlighten the forest's floor

Water flows gracefully, wiping dirts on the shore.
Water runs calmly, and many people come to adore.
Water bends silently, Tricking the eyes which cannot see
The river's stream's so calm, letting the mind to go out free.

I want peace. I see peace.

Senin, 06 Juli 2009

Semua orang menjadi bayangan

Kursi kosong semua. Kereta ini terasa lebih sepi dibandingkan tadi pagi. Sekarang deru mesin dan raungan rel terasa keras. Kaca pecah terlihat seperti ornamen yang tak kalah dengan gereja katedral. Angin sedikit berhembus dari lubang di jendela itu. Menambah dingin yang ditimbulkan oleh lampu-lampu jalan yang mengintip dengan penasaran dari luar sana. Malam ini amat sangat kosong. Aku, kertas, dan pulpen. Menulis ternyata mudah. Bayang-bayang dan inspirasi melaju saling mendahului. Terdiam. Terpaku. Hampa. Kebingungan datang lebih dari yang dibayangkan. Tangan tidak bergerak sama sekali menunggu perintah otak. Apa gunanya pulpen dan kertas itu kalau begitu?

Satu stasiun terlewatkan. Tadi terlihat gerombolan pengemis dan pengembara kota besar berjejalan di pelataran stasiun, berusaha mencari utopia mereka sendiri. Yah, memang untuk sebagian besar orang hal tersebut malah terlihat aneh. Tapi tidak untuk mereka. Setiap malam mereka mencari surga mereka sendiri. Beda tempat, beda waktu, beda suasana. Untuk mereka surga ada dimana-mana sedangkan kita setiap hari berjuang keluar masuk neraka untuk mencoba menggapai surga yang tak tentu dimana.

Kereta bersinggungan dengan sebuah jalan protokol. Terlihat palang pembatas mencegah orang-orang agar tidak mati dengan bodoh. Kalian tahu apa yang terjadi jika satu bingkai besi dihajar oleh 150 kilometer/jam baja? yang tidak beruntung akan selalu dikenang sebagai urban legend daerah itu. Lalu lintas disini masih lumayan ramai. Rupanya masih banyak orang yang menunggu sampai peraturan pemerintah itu habis masa berlakunya. Tanpa sengaja meeka menghabisi harapan dan doa orang-orang yang menggantungkan hidupnya pada ibu jari mereka. Ya, ibu jari yang mengisyaratkan agar pengendara mobil berhenti dan memberikan uang pada mereka jika mereka mau menemani melewati jalan raya tanpa kehilangan lebih banyak uang. Hidup benar-benar dinamis di kota ini.

Aku bisa melihat tujuan akhirku dari sini. Lampu stasiun yang remang-remang dan barisan penjual rokok yang berusaha melawan kantuk sudah dipastikan akan menyambt kedatanganku. Ini bukan pertama kalinya aku sendiri dalam satu gerbong ini. Aku memang tidak selalu sendiri, tetapi keberadaan orang lain dalam gerbong ini juga jarang sekali. Aku bersiap-siap turun. Koran itu sebaiknya kutinggalkan saja. Toh, besok pagi sudah tidak ada dimana-mana.

Pintu terbuka. Kulangkahkan kaki ke depan. Aroma segar tanah sehabis hujan menyapa dengan diam. Aku menarik nafas dalam-dalam. Satu, Dua, Tiga. Aku kembali menatap dunia. tempat dimana kenyataan pahit mengkamuflasekan diri dengan gelak tawa. Aku tidak ingin keluar dari kereta. Berharap gerbong kosong itu akan kembali terbuka dan menarikku ke stasiun akhir. melewati perjalanan diatas rel tanpa batas. Hanya disitulah aku bisa menunjuk. Dan hanya disitulah aku tak akan ditunjuk. Menjadi pusat duniaku sendiri.

Dimana semua orang adalah bayangan.